Ekonomi Kedelai Bukan Masalah Kelas Tempe
Kamis, 14 Januari 2021 - 04:35 WIB
Melihat besarnya total kebutuhan sebesar 2,8 juta ton dengan impor sebesar 2,67 juta ton, maka sebuah fakta bahwa sebagian besar kebutuhan kedelai nasional dipenuhi oleh impor. Kedelai impor berkisar 95,4% dan hanya kurang dari 5% merupakan produksi dalam negeri. BPS mencatat pada awal 2019 produksi kedelai domestik hanya 0,98 juta ton, sangat jauh dari kebutuhan kedelai nasional.
Beberapa hal yang menjadi penyebab rendahnya produktivitas tanaman kedelai di Indonesia adalah semakin sempitnya lahan pertanian tanaman kedelai serta kondisi iklim tropis yang tidak cocok untuk menghasilkan produktivitas optimal. Made Astawan, Guru Besar Bidang Pangan dan Kesehatan IPB University yang juga menjabat sebagai Ketua Forum Tempe Indonesia menyebutkan bahwa produktivitas kedelai di Indonesia hanya sekitar 50% dibandingkan produktivitas kedelai di Amerika Serikat. Hal ini berkaitan dengan kedelai yang lebih cocok ditanam di iklim subtropis dengan penyinaran matahari sekitar 16 jam sedangkan di Indonesia hanya 12 jam. Jika di negeri Paman Sam tiap hektare lahan dapat menghasilkan rata-rata 4 ton, maka di Indonesia hanya berkisar 1,5-2 ton.
Selain iklim, tingginya komposisi ongkos produksi tanaman kedelai juga lebih tinggi dibandingkan tanaman pangan lain seperti padi sawah, padi ladang dan jagung. Menurut BPS, pada setiap hektare lahan produktif, akan menghasilkan nilai produksi kedelai sebesar Rp10.274.310,- dengan ongkos produksi sebesar Rp9.045.850. Proporsi ongkos produksi dibandingkan nilai produksi tanaman kedelai sebesar 88,04% dan hanya memberikan keuntungan pada petani sebesar 11,96% pada tiap musim tanam per hektare lahan. Hal ini tentu di bawah keuntungan jika lahan produktif ditanami jagung yang dapat memberikan keuntungan sebesar 29,12%, padi sawah sebesar 26,77% dan padi ladang sebesar 21,27%. Tingginya ongkos produksi kedelai menyebabkan petani lebih memilih tanaman lain di lahan produktifnya.
Politik Ekonomi Kedelai
Polemik mogoknya pengusaha tempe tahu pada awal 2021 ini membuat masyarakat berspekulasi tentang kondisi ekonomi dan politik nasional. Kembali dipertanyakan berbagai kebijakan pemerintah berkaitan dengan perdagangan dan impor kedelai serta kemampuan pemerintah dalam melindungi pengusaha dan konsumen produk berbahan baku kedelai.
Masalah politik ekonomi kedelai bukan saja ditentukan oleh kebijakan nasional semata. Hal ini disebabkan kedelai sebagai komoditas impor yang melibatkan hubungan antarnegara serta dipengaruhi oleh perdagangan global. Dominasi impor kedelai Indonesia dari Amerika Serikat pada akhir 2020 diguncang oleh keterbatasan stok dan kenaikan harga.
Berdasarkan Food and Agriculture Organization (FAO), AS merupakan negara penghasil kedelai dengan jumlah paling besar di dunia dengan produksi lebih dari 119,52 juta ton per tahun. Negara lain penghasil kedelai dengan jumlah yang besar lainnya adalah Brasil, Argentina, China dan India.
Aksi protes pengusaha tahu tempe dengan mogok berproduksi sangat mengagetkan bagi masyarakat apalagi jika ini dikaitkan dengan fakta kenaikan harga kedelai pada pasar global serta permasalahan stok nasional karena tidak adanya pasokan (supply) impor dari AS pada akhir 2020. Kenaikan harga yang cukup tinggi pada pasar global sebenarnya sudah terjadi semenjak awal tahun lalu, tapi mencapai puncak kenaikan pada Desember 2020, yaitu sebesar 37,65%. Lonjakan harga ini dipengaruhi oleh tiga hal, yaitu penurunan produksi karena efek La Nina, pulihnya permintaan kedelai dari China dan dampak pandemi Covid-19.
Beberapa hal yang menjadi penyebab rendahnya produktivitas tanaman kedelai di Indonesia adalah semakin sempitnya lahan pertanian tanaman kedelai serta kondisi iklim tropis yang tidak cocok untuk menghasilkan produktivitas optimal. Made Astawan, Guru Besar Bidang Pangan dan Kesehatan IPB University yang juga menjabat sebagai Ketua Forum Tempe Indonesia menyebutkan bahwa produktivitas kedelai di Indonesia hanya sekitar 50% dibandingkan produktivitas kedelai di Amerika Serikat. Hal ini berkaitan dengan kedelai yang lebih cocok ditanam di iklim subtropis dengan penyinaran matahari sekitar 16 jam sedangkan di Indonesia hanya 12 jam. Jika di negeri Paman Sam tiap hektare lahan dapat menghasilkan rata-rata 4 ton, maka di Indonesia hanya berkisar 1,5-2 ton.
Selain iklim, tingginya komposisi ongkos produksi tanaman kedelai juga lebih tinggi dibandingkan tanaman pangan lain seperti padi sawah, padi ladang dan jagung. Menurut BPS, pada setiap hektare lahan produktif, akan menghasilkan nilai produksi kedelai sebesar Rp10.274.310,- dengan ongkos produksi sebesar Rp9.045.850. Proporsi ongkos produksi dibandingkan nilai produksi tanaman kedelai sebesar 88,04% dan hanya memberikan keuntungan pada petani sebesar 11,96% pada tiap musim tanam per hektare lahan. Hal ini tentu di bawah keuntungan jika lahan produktif ditanami jagung yang dapat memberikan keuntungan sebesar 29,12%, padi sawah sebesar 26,77% dan padi ladang sebesar 21,27%. Tingginya ongkos produksi kedelai menyebabkan petani lebih memilih tanaman lain di lahan produktifnya.
Politik Ekonomi Kedelai
Polemik mogoknya pengusaha tempe tahu pada awal 2021 ini membuat masyarakat berspekulasi tentang kondisi ekonomi dan politik nasional. Kembali dipertanyakan berbagai kebijakan pemerintah berkaitan dengan perdagangan dan impor kedelai serta kemampuan pemerintah dalam melindungi pengusaha dan konsumen produk berbahan baku kedelai.
Masalah politik ekonomi kedelai bukan saja ditentukan oleh kebijakan nasional semata. Hal ini disebabkan kedelai sebagai komoditas impor yang melibatkan hubungan antarnegara serta dipengaruhi oleh perdagangan global. Dominasi impor kedelai Indonesia dari Amerika Serikat pada akhir 2020 diguncang oleh keterbatasan stok dan kenaikan harga.
Berdasarkan Food and Agriculture Organization (FAO), AS merupakan negara penghasil kedelai dengan jumlah paling besar di dunia dengan produksi lebih dari 119,52 juta ton per tahun. Negara lain penghasil kedelai dengan jumlah yang besar lainnya adalah Brasil, Argentina, China dan India.
Aksi protes pengusaha tahu tempe dengan mogok berproduksi sangat mengagetkan bagi masyarakat apalagi jika ini dikaitkan dengan fakta kenaikan harga kedelai pada pasar global serta permasalahan stok nasional karena tidak adanya pasokan (supply) impor dari AS pada akhir 2020. Kenaikan harga yang cukup tinggi pada pasar global sebenarnya sudah terjadi semenjak awal tahun lalu, tapi mencapai puncak kenaikan pada Desember 2020, yaitu sebesar 37,65%. Lonjakan harga ini dipengaruhi oleh tiga hal, yaitu penurunan produksi karena efek La Nina, pulihnya permintaan kedelai dari China dan dampak pandemi Covid-19.
Lihat Juga :