Penulisan Sejarah Nasional dan Integrasi Bangsa

Kamis, 10 Juli 2025 - 06:59 WIB
Kurikulum pendidikan di Jepang tidak mengajarkan Jepang sebagi bangsa penjajah, sebaliknya mengajarkan Jepang sebagai bangsa yang heroik, memiliki peradaban masa lalu yang tinggi. Pelajar di Jepang diajarkan Jepang kalah dari Amerika Serikat dalam Perang Dunia II, akibat bom atom yang diledakkan di Hiroshima dan Nagasaki. Pembelajaran sejarah ini membentuk karakter generasi muda Jepang untuk memiliki nasionalisme yang tinggi agar dapat mengalahkan bangsa besar seperti Amerika Serikat.

Bangsa Jepang tidak tenggelam dalam kesedihan yang panjang selepas kekalahan dalam Perang Dunia II. Mereka bangkit mengembangkan sumber daya manusia. Generasi muda Jepang disekolahkan di berbagai perguruan tinggi luar negeri. Hasilnya mulai tampak pada tahun 1980-an, Jepang berhasil memasarkan produk otomotifnya di Pasar Amerika Serikat. Mobil-mobil Jepang merajai pasar otomotif Amerika Serikat. Penulis sejarah di Jepang membangitkan rasa percaya diri bangsa Jepang yang terpuruk setelah kalah Perang Dunia II untuk bangkit berperang dengan Amerika dalam perang dagang.

Baca Juga: Fadli Zon Keukeuh Teruskan Proyek Penulisan Ulang Sejarah: Kita Uji Publik

Bagaimana dengan penulisan sejarah di Indonesia? Indonesia selepas kemerdekaan berusaha melakukan penulisan ulang sejarah, dengan tujuan untuk menamkan rasa nasionalisme. Selama ini sejarah Hindia Belanda lebih banyak ditulis oleh para peneliti sejarah Eropa yang memosisikan Nusantara sebagai tanah jajahan.

Pada Desember 1957, Kementerian Pendidikan melaksanakan Kongres Sejarah pertama, bertempat di Yogyakarta, dengan tujuan untuk merancang sejarah nasional yang resmi. Di era Orde Baru, pemerintah memiliki kepentingan yang besar terhadap penulisan sejarah. Presiden Soeharto yang mendapatkan kekuasaan pada tahun 1967, lewat cara yang tidak normal, bukan lewat proses demokrasi pemilu, mencari legitimasi politik lewat penulisan sejarah.

Jenderal Tituler Nugroho Notususanto memiliki peran yang besar dalam penulisan sejarah di masa Orde Baru , yang memunculkan peran militer dan revolusi kemerdekan, dan peran militer dalam berbagai peristiwa penting menyelamatkan negara dari berbagai ancaman perpecahan.

Di era pemerintahan Prabowo, muncul gagasan dari Menteri Kebudayaan Fadli Zon yang ingin melakukan penulisan ulang sejarah nasional, dengan melibatkan 100 sejarawan yang diketuai oleh sejarawan senior Prof Susanto Zuhdi .
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!