Menyiapkan Anak sebagai Pewaris Masa Depan

Kamis, 24 Juli 2025 - 17:00 WIB

Pengaruh Ekosistem Digital



Harus diakui saat ini anak-anak kita saat ini lebih banyak tumbuh dalam ekosistem digital, terutama media sosial. Survei We Are Social (2024) mencatat bahwa anak-anak dan remaja usia 10–17 tahun menghabiskan rata-rata 4 hingga 6 jam per hari di media sosial. Sayangnya, lingkungan digital ini belum sepenuhnya aman dan mendidik. Konten-konten kekerasan, hoaks, cyberbullying, hingga budaya instan dan hiper-konsumtif justru menjadi dominan.

Padahal, menurut oleh UNESCO (2023), lingkungan tempat anak tumbuh sangat menentukan dalam membentuk karakter, nilai, dan kemampuan berpikir kritis mereka. Oleh karena itu, perhatian terhadap kualitas lingkungan belajar—baik fisik maupun digital—menjadi sangat penting. Lingkungan yang mendidik tidak boleh hanya sebatas tempat belajar akademik, melainkan juga sebagai ruang aman secara psikososial.

Studi Jones dan Kahn (2017) merekomendasikan lingkungan belajar yang baik harus bebas dari kekerasan, diskriminasi, dan intimidasi. Anak-anak perlu merasa aman dan nyaman secara emosional untuk bisa belajar secara optimal. Selanjutnya, lingkungan harus mendidik, mendorong anak untuk mengutarakan pendapat, terlibat dalam pengambilan keputusan, dan memiliki otonomi terbimbing dalam proses belajar (Lundy, 2007).

Jauh sebelumnya, Bronfenbrenner (1994) merekomendasikan lingkungan bagi anak harus menghargai latar belakang sosial-budaya mereka dan menjadikannya bagian dari proses pembelajaran. Anak tidak dipaksa menyesuaikan diri secara homogen, melainkan diakui keragamannya. Hal ini sesuai dengan rekomendasi UNESCO (2020) bahwa lingkungan untuk mendidik anak harus inklusif, tidak mengecualikan anak berdasarkan gender, disabilitas, agama, atau latar belakang ekonomi.

Tidak kalah pentingnya, lingkungan belajar yang mendidik harus bersifat stimulatif, menyediakan berbagai sumber belajar yang beragam, serta mendorong eksplorasi, kreativitas, dan tantangan intelektual yang sesuai dengan usia dan minat anak. Dalam konteks ini, peran guru menjadi sangat sentral. Guru yang empatik, mampu membangun relasi sehat antar-anak, serta menciptakan rutinitas yang stabil dan mendukung akan menciptakan suasana belajar yang kondusif (Hamre & Pianta, 2006). Guru bukan hanya pengajar, tetapi juga fasilitator ekosistem pembelajaran yang sehat bagi pertumbuhan anak secara utuh.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!