Ketika Gen Z Memilih Kabur Aja Dulu

Rabu, 12 Maret 2025 - 21:45 WIB
Selain itu, kesenjangan upah dan biaya hidup semakin memperburuk ketidakpastian ekonomi bagi Gen Z. UMP DKI Jakarta 2025 ditetapkan sebesar Rp5.396.761 per bulan, hanya setara 36% dari total biaya hidup standar Rp14,88 juta (Antara News, 2024). Bagi fresh graduates, upah ini jauh dari cukup. Selain itu, 36,31% pekerja di Jakarta berada di sektor informal, tanpa kepastian pendapatan dan perlindungan sosial (BPS Provinsi DKI Jakarta, 2024).

Dalam situasi ini, banyak Gen Z mulai mempertimbangkan berbagai pilihan untuk masa depan mereka. Beberapa faktor yang dapat memengaruhi keputusan ini. Pertama, ketidakpastian ekonomi dan sulitnya mendapatkan pekerjaan. Banyak lulusan baru menghadapi tantangan dalam mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan kualifikasi mereka. Dengan upah yang tidak mencukupi kebutuhan hidup, sebagian merasa bahwa kerja keras saja tidak cukup untuk mencapai kestabilan finansial.

Kedua, terbatasnya fleksibilitas dan kesejahteraan kerja. Di banyak negara, Gen Z memiliki lebih banyak peluang untuk bekerja dengan sistem yang lebih fleksibel, baik dalam bentuk kerja jarak jauh (remote work), jam kerja tidak kaku (flextime), hybrid, maupun berbasis digital platform. Model ini menawarkan benefit lebih baik, seperti gaji kompetitif, perlindungan tenaga kerja, dan keseimbangan kerja-hidup yang lebih sehat. Sebaliknya, di Indonesia, kebijakan tenaga kerja dan budaya kerja masih cenderung mempertahankan sistem konvensional, dengan sedikit ruang bagi fleksibilitas. Terbatasnya peluang untuk bekerja dalam sistem yang lebih dinamis membuat banyak Gen Z mempertimbangkan untuk mencari pekerjaan atau membangun karier di luar negeri, dimana fleksibilitas dan kesejahteraan tenaga kerja lebih terjamin.

Ketiga, krisis kesehatan mental. Tekanan akademik dan profesional yang semakin berat, sering kali tanpa dukungan yang memadai, menyebabkan Gen Z lebih sadar akan pentingnya kesehatan mental. Mereka cenderung menolak lingkungan kerja yang eksploitatif atau tidak manusiawi dan lebih memilih keluar demi kesejahteraan diri.

Keempat, pendidikan yang tidak menawarkan mobilitas sosial. Mayoritas sistem pendidikan di Indonesia masih berorientasi pada paradigma lama yang kurang selaras dengan tuntutan pasar kerja modern. Kurikulum yang kurang fleksibel, minimnya keterkaitan dengan industri berbasis digital, serta terbatasnya peluang pengembangan keterampilan praktis membuat banyak lulusan kesulitan bersaing di dunia kerja. Lebih dari itu, banyak yang melihat bahwa pendidikan dan kehidupan di dalam negeri tidak cukup memberikan mobilitas sosial, kesempatan untuk meningkatkan taraf hidup mereka. Mereka yang memilih melanjutkan studi atau bekerja di luar negeri, bukan hanya demi gaji lebih tinggi, tetapi juga untuk peluang kerja dan kehidupan yang lebih menjanjikan.

Dua Ekspresi untuk Satu Pesan

Fenomena #KaburAjaDulu bukan sekadar tren, tetapi refleksi dari realitas yang dihadapi Gen Z. Bersamaan dengan itu, #IndonesiaGelap muncul sebagai ekspresi kolektif atas ketidakpuasan terhadap kondisi sosial, ekonomi, dan politik di Indonesia. Jika #KaburAjaDulu mencerminkan keputusan individu untuk mencari peluang di tempat yang lebih mendukung, #IndonesiaGelap adalah seruan untuk perubahan struktural yang lebih luas.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!