Neraca Perdagangan Catatkan Surplus
Rabu, 17 Juni 2020 - 07:13 WIB
NPI memang mencatatkan surplus, namun masih keok terhadap China dan sejumlah negara lain. Tercatat, NPI surplus terhadap Amerika Serikat (AS) sebesar USD4,05 miliar, India USD2,53 miliar, Belanda USD934 juta. Sebaliknya, NPI mengalami defisit terhadap China sebesar USD4,60 miliar, Thailand USD1,32 miliar, dan Australia USD753 juta. Kalau melihat data yang ada, kinerja ekspor dan impor Indonesia pada bulan lalu didominasi Negeri Panda. Ekspor Indonesia yang ditujukan ke China sekitar 17,04%. Adapun komoditas utama yang dikirim ke Tiongkok adalah besi dan baja, bahan bakar mineral, dan pulp.
Setelah China menjadi tujuan utama ekspor Indonesia menyusul Negeri Paman Sam yang menyerap sekitar 11.84%, berikutnya Jepang sebesar 8,69%, Singapura sekitar 6,56%, India 6,53%, serta Uni Eropa 8,92%. Adapun impor dari Negeri Tirai bambu mencapai 28,13%, diikuti Jepang 10,04%, Singapura 6,59%, dan Thailand 6,19% serta Uni Eropa 7,73%. Impor utama dari Tiongkok meliputi bawang putih hingga laptop.
Secara kumulatif dari Januari hingga Mei 2020 NPI mencatat surplus USD4,31 miliar. Angka tersebut masih lebih baik dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu dengan defisit sekitar USD2,7 miliar. Meski surplus NPI bulan lalu tidak terlalu menggembirakan, pihak Bank Indonesia (BI) memandang pencapaian itu sebagai kontribusi positif dalam menjaga ketahanan eksternal perekonomian Indonesia. Karena itu, bank sentral senantiasa akan terus memperkuat sinergi kebijakan dengan pemerintah dan otoritas terkait. Meski roda perekonomian nasional baru mulai berputar lagi, dukungan kinerja ekonomi menunjukkan posisi positif, mulai dari NPI yang surplus bulan lalu, aliran modal asing telah masuk kembali, dan fluktuasi kurs rupiah terhadap dolar AS relatif terkendali. Kita berharap diiringi pula oleh angka kasus baru Covid-19 yang melandai.
Setelah China menjadi tujuan utama ekspor Indonesia menyusul Negeri Paman Sam yang menyerap sekitar 11.84%, berikutnya Jepang sebesar 8,69%, Singapura sekitar 6,56%, India 6,53%, serta Uni Eropa 8,92%. Adapun impor dari Negeri Tirai bambu mencapai 28,13%, diikuti Jepang 10,04%, Singapura 6,59%, dan Thailand 6,19% serta Uni Eropa 7,73%. Impor utama dari Tiongkok meliputi bawang putih hingga laptop.
Secara kumulatif dari Januari hingga Mei 2020 NPI mencatat surplus USD4,31 miliar. Angka tersebut masih lebih baik dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu dengan defisit sekitar USD2,7 miliar. Meski surplus NPI bulan lalu tidak terlalu menggembirakan, pihak Bank Indonesia (BI) memandang pencapaian itu sebagai kontribusi positif dalam menjaga ketahanan eksternal perekonomian Indonesia. Karena itu, bank sentral senantiasa akan terus memperkuat sinergi kebijakan dengan pemerintah dan otoritas terkait. Meski roda perekonomian nasional baru mulai berputar lagi, dukungan kinerja ekonomi menunjukkan posisi positif, mulai dari NPI yang surplus bulan lalu, aliran modal asing telah masuk kembali, dan fluktuasi kurs rupiah terhadap dolar AS relatif terkendali. Kita berharap diiringi pula oleh angka kasus baru Covid-19 yang melandai.
(mhd)