Menata Demokrasi Produktif untuk Kesejahteraan Lintas Generasi

Rabu, 03 Juni 2026 - 07:16 WIB
Namun, kemampuan pemerintah daerah dalam menerjemahkan agenda pembangunan tidak hanya ditentukan oleh kapasitas birokrasi, melainkan juga oleh kualitas demokrasi lokal itu sendiri. Setelah lebih dari dua dekade desentralisasi, Indonesia telah berhasil mendekatkan proses pengambilan keputusan kepada masyarakat. Akan tetapi, kedekatan tersebut belum selalu diikuti oleh kemampuan menghasilkan pembangunan yang konsisten dan berorientasi jangka panjang.

Tidak sedikit daerah yang masih terjebak dalam siklus politik elektoral yang pendek, di mana energi pemerintahan lebih banyak terserap untuk menjaga dukungan politik dibanding membangun fondasi kesejahteraan yang berkelanjutan.

Dalam perspektif Daron Acemoglu dan James Robinson melalui konsep The Narrow Corridor, kemajuan sebuah bangsa ditentukan oleh kemampuannya menjaga keseimbangan antara negara yang kuat dan masyarakat yang kuat. Negara yang terlalu dominan berisiko melahirkan otoritarianisme, sementara masyarakat yang kuat tanpa institusi negara yang efektif justru menghasilkan fragmentasi dan lemahnya kapasitas pembangunan.

Koridor sempit itulah yang memungkinkan kebebasan politik berjalan beriringan dengan efektivitas pemerintahan. Dalam konteks Indonesia, demokrasi lokal akan menghasilkan manfaat yang optimal apabila kompetisi politik tidak menggerus kemampuan negara untuk menjalankan agenda pembangunan secara konsisten. Maka penting Demokrasi lokal dioperasionalkan untuk menjaga kesinambungan tujuan pembangunan di tengah pergantian tersebut.

Kepala daerah boleh berganti, partai politik boleh berganti, tetapi komitmen terhadap peningkatan kualitas pendidikan, penciptaan lapangan kerja, penguatan ekonomi lokal, dan pembangunan sumber daya manusia harus tetap berada pada jalur yang sama.

Demokrasi yang produktif adalah demokrasi yang mampu mengubah kompetisi politik menjadi kolaborasi pembangunan jangka panjang. Pada akhirnya, demokrasi selalu berbicara tentang bagaimana tiap generasi berperan dalam mengisinya. jika generasi 1998 memperjuangkan demokrasi politik, maka tantangan generasi hari ini adalah memastikan demokrasi mampu mengubah bonus demografi menjadi kesejahteraan. Sebab Generasi Alpha kelak tidak akan menilai demokrasi dari seberapa sering pemilu diselenggarakan, melainkan dari seberapa besar peluang hidup yang berhasil diwariskan kepada mereka.
(jon)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!