Ngeceng dan Pertimbangan Etika (Bagian 2/Habis)
Selasa, 24 Desember 2024 - 06:57 WIB
Kalaupun sampai terjadi ngeceng biasanya dalam bentuk yang sederhana yang nadanya justru memberi semangat, misalnya; mesra nih yee, atau pegangan dong yang kenceng entar kepeleset, atau Eeee, kita jadi kepengen ngiri. Ketika awal mula ada yang melontarkan kata-kata, perasaan yang diceng sudah mulai panas dingin, amat dikuatirkan kata-kata yang mematikan. Tapi begitu mendengar nadanya hanya seperti sapaan malah membuat hidung kembang kempis saking bangganya menggandeng pacar. Artinya mereka tetap memperhatikan adat kepatutan atau memperhatikan etika sopan santun.
Etika ngeceng
Keengganan anak muda ngeceng dengan bentuk yang berat pada saat yang dianggap rawan bukan karena kurang enak dengan pacarnya teman, itu bisa dianggap kecil, yang prinsip ialah perhitungan jangka panjang apabila nanti kebetulan sedang mengalami situasi yang sama.
Sekarang sedikit sembrono nanti dapat diberondong habis-habisan. "Emang kagak ada aturan kapan bole ngeceng dan kapan kagak boleh..., perasaan kalo ngeceng teman di depan orang yang dianggap istimewa rasenya kurang pantes". "Ngeceng temen lagi pacaran lebih baik jangan deh, soalnya kalo die kagak terime bisa jadi gawat, di samping bisa merusak tali persahabatan ngebalesnya yang kagak kire-kire, bukan matakan babak belur (boleh jadi amat rusak)". Dari kedua ungkapan tersebut makin memperkuat bukti ceng-cengan memang harus melihat waktu, tempat, dan kepada siapa ditujukan. Mempertimbangkan etika dan adabnya.
Tentang sampai berapa jauh perasaan anak muda apabila diceng kecenderungan memperlihatkan tanggapan selalu berusaha tidak marah atau tersinggung. Untuk menjawabnya telah digunakan variabel tingkat perasaan sebagai tolok ukur yang terdiri dari; marah, tersinggung, biasa-biasa saja dan berusaha akan membalas apabila diceng. Data penelitian memperlihatkan sebagian besar informan mengatakan biasa-biasa saja. Di samping pendapat tersebut ada sedikit saja mengatakan merasa tersinggung apabila diceng habis-habisan di depan teman.
Yang merasa tersinggung diceng habis-habisan di depan teman walaupun persentasinya paling kecil namun menarik untuk disimak lebih jauh, apa sebenarnya yang melatar belakangi sikap tersebut. Berdasarkan pengamatan, secara umum mereka pada dasarnya sama seperti rekan lainnya, menyenagi ceng-cengan baik sebagai pelaku aktif maupun sekadar numpang tertawa. Barangkali hanya dikarenakan faktor perbedaan "kelas" saja menjadikannya kelompok khusus, sebagai kelas amatiran yang masih terlalu menghitung-hitung bobot kata maupun situasi yang oleh orang lain menganggapnya biasa.
Etika ngeceng
Keengganan anak muda ngeceng dengan bentuk yang berat pada saat yang dianggap rawan bukan karena kurang enak dengan pacarnya teman, itu bisa dianggap kecil, yang prinsip ialah perhitungan jangka panjang apabila nanti kebetulan sedang mengalami situasi yang sama.
Sekarang sedikit sembrono nanti dapat diberondong habis-habisan. "Emang kagak ada aturan kapan bole ngeceng dan kapan kagak boleh..., perasaan kalo ngeceng teman di depan orang yang dianggap istimewa rasenya kurang pantes". "Ngeceng temen lagi pacaran lebih baik jangan deh, soalnya kalo die kagak terime bisa jadi gawat, di samping bisa merusak tali persahabatan ngebalesnya yang kagak kire-kire, bukan matakan babak belur (boleh jadi amat rusak)". Dari kedua ungkapan tersebut makin memperkuat bukti ceng-cengan memang harus melihat waktu, tempat, dan kepada siapa ditujukan. Mempertimbangkan etika dan adabnya.
Tentang sampai berapa jauh perasaan anak muda apabila diceng kecenderungan memperlihatkan tanggapan selalu berusaha tidak marah atau tersinggung. Untuk menjawabnya telah digunakan variabel tingkat perasaan sebagai tolok ukur yang terdiri dari; marah, tersinggung, biasa-biasa saja dan berusaha akan membalas apabila diceng. Data penelitian memperlihatkan sebagian besar informan mengatakan biasa-biasa saja. Di samping pendapat tersebut ada sedikit saja mengatakan merasa tersinggung apabila diceng habis-habisan di depan teman.
Yang merasa tersinggung diceng habis-habisan di depan teman walaupun persentasinya paling kecil namun menarik untuk disimak lebih jauh, apa sebenarnya yang melatar belakangi sikap tersebut. Berdasarkan pengamatan, secara umum mereka pada dasarnya sama seperti rekan lainnya, menyenagi ceng-cengan baik sebagai pelaku aktif maupun sekadar numpang tertawa. Barangkali hanya dikarenakan faktor perbedaan "kelas" saja menjadikannya kelompok khusus, sebagai kelas amatiran yang masih terlalu menghitung-hitung bobot kata maupun situasi yang oleh orang lain menganggapnya biasa.
Lihat Juga :