Menyiapkan Anak sebagai Pewaris Masa Depan
Kamis, 24 Juli 2025 - 17:00 WIB
Peran Pendidikan Guru
Kita sepakat bahwa perlindungan terhadap anak bukan hanya soal keselamatan fisik, tetapi juga menyangkut akses terhadap pendidikan bermutu, pengasuhan yang mendukung tumbuh-kembang optimal, serta pendampingan oleh guru yang cakap secara akademik dan emosional. Di sinilah Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) seperti Universitas Negeri Jakarta (UNJ) memiliki posisi strategis. Pendidikan guru di UNJ dan LPTK lainnya harus diarahkan tidak hanya pada penguasaan materi ajar, tetapi juga pada pembentukan karakter, literasi digital, dan pengembangan kecerdasan majemuk (multiple intelligences).Konsep multiple intelligences yang diperkenalkan Gardner (2011) menjadi fondasi penting dalam kurikulum pendidikan guru di UNJ. Ini artinya, anak tidak hanya dinilai dari kecerdasan logika-matematika atau bahasa, tetapi juga dari kecerdasan interpersonal, musikal, kinestetik, visual-spasial, naturalistik, hingga eksistensial. Dengan pendekatan ini, UNJ dapat mendorong calon guru untuk menjadi fasilitator tumbuh kembang anak secara utuh—bukan sekadar pengajar materi.
Studi Banks dan Banks (2020) mencatat bahwa perubahan paradigma pendidikan dimulai dari perubahan cara mendidik para pendidik. Jika ingin melindungi dan memajukan anak Indonesia, maka transformasi pendidikan guru adalah keharusan. UNJ dan LPTK lainnya perlu merespons hal ini melalui penguatan kurikulum berbasis nilai-nilai: (1) humanisme pedagogik yaitu sosok guru sebagai pendamping tumbuh kembang anak; (2) digital literacy dimana guru sebagai penjaga etika di ruang digital; (3) inklusivitas, dimana guru sebagai pembela keadilan pendidikan, dan (4) berpikir sistemik, dimana guru sebagai penata masa depan anak dalam ekosistem global.
Tidak kalah pentingnya, UNJ dan LPTK lainnya mengimplementasikan teaching practicum berbasis komunitas, kampus mengajar, serta riset-riset pendidikan transformatif untuk memperkuat praktik dan kebijakan yang berpihak pada anak.
Akhirnya, HAN 2025 adalah pengingat kolektif bahwa masa depan Indonesia berada di tangan anak-anak hari ini. Namun anak-anak tidak tumbuh dalam ruang hampa. Mereka membutuhkan lingkungan yang mendidik, guru yang menginspirasi, dan negara yang hadir.
Ini artinya, UNJ dan LPTK lainnya harus menjalankan amanat sejarah dan konstitusi untuk menyiapkan para guru sebagai arsitek masa depan bangsa. Anak-anak hari ini adalah pewaris peradaban. Maka, mendidik anak berarti menyiapkan masa depan—dan itu dimulai dari mendidik guru yang cerdas, empatik, dan visioner. Jika tidak dimulai saat ini, kapan lagi? Semoga
(nnz)
Lihat Juga :