Pertumbuhan yang Berdampak

Senin, 11 Mei 2026 - 10:24 WIB
loading...
Pertumbuhan yang Berdampak
Candra Fajri Ananda, Wakil Ketua Badan Supervisi OJK. Foto/Dok.SindoNews
A A A
Candra Fajri Ananda
Wakil Ketua Badan Supervisi OJK

FENOMENA yang sering disebut sebagai “kutukan 5 persen” menggambarkan kondisi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang cenderung di situ-situ saja, belum mampu mengalami akselerasi secara signifikan selama lebih dari satu dekade terakhir. Pertumbuhan ekonomi nasional memang relatif terjaga di kisaran lima persen, pada Triwulan I-2026 tercatat tumbuh sebesar 5,61 persen secara tahunan.

Capaian tersebut seharusnya menunjukkan adanya tren perubahan struktural perekonomian di mana perekonomian lebih didorong oleh peningkatan produktivitas, inovasi, maupun penguatan daya saing industri nasional.

Aktivitas ekonomi Indonesia hingga kini masih banyak ditopang oleh konsumsi domestik dan faktor musiman, sehingga fondasi pertumbuhan jangka panjang belum terbentuk secara optimal. Pertumbuhan ekonomi yang baik, harus diikuti oleh transformasi ekonomi yang lebih produktif, efisien, dan berbasis nilai tambah tinggi.

Permasalahan mendasar yang menghambat percepatan ekonomi Indonesia berkaitan erat dengan rendahnya produktivitas, tingginya biaya logistik, serta persoalan kelembagaan yang belum sepenuhnya terselesaikan. Biaya distribusi antardaerah yang tinggi menyebabkan rantai pasok nasional menjadi kurang efisien dan memunculkan disparitas harga di berbagai wilayah.

Selain itu, hambatan birokrasi, kompleksitas perizinan, dan praktik korupsi masih menjadi faktor yang memengaruhi iklim investasi dan efisiensi dunia usaha. Meskipun pemerintah telah melakukan berbagai reformasi kebijakan, struktur pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga kini masih sangat bergantung pada konsumsi rumah tangga yang berkontribusi lebih dari separuh Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.

Sementara kontribusi investasi produktif relatif lebih terbatas. Ketergantungan terhadap konsumsi menunjukkan bahwa penguatan kapasitas produksi, efisiensi industri, dan ekspansi investasi belum menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan.

Di tengah tantangan tersebut, sektor industri pengolahan yang selama ini menjadi tulang punggung industrialisasi nasional justru menunjukkan kecenderungan melemah. Kontribusi industri pengolahan terhadap PDB Indonesia kini berada di bawah 20 persen, meski sektor ini masih menjadi penyumbang terbesar bagi perekonomian nasional dan tumbuh sekitar 5 persen pada Triwulan I-2026.

Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa Indonesia perlu berupaya secara serius untuk mencegah deindustrialisasi prematur, di mana sektor manufaktur belum mampu berkembang menjadi motor utama transformasi ekonomi dan produktifitas nya masih rendah.

Paradoks Ekonomi Indonesia


Di tengah berbagai tantangan struktural dan tekanan ekonomi global yang masih membayangi perekonomian nasional, dinamika ekonomi Indonesia pada awal tahun 2026 menunjukkan perkembangan yang cukup positif dan patut diapresiasi. Capaian tersebut menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi domestik masih relatif kuat di tengah ketidakpastian geopolitik global, perlambatan perdagangan dunia, dan tingginya volatilitas harga komoditas internasional.

Salah satu faktor utama yang menopang pertumbuhan tersebut adalah meningkatnya belanja pemerintah secara signifikan. Di mana Komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah tumbuh sebesar 21,81 persen (yoy), menjadi pertumbuhan tertinggi di antara seluruh komponen pengeluaran Produk Domestik Bruto (PDB).
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Mega Korupsi Penegak...
Mega Korupsi Penegak Hukum Merusak Ekonomi Negara
Membaca Arah Baru Fleksibilitas...
Membaca Arah Baru Fleksibilitas Fiskal Indonesia
FSP BUMN Bersatu Sebut...
FSP BUMN Bersatu Sebut Gelombang PHK Cerminkan Persoalan Struktural Ekonomi Nasional
Prabowo: Selat Hormuz...
Prabowo: Selat Hormuz Ditutup, Kita Percaya Diri Mampu Mengatasi
Kebangkitan Sepak Bola...
Kebangkitan Sepak Bola Asia: Pelajaran untuk Pembangunan Ekonomi
Qodari: Stimulus Tarif...
Qodari: Stimulus Tarif Transportasi Dikucurkan saat Libur Sekolah dan Nataru
Orang Super Kaya Indonesia...
Orang Super Kaya Indonesia Diramal Melonjak Tercepat di Dunia, tapi Kelas Menengah Menyusut
Defisit APBN 2026 Diprediksi...
Defisit APBN 2026 Diprediksi Bengkak Jadi Rp734,3 Triliun, Setara 2,85% PDB
Sektor Industri Bermasalah,...
Sektor Industri Bermasalah, RI Rawan Disalip Vietnam Jadi Negara Berpenghasilan Tinggi
Rekomendasi
Kontroversi Meletus...
Kontroversi Meletus antara Apple dan OpenAI, Apakah Itu?
Lisa BLACKPINK Kepergok...
Lisa BLACKPINK Kepergok Makan Malam Bareng Pria Misterius dan Keluarga, Punya Pacar Baru?
4 Alasan Mojataba Ingin...
4 Alasan Mojataba Ingin Balas Dendam Kematian Ayahnya, Ingin Mewujudkan Kemenangan Total
Berita Terkini
ASN Diizinkan Antar...
ASN Diizinkan Antar Anak di Hari Pertama Sekolah, Menteri PANRB: Tak Boleh Mengurangi Kualitas Pelayanan Publik
30 Pati TNI AU Naik...
30 Pati TNI AU Naik Pangkat, Danlanud Sultan Hasanuddin Pecah Bintang
Kejagung Janji Profesional...
Kejagung Janji Profesional Usut Kasus Dugaan Korupsi Febrie Adriansyah
BMKG Prediksi Curah...
BMKG Prediksi Curah Hujan Tetap Rendah di Wilayah Indonesia pada Pertengahan Juli 2026
Prabowo Panggil Menhan,...
Prabowo Panggil Menhan, Kapolri, hingga Jaksa Agung di Istana Malam Ini, Ada Apa?
Kasus Febrie Adriansyah...
Kasus Febrie Adriansyah Dilimpahkan ke Kejagung, Pakar: Proses Hukum Harus Transparan
Infografis
Profil Andi Saputra,...
Profil Andi Saputra, Hakim Ad Hoc Tipikor yang Sampaikan Dissenting Opinion Vonis Nadiem
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved