Stagflasi Menghantui

Rabu, 20 Juli 2022 - 18:24 WIB
Harga minyak mentah, gas, minyak sawit, bahan pangan, energi, dan barang substitusi misalnya, telah tergerek naik dan telah memantik eskalasi masalah. Setalian dengan itu, perubahan iklim global, juga turut menyeret kompleksitas problema, sehingga angka pengangguran dan kemiskinan segera akan membubung. Padahal, pandemi Covid-19 dan dampak sosial ekonominya, juga masih jauh disebut pulih.

Per definisi, stagflasi merupakan varian dari konjungtor ekonomi yang setiap rentang waktu tertentu menghantui aktivitas ekonomi makro. Di saat inflasi merangkak naik, kemudian diiringi pertumbuhan ekonomi nasional bergerak turun, stagflasi mulai membayangi. Ihwal ini kian mengkhawatirkan jika disertai tingginya angka pengangguran.

Fenomena ini tentu agak berbeda saat kontraksi ekonomi pada masa pandemi Covid-19 (2020 dan 2021) lalu, yaitu pertumbuhan rendah atau minus, diiringi pengangguran tinggi serta konsumsi rumah tangga melemah, sehingga berdampak pada laju inflasi bergerak rendah.

Namun, sejak invasi Rusia ke Ukraina, otomatis rantai pasokan terganggu, sehingga cost-push inflation makin nyata. Asumsi makro harga minyak US$63 per barel yang dipatok APBN 2022, telah mendorong terkereknya harga minyak dunia menjadi di atas USD100 per barrel. Indonesia merupakan net importir minyak mentah, di mana produksinya hanya 700.000 barel bph. Sementara, konsumsinya 1,4 juta bph hingga 1,5 juta bph.

Demikian pula pada gas. Pada 2021, Indonesia mengimpor gas dari AS sebesar 3,78 juta ton. Angka tersebut porsinya 58,93% dari total impor gas nasional. Padahal, Indonesia memiliki sumber daya energi yang bisa menjadi bahan bakar alternatif pengganti LPG, seperti batu bara, yang dilakukan proses gasifikasi menjadi Dimethyl Ether (DME) dan gas alam yang melimpah di Tanah Air. Tentu, jika kondisi itu terus berlangsung memicu defisit minyak dan gas untuk selalu mengandalkan impor.

Di sisi pengeluaran, memberikan tekanan pada APBN 2022. Dengan target defisit APBN 4,85%, alokasi anggaran subsidi energi Rp134,02 triliun, terdiri dari subsidi jenis BBM tertentu dan LPG 3 kg sebesar Rp77,54 triliun serta subsidi listrik Rp56,47 triliun.

Meroketnya harga minyak dan gas ini akan terus memantik kenaikan harga pada bulan-bulan berikutnya. Mengonfirmasi riset Maybank dalam IHK (Indeks Harga Konsumen), bobot energi menyumbang 10–18%: Indonesia (17,5%), Filipina (14,8#), Malaysia (13,7%), dan Thailand (12%).
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!