10 Tahun Arbitrase Laut China Selatan Tak Mempan, Saatnya Mulai Perundingan COC
Sabtu, 18 Juli 2026 - 19:15 WIB
Ia menyebut, negara-negara ASEAN bersama China terus melanjutkan pembahasan naskah COC. Termasuk soal mengenai mekanisme pengelolaan krisis. kerja sama maritim, dan pembangunan kepercayaan.
Dari perspektif tata kelola kawasan, COC membantu mengurangi risiko insiden di laut, memperkuat mekanisme komunikasi krisis, meningkatkan transparansi aktivitas maritim, serta menyediakan kerangka kelembagaan bagi pengelolaan sengketa.
Menurutnya, bagi Indonesia, dukungan terhadap perundingan COC tidak hanya selaras dengan kepentingan menjaga stabilitas kawasan, tetapi juga mencerminkan komitmen terhadap tata kelola keamanan regional yang dipimpin oleh ASEAN.
"Artinya, kemajuan dalam penyusunan COC akan membuka peluang bagi transformasi Laut China Selatan dari kawasan sengketa menjadi kawasan kerja sama," ujar Banyu Perwita.
Ia menambahkan, hanya melalui dialog, pembangunan aturan bersama, dan kerja sama yang saling menguntungkan, Laut China Selatan dapat berkembang menjadi kawasan yang mendukung konektivitas, kemakmuran bersama, dan perdamaian yang berkelanjutan. Ini lebih realistis dan dibutuhkan dibandingkan menjadi garis depan persaingan geopolitik yang semakin tajam.
"ASEAN dan China patut mentransformasikan kawasan Laut China Selatan dari 'arena kontestasi' menjadi 'arena kolaborasi'," tegas Banyu.
Dari perspektif tata kelola kawasan, COC membantu mengurangi risiko insiden di laut, memperkuat mekanisme komunikasi krisis, meningkatkan transparansi aktivitas maritim, serta menyediakan kerangka kelembagaan bagi pengelolaan sengketa.
Menurutnya, bagi Indonesia, dukungan terhadap perundingan COC tidak hanya selaras dengan kepentingan menjaga stabilitas kawasan, tetapi juga mencerminkan komitmen terhadap tata kelola keamanan regional yang dipimpin oleh ASEAN.
"Artinya, kemajuan dalam penyusunan COC akan membuka peluang bagi transformasi Laut China Selatan dari kawasan sengketa menjadi kawasan kerja sama," ujar Banyu Perwita.
Ia menambahkan, hanya melalui dialog, pembangunan aturan bersama, dan kerja sama yang saling menguntungkan, Laut China Selatan dapat berkembang menjadi kawasan yang mendukung konektivitas, kemakmuran bersama, dan perdamaian yang berkelanjutan. Ini lebih realistis dan dibutuhkan dibandingkan menjadi garis depan persaingan geopolitik yang semakin tajam.
"ASEAN dan China patut mentransformasikan kawasan Laut China Selatan dari 'arena kontestasi' menjadi 'arena kolaborasi'," tegas Banyu.
(shf)
Lihat Juga :