INDONESIA CENTRUM: Ijtihad PMII Hadapi Kemajuan Teknologi
Senin, 15 Februari 2021 - 06:25 WIB
Kondisi dunia yang seperti itu, tentu sedikit banyak menimbulkan keterasingan, yang dalam padangan Marx, keterasingan bukan hanya berarti bahwa manusia tidak mengalami dirinya sendiri sebagai subjek, tetapi juga berarti bahwa dunia tetap asing bagi manusia. Manusia yang semakin bergantug pada teknologi semakin ia tidak bisa menjadi dirinya sendiri, dan semakin sedikit dari dirinya yang asli yang dapat diperolehnya. Apalagi teknologi yang ada hanya menghamba pada kepentingan industri yang berkuasa.
Dalam pola-pola kebangkitan dan keruntuhan peradaban, teknologi merupakan salah satu tantangan yang perlu dijawab. Sebagai dinamika pokok alam semesta, jawaban terhadap tantangan tersebut menentukan hidup-matinya sebuah komunitas manusia. Termasuk di dalamnya adalah organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang dituntut untuk sesegera mungkin memformulasikan jawaban atas tantangan itu.
Tentu dibutuhkan tanggapan kreatif yang mendorong PMII memasuki proses peradaban itu, dan hanya kreatifitaslah yang dapat menumbuh suburkan pergerakan supaya tidak statis. Kreatifitas yang melahiran fleksibilitas inilah yang menjadi elemen penting, dalam pandangan Arnold Toynbee, sebagai tenaga budaya agar pergerakan PMII tidak runtuh.
Ijtihad Menjawab Tantangan
PMII menjadikan Ahli Sunnah Wal Jama’ah (ASWAJA) sebagai manhaj al-fikr dan manhaj al-harakah, didalamnya mengandung segudang khazanah keilmuan Islam yang dapat dijadikan sebagai landasan teoritis dan praktis. Khazanah itulah yang menjadi bekal bagi kader-kader PMII untuk melakukan ijtihad dalam rangka mejawab tantangan teknologi.KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dalam buku Islam Kosmopolitan, mengurai dasar-dasar kehidupan menurut ASWAJA, yang salah satunya adalah pandangan terhadap ilmu, pengetahuan dan tekonologi. Menurut Gus Dur, Penyatuan ilmu dan pengetahuan akan membentuk watak kehidupan manusia yang memiliki arah yang benar (menuju kesempurnaan diri di sisi Allah SWT), tetapi juga masih diabdikan kepada kepentingan manusia itu sendiri dan teknologi, sebagai buah dari Ilmu Pengetahuan bertugas untuk melestarikan kehidupan,, bukan malah sebaliknya.
Dalam pola-pola kebangkitan dan keruntuhan peradaban, teknologi merupakan salah satu tantangan yang perlu dijawab. Sebagai dinamika pokok alam semesta, jawaban terhadap tantangan tersebut menentukan hidup-matinya sebuah komunitas manusia. Termasuk di dalamnya adalah organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang dituntut untuk sesegera mungkin memformulasikan jawaban atas tantangan itu.
Tentu dibutuhkan tanggapan kreatif yang mendorong PMII memasuki proses peradaban itu, dan hanya kreatifitaslah yang dapat menumbuh suburkan pergerakan supaya tidak statis. Kreatifitas yang melahiran fleksibilitas inilah yang menjadi elemen penting, dalam pandangan Arnold Toynbee, sebagai tenaga budaya agar pergerakan PMII tidak runtuh.
Ijtihad Menjawab Tantangan
PMII menjadikan Ahli Sunnah Wal Jama’ah (ASWAJA) sebagai manhaj al-fikr dan manhaj al-harakah, didalamnya mengandung segudang khazanah keilmuan Islam yang dapat dijadikan sebagai landasan teoritis dan praktis. Khazanah itulah yang menjadi bekal bagi kader-kader PMII untuk melakukan ijtihad dalam rangka mejawab tantangan teknologi.KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dalam buku Islam Kosmopolitan, mengurai dasar-dasar kehidupan menurut ASWAJA, yang salah satunya adalah pandangan terhadap ilmu, pengetahuan dan tekonologi. Menurut Gus Dur, Penyatuan ilmu dan pengetahuan akan membentuk watak kehidupan manusia yang memiliki arah yang benar (menuju kesempurnaan diri di sisi Allah SWT), tetapi juga masih diabdikan kepada kepentingan manusia itu sendiri dan teknologi, sebagai buah dari Ilmu Pengetahuan bertugas untuk melestarikan kehidupan,, bukan malah sebaliknya.
Lihat Juga :