Makna Oligarki dan Ciri-cirinya, Indonesia Termasuk Tipe Mana?
Senin, 23 Mei 2022 - 08:35 WIB
Kunci dari konsep oligarki adalah kekayaan. Kelompok orang-orang yang sangat kaya berusaha menjangkau kekuasaan melalui beragam saluran, baik itu politik, ekonomi, hukum, dan lainnya, agar bisa mempertahankan atau bahkan meningkatkan lagi kekayaannya.
Baca juga: Fahri Hamzah: Tiket Pilpres 2024 Sudah Ada di Tangan Para Oligarki
Oligarki dan demokrasi bisa berjalan beriringan. Dengan kekayaan yang dimiliki, para oligark melalui kanal-kanal demokrasi bisa duduk di posisi-posisi strategis, baik di legislatif, eksekutif, yudikatif, maupun birokrasi. Dengan begitu, mereka bisa mengendalikan kekuasaan untuk kepentingannya.
Menurut Winters ada empat ciri utama dari oligarki. Masing-masing ciri itu adalah, tingkat keterlibatan langsung oligarki dalam pemaksaan hak atas harta dan kekayaan, keterlibatan oligarki pada kekuasaan atau pemerintahan, sifat keterlibatan dalam memaksa apakah kolektif atau terpecah, dan sifat liar atau jinak.
Dari ciri-ciri itu, Winters menggolongkan empat tipe oligarki. Masing-masing Oligarki Panglima (Warring Oligarchy), Oligarki Penguasa Kolektif (Ruling Oligarchy), Oligarki Sultanistik (Sultanistic Oligarchy), dan Oligarki Sipil (Civilian Oligarchy). Apa perbedaan dari masing-masing tipe oligarki tersebut? Berikut ini penjelasannya:
1. Oligarki Panglima
Tipe oligarki ini mengandalkan kekuatan untuk merebut kekuasaan. Antar oligark bersaing untuk menjadi penguasa. Karena itu, biasanya kekuasaan tidak berlangsung lama karena akan ada oligark lain yang bersiap merebutnya. Contoh dari Oligarki Panglima adalah Kekaisaran Byzantium, di mana kekuasaan tidak turun-temurun tapi jatuh ke tangan panglima paling kuat. Juga Kesultanan Mamluk di Mesir, di mana pergantian kekuasaan berjalan sangat cepat. Para penguasa menjadi kaya melalui penaklukan. Semakin banyak yang ditaklukkan, maka semakin kaya.
Baca juga: Fahri Hamzah: Tiket Pilpres 2024 Sudah Ada di Tangan Para Oligarki
Oligarki dan demokrasi bisa berjalan beriringan. Dengan kekayaan yang dimiliki, para oligark melalui kanal-kanal demokrasi bisa duduk di posisi-posisi strategis, baik di legislatif, eksekutif, yudikatif, maupun birokrasi. Dengan begitu, mereka bisa mengendalikan kekuasaan untuk kepentingannya.
Menurut Winters ada empat ciri utama dari oligarki. Masing-masing ciri itu adalah, tingkat keterlibatan langsung oligarki dalam pemaksaan hak atas harta dan kekayaan, keterlibatan oligarki pada kekuasaan atau pemerintahan, sifat keterlibatan dalam memaksa apakah kolektif atau terpecah, dan sifat liar atau jinak.
Dari ciri-ciri itu, Winters menggolongkan empat tipe oligarki. Masing-masing Oligarki Panglima (Warring Oligarchy), Oligarki Penguasa Kolektif (Ruling Oligarchy), Oligarki Sultanistik (Sultanistic Oligarchy), dan Oligarki Sipil (Civilian Oligarchy). Apa perbedaan dari masing-masing tipe oligarki tersebut? Berikut ini penjelasannya:
1. Oligarki Panglima
Tipe oligarki ini mengandalkan kekuatan untuk merebut kekuasaan. Antar oligark bersaing untuk menjadi penguasa. Karena itu, biasanya kekuasaan tidak berlangsung lama karena akan ada oligark lain yang bersiap merebutnya. Contoh dari Oligarki Panglima adalah Kekaisaran Byzantium, di mana kekuasaan tidak turun-temurun tapi jatuh ke tangan panglima paling kuat. Juga Kesultanan Mamluk di Mesir, di mana pergantian kekuasaan berjalan sangat cepat. Para penguasa menjadi kaya melalui penaklukan. Semakin banyak yang ditaklukkan, maka semakin kaya.
Lihat Juga :