Sepotong Video dan Dengung Warganet
Selasa, 03 Februari 2026 - 10:10 WIB
Potongan video itu kemudian tersebar dengan caption yang seakan-akan Sekjen Kemenag tidak peka dan peduli terhadap guru honorer madrasah swasta. Sekjen dinilai tidak memahami sistem dan tata Kelola madrasah. Sekjen dianggap lari dari tanggung jawab. Bahkan, Sekjen dituduh menghina pengabdian panjang guru honorer madrasah swasta.
Lihat, betapa menganganya jurang antara maksud statemen Sekjen dengan respons terhadapnya. Di satu sisi, Sekjen membicarakan tentang kekuatan anggaran Kemenag dalam memenuhi tuntutan para guru honorer madrasah swasta dengan segala konsekuensinya, di sisi lain, respon atas statemen tersebut menggesernya menjadi isu lari dari tanggung jawab dan penghinaan terhadap pengabdian guru. Dari mana jurang ini tiba-tiba muncul?
Pernah pada suatu masa, Jurgen Habermas, salah seorang filosof Mazhab Kritis, mengidealisasi ruang publik. Menurutnya, ruang public adalah tempat praktik komunikasi intersubjektif terjadi, di mana rasionalitas kritis tumbuh. Fakta dan kebenaran diperdebatkan secara terbuka dan rasional. Namun, ruang publik sebagai tempat berlangsungnya praktik demokrasi melalui komunikasi kritis yang setara itu kini telah menjadi mitos.
Saat ini, ruang publik itu termediasi oleh platform-platform digital, diamplifikasi secara algoritmik, di mana orang hanya didekatkan pada informasi yang diinginkan, sesalah apapun informasi itu, dan dijauhkan dari informasi yang tak diinginkan, sebenar apapun informasi itu. Orang hanya hidup dalam ruangnya sendiri tanpa disadari. Dia seakan-akan berkomunikasi dengan bayak orang melalui beragam platform digital, tapi yang didengarkan bukanlah suara yang menantang pandangannya, tapi yang terus menguatkan pandangannya. Suara orang lain itu bukan lagi subjek kritis yang berkomunikasi dengannya, tapi hanyalah tembok yang memantulkan gema suaranya sendiri. Inilah yang disebut dengan fenomena echo chamber.
Dalam konteks ini, kebenaran menjadi runtuh bukan karena hilangnya fakta. Fakta itu masih ada di sana. Tapi, mekanisme untuk mengenali fakta menjadi semakin rumit. Saking rumitnya sampai antara fakta dan opini menjadi sangat samar.
Lihat, betapa menganganya jurang antara maksud statemen Sekjen dengan respons terhadapnya. Di satu sisi, Sekjen membicarakan tentang kekuatan anggaran Kemenag dalam memenuhi tuntutan para guru honorer madrasah swasta dengan segala konsekuensinya, di sisi lain, respon atas statemen tersebut menggesernya menjadi isu lari dari tanggung jawab dan penghinaan terhadap pengabdian guru. Dari mana jurang ini tiba-tiba muncul?
Kebenaran di Era Post-Truth
Di era post-truth, ruang publik, ruang sosial di mana warganet memperdebatkan beragam isu, tidak lagi sepenuhnya bisa dipercaya. Terjadi perubahan struktural dalam bagaimana sebuah informasi diproduksi, diedarkan, dan divalidasi. Dalam situasi seperti ini, dengungan yang keras dan popularitas yang berjejaring secara luas dan rapi sering kali lebih kuat pengaruhnya dan mengalahkan akurasi empiris dalam membentuk opini publik.Pernah pada suatu masa, Jurgen Habermas, salah seorang filosof Mazhab Kritis, mengidealisasi ruang publik. Menurutnya, ruang public adalah tempat praktik komunikasi intersubjektif terjadi, di mana rasionalitas kritis tumbuh. Fakta dan kebenaran diperdebatkan secara terbuka dan rasional. Namun, ruang publik sebagai tempat berlangsungnya praktik demokrasi melalui komunikasi kritis yang setara itu kini telah menjadi mitos.
Saat ini, ruang publik itu termediasi oleh platform-platform digital, diamplifikasi secara algoritmik, di mana orang hanya didekatkan pada informasi yang diinginkan, sesalah apapun informasi itu, dan dijauhkan dari informasi yang tak diinginkan, sebenar apapun informasi itu. Orang hanya hidup dalam ruangnya sendiri tanpa disadari. Dia seakan-akan berkomunikasi dengan bayak orang melalui beragam platform digital, tapi yang didengarkan bukanlah suara yang menantang pandangannya, tapi yang terus menguatkan pandangannya. Suara orang lain itu bukan lagi subjek kritis yang berkomunikasi dengannya, tapi hanyalah tembok yang memantulkan gema suaranya sendiri. Inilah yang disebut dengan fenomena echo chamber.
Dalam konteks ini, kebenaran menjadi runtuh bukan karena hilangnya fakta. Fakta itu masih ada di sana. Tapi, mekanisme untuk mengenali fakta menjadi semakin rumit. Saking rumitnya sampai antara fakta dan opini menjadi sangat samar.
Lihat Juga :