Tiga Poin Penting dalam Ciptakan Generasi Lebih Baik
Senin, 21 September 2020 - 15:48 WIB
Presiden Joko Widodo menargetkan angka stunting pada 2024 turun hingga 14%. Oleh karena itu, perlu langkah di luar kebiasaan atau extraordinary untuk mencapai target yang ambisius itu.
Menurut Muhajir, BKKBN merupakan lembaga yang bertanggung jawab terhadap masalah perencanaan keluarga. BKKBN salah satu lembaga yang bisa diperankan sebagai backbone (tulang punggung) dalam upaya menangani stunting.
Perencanaan keluarga baru atau perencanaan calon pengantin sangat berperan penting dalam menurunkan angka stunting. Untuk itu revitalisasi program perencanaan keluarga harus digalakkan.
Menurut Hasto Wardoyo, mencegah stunting dimulai dari hulu dengan memberi konseling pra nikah, mencegah terjadinya stunting dan memberi pemahaman tentang kesehatan reproduksi. Program perencanaan kehamilan untuk menjaga jarak kehamilan yang juga menentukan kualitas anak, dan perencanaan pranikah.
Perencanaan pra nikah perlu ada edukasi tentang kesehatan reproduksi yang baik dan mempersiapkan kehamilan yang sehat. Pendekatan tersebut perlu dilakukan sejak dini, termasuk persiapan psikologi dan ekonomi.
Pemberian ASI selama enam bulan pertama adalah cara terbaik untuk memenuhi kebutuhan gizi anak. Ketika gizi anak dapat dipenuhi, maka pertumbuhannya akan optimal. Ketika pertumbuhannya optimal, maka kita akan mempunyai generasi yang sehat, cerdas, dan produktif yang akan membawa Indonesia menjadi negara maju di masa yang akan datang, disampaikan Wakil Presiden KH Maruf Amin pada saat webinar Pekan ASI Sedunia (12/8/2020).
Lebih dari setengah anak-anak di Indonesia tidak memperoleh haknya untuk mendapatkan ASI eksklusif. Ini menjadi pekerjaan rumah bagi kita bersama untuk terus mendorong dan mendukung ibu-ibu dapat memberikan ASI selama enam bulan pertama dan dilanjutkan hingga anak berusia dua tahun.
Agar kesadaran menyusui meningkat, Wapres berharap seluruh jajaran terkait untuk memberikan dukungan kepada para ibu dan keluarganya dalam membangun kepercayaan diri tentang proses menyusui, memberikan konseling tentang mengatasi tantangan dalam menyusui dan menciptakan lingkungan yang ramah untuk seorang ibu menyusui anaknya. Pada masa pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) ini, konselor menyusui yang terampil juga harus dapat memastikan agar akses ke layanan konseling menyusui tidak terganggu pelayanannya.
Setiap tahun hampir sebanyak dua juta pasangan menikah dan 80 persennya hamil ditahun pertama yaitu sekitar 1,6 juta ibu hamil. Pasangan usia subur (PUS) merupakan pasangan yang belum paham bagaimana cara menyusui yang benar. Kelompok inilah merupakan target sasaran yang tepat untuk menurunkan angka stunting, menurut Hasto.
Dukungan terhadap ibu menyusui sangat di butuhkan saat ini, data Riset Kesehatan Dasar 2018 menyebut capaian inisiasi menyusui dini sebesar 58,2%. Sementara itu, berdasarkan data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017, diketahui bayi usia kurang dari 6 bulan yang mendapatkan ASI eksklusif baru mencapai 52%.
Menurut Muhajir, BKKBN merupakan lembaga yang bertanggung jawab terhadap masalah perencanaan keluarga. BKKBN salah satu lembaga yang bisa diperankan sebagai backbone (tulang punggung) dalam upaya menangani stunting.
Perencanaan keluarga baru atau perencanaan calon pengantin sangat berperan penting dalam menurunkan angka stunting. Untuk itu revitalisasi program perencanaan keluarga harus digalakkan.
Menurut Hasto Wardoyo, mencegah stunting dimulai dari hulu dengan memberi konseling pra nikah, mencegah terjadinya stunting dan memberi pemahaman tentang kesehatan reproduksi. Program perencanaan kehamilan untuk menjaga jarak kehamilan yang juga menentukan kualitas anak, dan perencanaan pranikah.
Perencanaan pra nikah perlu ada edukasi tentang kesehatan reproduksi yang baik dan mempersiapkan kehamilan yang sehat. Pendekatan tersebut perlu dilakukan sejak dini, termasuk persiapan psikologi dan ekonomi.
Pemberian ASI selama enam bulan pertama adalah cara terbaik untuk memenuhi kebutuhan gizi anak. Ketika gizi anak dapat dipenuhi, maka pertumbuhannya akan optimal. Ketika pertumbuhannya optimal, maka kita akan mempunyai generasi yang sehat, cerdas, dan produktif yang akan membawa Indonesia menjadi negara maju di masa yang akan datang, disampaikan Wakil Presiden KH Maruf Amin pada saat webinar Pekan ASI Sedunia (12/8/2020).
Lebih dari setengah anak-anak di Indonesia tidak memperoleh haknya untuk mendapatkan ASI eksklusif. Ini menjadi pekerjaan rumah bagi kita bersama untuk terus mendorong dan mendukung ibu-ibu dapat memberikan ASI selama enam bulan pertama dan dilanjutkan hingga anak berusia dua tahun.
Agar kesadaran menyusui meningkat, Wapres berharap seluruh jajaran terkait untuk memberikan dukungan kepada para ibu dan keluarganya dalam membangun kepercayaan diri tentang proses menyusui, memberikan konseling tentang mengatasi tantangan dalam menyusui dan menciptakan lingkungan yang ramah untuk seorang ibu menyusui anaknya. Pada masa pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) ini, konselor menyusui yang terampil juga harus dapat memastikan agar akses ke layanan konseling menyusui tidak terganggu pelayanannya.
Setiap tahun hampir sebanyak dua juta pasangan menikah dan 80 persennya hamil ditahun pertama yaitu sekitar 1,6 juta ibu hamil. Pasangan usia subur (PUS) merupakan pasangan yang belum paham bagaimana cara menyusui yang benar. Kelompok inilah merupakan target sasaran yang tepat untuk menurunkan angka stunting, menurut Hasto.
Dukungan terhadap ibu menyusui sangat di butuhkan saat ini, data Riset Kesehatan Dasar 2018 menyebut capaian inisiasi menyusui dini sebesar 58,2%. Sementara itu, berdasarkan data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017, diketahui bayi usia kurang dari 6 bulan yang mendapatkan ASI eksklusif baru mencapai 52%.
tulis komentar anda