Kampus Mengajar
Jum'at, 12 Maret 2021 - 05:10 WIB
Menurut Gramsci (1972) yang mempunyai pandangan bahwa tidak akan mungkin kesadaran kelas terjadi, jika tidak disadarkan oleh orang lain, barangkali sedang terjadi. Bagi Gramsci, proses penyadaran kelas sesungguhnya tidak terjadi secara natural. Konon, revolusi harus diciptakan dan dipersiapkan sedemikian rupa. Kampus Mengajar harus menjawab pertanyaan Gramsci tentang siapa yang patut memberikan penyadaran kelas dan bagaimana cara menyadarkannya.
Mencerahkan Diri
Ironisnya, bagaimana jika Kampus Mengajar mengalami ketidaksadaran diri atas perilaku yang mirip dengan kelas pekerja? Kaum intelektual kini sebagai pelaku Kampus Mengajar mengalami ketidaksadaran atas perilaku berbasis proyek yang jauh dari nilai-nilai idealismenya. Padahal, pandangan Gramsci selalu menekankan tentang peran kaum intelektual untuk selalu memberi penyadaran dan pencerahan kelas. Kaum intelektual yang ada dalam kelompok civil society atau kelompok masyarakatlah yang harus menjadi roda penggerak kejujuran melalui agenda Kampus Mengajar.
Melalui Kampus Mengajar, kaum intelektual harus berani menebarkan kejujuran. Manipulasi kesadaran jangan terjadi pada kaum intelektual karena akan menjadi tamparan bagi komunitasnya. Tugas kaum intelektual harus terus menerus guna membangun kesadaran kelas dan jangan sampai kesadarannya teralienasi akut. Ia harus mengedepankan nilai dan moralitas yang selama ini didengungkan. Karena pemilik simbol intelektual melekat pada diri intelektual sehingga jangan sampai melakukan kerja akal tanpa moral atau bahkan melakukan pengkhianatan kaum intelektual.
Barangkali tepat pandangan Michel Foucault bahwa komitmen intelektual untuk mempertanyakan ketidakadilan dan menyuarakan kebenaran tidak cukup. Kaum intelektual harus memiliki komitmen terhadap dirinya sendiri untuk tidak ingkar terhadap posisinya. Pandangan kaum intelektual harus “cerah” agar tidak masuk golongan intelektual yang dulu digambarkan Gramsci sebagai kaum terpelajar yang mampu memberikan pencerahan dan penyadaran semata atau yang disebut dengan organic intellectual.
Dalam benak penulis, jangan sampai tragedi intelektual terlahir kembali gara-gara terjebak nafsu material yang kian membuncah. Di mana menurut istilah Gramsci adalah tipe intelektual yang bersifat traditional intellectual atau intelektual yang menjadi kaki tangan kaum kapitalis ataupun aparatus pemerintah. Rasa cemas ini karena sesungguhnya, sadar atau tidak sadar, kaum intelektual saat ini banyak terjebak menjadi bagian dari tujuan kapitalis dan aparatur pemerintahan. Pada akhirnya, tugas mulia kaum intelektual untuk melakukan penyadaran kelas hanya menjadi ilusi tanpa aksi.
Mencerahkan Diri
Ironisnya, bagaimana jika Kampus Mengajar mengalami ketidaksadaran diri atas perilaku yang mirip dengan kelas pekerja? Kaum intelektual kini sebagai pelaku Kampus Mengajar mengalami ketidaksadaran atas perilaku berbasis proyek yang jauh dari nilai-nilai idealismenya. Padahal, pandangan Gramsci selalu menekankan tentang peran kaum intelektual untuk selalu memberi penyadaran dan pencerahan kelas. Kaum intelektual yang ada dalam kelompok civil society atau kelompok masyarakatlah yang harus menjadi roda penggerak kejujuran melalui agenda Kampus Mengajar.
Melalui Kampus Mengajar, kaum intelektual harus berani menebarkan kejujuran. Manipulasi kesadaran jangan terjadi pada kaum intelektual karena akan menjadi tamparan bagi komunitasnya. Tugas kaum intelektual harus terus menerus guna membangun kesadaran kelas dan jangan sampai kesadarannya teralienasi akut. Ia harus mengedepankan nilai dan moralitas yang selama ini didengungkan. Karena pemilik simbol intelektual melekat pada diri intelektual sehingga jangan sampai melakukan kerja akal tanpa moral atau bahkan melakukan pengkhianatan kaum intelektual.
Barangkali tepat pandangan Michel Foucault bahwa komitmen intelektual untuk mempertanyakan ketidakadilan dan menyuarakan kebenaran tidak cukup. Kaum intelektual harus memiliki komitmen terhadap dirinya sendiri untuk tidak ingkar terhadap posisinya. Pandangan kaum intelektual harus “cerah” agar tidak masuk golongan intelektual yang dulu digambarkan Gramsci sebagai kaum terpelajar yang mampu memberikan pencerahan dan penyadaran semata atau yang disebut dengan organic intellectual.
Dalam benak penulis, jangan sampai tragedi intelektual terlahir kembali gara-gara terjebak nafsu material yang kian membuncah. Di mana menurut istilah Gramsci adalah tipe intelektual yang bersifat traditional intellectual atau intelektual yang menjadi kaki tangan kaum kapitalis ataupun aparatus pemerintah. Rasa cemas ini karena sesungguhnya, sadar atau tidak sadar, kaum intelektual saat ini banyak terjebak menjadi bagian dari tujuan kapitalis dan aparatur pemerintahan. Pada akhirnya, tugas mulia kaum intelektual untuk melakukan penyadaran kelas hanya menjadi ilusi tanpa aksi.
Lihat Juga :