Mitigasi Krisis

Senin, 25 Mei 2026 - 10:06 WIB
loading...
Mitigasi Krisis
Candra Fajri Ananda Wakil Ketua Badan Supervisi OJK. Foto/SindoNews
A A A
Candra Fajri Ananda
Wakil Ketua Badan Supervisi OJK

SEJARAH di berbagai negara mencatat bahwa krisis ekonomi sering kali datang bukan secara tiba-tiba, melainkan diawali oleh akumulasi kerentanan yang berkembang perlahan di tengah kondisi ekonomi yang tampak stabil. Dalam konteks tersebut, krisis pada hakikatnya merupakan kondisi ketika sistem perekonomian mengalami gangguan serius sehingga tidak mampu menjalankan fungsi-fungsi dasarnya secara stabil dan berkelanjutan.

Hyman Minsky dalam Stabilizing an Unstable Economy (1986) menjelaskan bahwa krisis sering muncul akibat akumulasi ketidakseimbangan finansial yang berkembang secara perlahan di tengah kondisi ekonomi yang tampak stabil. Sementara itu, Paul Krugman menegaskan bahwa hilangnya kepercayaan pasar terhadap fundamental ekonomi, seperti stabilitas nilai tukar dan kapasitas pemerintah mengelola ekonomi, dapat menjadi pemicu utama terjadinya krisis. Artinya, krisis merupakan refleksi dari melemahnya keseimbangan ekonomi yang ditandai oleh meningkatnya ketidakpastian, penurunan aktivitas ekonomi, serta terganggunya kesejahteraan masyarakat secara luas.

Pada analisis ekonomi makro, krisis umumnya diamati melalui berbagai variabel moneter dan fiskal yang menunjukkan tingkat kesehatan perekonomian suatu negara. Dari sisi moneter, indikator yang sering digunakan meliputi inflasi, suku bunga acuan, nilai tukar, cadangan devisa, kondisi perbankan, hingga tingkat pengangguran. Kenaikan inflasi yang tinggi, depresiasi nilai tukar, serta melemahnya sektor keuangan sering menjadi sinyal awal munculnya tekanan ekonomi.

Di sisi lain, variabel fiskal yang penting diperhatikan antara lain defisit anggaran, rasio utang pemerintah terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), penerimaan pajak, belanja negara, dan kapasitas pembiayaan APBN. Carmen Reinhart dan Kenneth Rogoff dalam penelitiannya tahun 2009 mengingatkan bahwa krisis ekonomi di berbagai negara kerap diawali oleh penumpukan utang yang terus membesar, melemahnya disiplin pengelolaan fiskal, serta menurunnya kemampuan pemerintah menjaga keberlanjutan pembiayaan negara.

Kondisi tersebut perlahan menciptakan tekanan terhadap stabilitas ekonomi hingga akhirnya memicu kerentanan yang dapat berkembang menjadi krisis yang lebih luas. Sebab itu, krisis modern perlu dipahami sebagai fenomena multidimensi yang lahir dari interaksi kompleks antara kebijakan moneter, kebijakan fiskal, stabilitas sektor keuangan, dan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap perekonomian nasional.

Pelajaran Krisis untuk Indonesia

Krisis ekonomi 1998 menjadi salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah perekonomian Indonesia karena memberikan pelajaran bahwa pertumbuhan ekonomi yang tinggi belum tentu mencerminkan ketahanan ekonomi yang kuat. Pada masa tersebut, Indonesia menghadapi tekanan besar akibat melemahnya nilai tukar rupiah, tingginya ketergantungan terhadap utang luar negeri, serta rapuhnya kondisi sektor perbankan nasional.

Nilai tukar rupiah yang pada periode 1996 hingga pertengahan 1997 masih relatif stabil di kisaran Rp2.300 – Rp2.500 per dolar AS kemudian mengalami depresiasi secara drastis hingga sempat menembus lebih dari Rp16.000 per dolar AS pada puncak krisis 1998. Pelemahan tersebut memicu lonjakan inflasi nasional hingga mencapai sekitar 77,6 persen pada 1998 serta menyebabkan perekonomian Indonesia mengalami kontraksi sekitar 13,1 persen.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Kebangkitan Sepak Bola...
Kebangkitan Sepak Bola Asia: Pelajaran untuk Pembangunan Ekonomi
Stabilitas Harga Rupiah...
Stabilitas Harga Rupiah Pasca BI Rate Naik (Lagi)
Mengapa ‘Ekonomi Solid’,...
Mengapa ‘Ekonomi Solid’, Namun Sosial-Politik Mulai Gelisah?
Istana Terima Tuntutan...
Istana Terima Tuntutan BEM SI Jateng Soal Kuatkan Rupiah, tapi...
Fokus Belanja Negara
Fokus Belanja Negara
Sri Gusni: Pergantian...
Sri Gusni: Pergantian Pimpinan BGN Harus Jadi Momentum Pembenahan Menyeluruh Program MBG
Warga Pertanyakan Perubahan...
Warga Pertanyakan Perubahan Aliran Kali Cikokol dan Luas Taman Potret
Krisis Keuangan, PBB...
Krisis Keuangan, PBB Terancam Bangkrut
Rupiah Sentuh Rp17.963,...
Rupiah Sentuh Rp17.963, Hari Ini Berakhir Sedikit Menguat Lawan Dolar AS
Rekomendasi
Arie Untung Dorong Sepatu...
Arie Untung Dorong Sepatu Lokal Naik Kelas, Hadir di Mal Bekasi
Penelitian Unair: Galon...
Penelitian Unair: Galon Polikarbonat Tak Terkait Gangguan Hormon hingga Kanker
Nada Kemenangan Rusia...
Nada Kemenangan Rusia Berubah Drastis ketika Ukraina Terapkan Taktik Asimetris
Berita Terkini
Bukan Soal Gugatan Ditolak,...
Bukan Soal Gugatan Ditolak, Dharma Pongrekun: Perjuangan Saya Memastikan Kekuasaan Tetap Dibatasi Konstitusi
Soroti Dugaan Suap BEM...
Soroti Dugaan Suap BEM UBK, Didi Mahardhika Minta Gerakan Mahasiswa Jaga Integritas
Pakar Hukum Sebut Kasus...
Pakar Hukum Sebut Kasus Roy Suryo Tidak Memenuhi Syarat Deponering
Kapolri Lantik Kakorlantas...
Kapolri Lantik Kakorlantas Baru dan 6 Kapolda, Ini Daftarnya
Kemlu: Dubes RI untuk...
Kemlu: Dubes RI untuk Iran Hadiri Pemakaman Ali Khamenei
Bambang Saputra: Musyawarah...
Bambang Saputra: Musyawarah Harus Jadi Dasar Pembentukan UU
Infografis
Krisis Kepercayaan pada...
Krisis Kepercayaan pada F-35 Dorong Eropa Kembangkan Jet Tempur Gen 6
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved