Petani Tebu yang Belum Merdeka

Jum'at, 24 Juli 2026 - 21:17 WIB
Merujuk data BPS, impor tetes Indonesia pada 2025 mencapai 37,92 ribu ton dan impor etanol sebesar 2.577 ton. Impor ini lebih kecil dari tahun sebelumnya. Pada 2024 impor tetes mencapai 50,49 ribu ton dan impor etanol sebesar 10.415 ton. Pada 2025, ekspor tetes Indonesia mencapai 742 ribu ton dan ekspor etanol sebesar 47 ribu ton. Ekspor ini lebih besar dari tahun sebelumnya. Pada 2024, ekspor tetes Indonesia mencapai 495 ribu ton dan ekspor tetes sebesar 39,7 ribu ton. Mengapa harga tetes pada 2025 rendah?

Sepertinya penyebabnya tidak hanya faktor domestik. Saat itu, produksi tetes di negara-negara eksportir sedang melimpah, seperti di Thailand, India, dan Filipina. Ketika industri etanol dan pengguna tetes melambat, kelebihan tetes tidak terserap dan membanjiri pasar. Stok domestik menumpuk. Seperti terkena pukulan ganda, baik dari pasar regional maupun domestik, harga tetes pun tersungkur.

Awal musim giling tahun ini, Mei 2026, harga tetes mulai membaik: Rp1.600 per kg. Saat ini, Juli 2026, harga bergerak antara Rp1.700 hingga Rp2.000 per kg. Tergantung kualitas. Lelang tetes di Lampung, kata Khabsyin, menyentuh harga Rp2.200 per kg. Impor lebih terkendali setelah Kementerian Perdagangan menerbitkan Permendag 18/2026 tentang Perubahan Kedua atas Permendag 16/2025 tentang Kebijakan dan Pengaturan Impor. Regulasi berubah setelah APTRI maraton berdialog dan mengadvokasi ke sejumlah pihak. Di aturan baru itu impor tetes tebu dan etanol masuk dalam pengendalian.

Produksi tetes nasional mencapai 1,827 juta ton pada 2025, naik dari tahun 2021 yang sebesar 1,51 juta ton (tumbuh 5,23% per tahun). Seperti gula, produksi tetes dominan dari pabrik gula (PG) di Jawa, mencapai 69,46% tahun 2025. Pasokan dan kebutuhan tetes tergambar dari data Perkumpulan Industri Pengguna Tetes Tebu (PIPTT) pada 2023 yang dimuat Jurnal GULA, Juni 2026. Dengan produksi tetes 1,511 juta ton dan ekspor 820 ribu ton, tersisa 691 ribu ton. Di sisi lain, kebutuhan mencapai 985 ribu ton.

Merujuk data PIPTT, 985 ribu ton tetes itu terdistribusi untuk produksi etanol 500 ribu ton, bumbu masak atau monosodium glutamat (MSG) 425 ribu ton, dan yeast 60 ribu ton. Jadi, pada 2023 terjadi defisit tetes sekitar 294 ribu ton. Merujuk data BPS, pada 2023 Indonesia mengimpor tetes 57,46 ribu ton, yang mayoritas (71,87%) didatangkan dari Mesir. Situasi ini memunculkan paradoks: produksi tetes Indonesia sebetulnya surplus, tapi industri pengguna kekurangan karena separuh tetes diekspor.

Absennya regulasi yang mengatur alokasi tetes untuk kebutuhan domestik berbuah fluktuasi pasokan untuk industri pengguna: etanol, MSG, dan yeast. Dampaknya langsung ditransmisikan hingga di tingkat PG dan petani tebu. Harga tetes yang jatuh membuat PG kehilangan salah satu sumber pendapatan tambahan untuk menutup biaya produksi gula yang tinggi. Bagi petani idem ditto: jatuhnya harga tetes berarti semakin kecil penerimaan yang didapatkan dari hasil giling tebu.

Harga tetes tebu yang fluktuatif menambah lapisan kerentanan baru pada industri gula nasional. Kondisi tahun 2025 dapat menjadi cermin yang baik untuk perenungan. Selain tetes, lelang gula juga lesu. Rerata harga lelang gula 2025 mencapai Rp14.950/kg, di atas harga acuan pembelian di produsen Rp14.500/kg. Harga acuan pembelian sejak 2024 belum berubah. Di sisi lain, biaya produksi, seperti sewa lahan, tenaga kerja, dan pupuk, terus naik. Biaya produksi makin tinggi tatkala krisis di Selat Hormuz. Harga retail pada 2025 tetap jauh di atas harga lelang: Rp17.912–18.603/kg. Ada selisih Rp2.800–3.200/kg atau sekitar 16–17% yang dinikmati pelaku perdagangan-distribusi.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!