Hijrah, Perspektif Sosiologi Ekonomi
Kamis, 16 Juli 2020 - 11:45 WIB
Pilihan generasi muslim milenial urban terhadap youtube sebagai sumber utama literasi konten dakwah mereka, dapat dipahami karena youtube menjadi media audiovisual yang paling cepat melakukan transformasi pesan sekaligus mudah diakses oleh siapa pun yang memiliki gadget (smartphone) tanpa sekat ruang dan waktu.
YouTube adalah sebuah situs web berbagi video yang dibuat oleh tiga mantan karyawan PayPal pada Februari 2005. Situs web ini memungkinkan pengguna mengunggah, menonton, dan berbagi video.
Dalam perkembangan kontemporer, dakwah Islam melalui youtube memang mengalami peningkatan signifikan. Sejumlah dai atau ustadz bahkan telah memiliki kanal youtube tersendiri yang dikelola secara profesional dan memiliki jumlah subscriber yang signifikan. Ustadz Hanan Attaki misalnya, hingga kini telah memiliki 1.32 M subscriber dan akan terus bertambah seiring diterimanya dakwah melalui youtube di kalangan milenial muslim perkotaan.
Bagi generasi milenial yang memiliki keterbatasan waktu, youtube adalah preferensi utama atas sumber-sumber bimbingan moral di banding misalnya harus menghadiri langsung majelis taklim atau pengajian. Kondisi ini tidak berarti bahwa keberadaan majelis taklim terutama di perkotaan mengalami penurunan dari sisi jamaah.
Justru pada saat yang bersamaan, majelis taklim tumbuh subur terutama di perumahan-perumahan elite perkotaan dan masjid-masjid baik di komplek perkantoran maupun komplek fasilitas publik lainnya seperti pusat perbelanjaan modern. Yang mencengangkan adalah majelis taklim tersebut selalu dibanjiri oleh para jamaah. Tren ini dapat kita maknai sebagai indikator berhasilnya gerakan dakwah Islam di lingkungan komunitas urban.
Sementara itu, terkait dengan pilihan ustadz (muballigh, penceramah agama) yang paling sering diikuti, mayoritas responden atau sebanyak 45,45% memilih Ustadz Hanan Attaki. Setelah Hanan Attaki, ustadz berikutnya yang dipilih atau disukai responden adalah Qurais Syihab sebanyak 14,54%, Khalid Basalamah 9,09%, Felix Saw 8,18%, Abdul Somad atau yang sering disebut UAS 6,36%, Yusuf Mansyur, Adi Hidayat, dan Rizieq Syihab masing-masing 2,72%, Gus Miftah, KH. Said Aqil Siradj, dan Cak Nun masing-masing 0,90%. Sementara itu responden yang menyatakan tidak tahu 6 orang atau 5,45%.
Banyaknya responden yang menyukai Hanan Attaki menggambarkan bahwa generasi milenial muslim urban lebih menyukai ustadz berusia muda dan familiar dengan dunia teknologi informasi. Selain penyampaian materi yang mudah diterima, Hanan Attaki dianggap dapat mewakili genre kalangan milenial urban sehingga konten-konten dakwahnya banyak disukai.
Hanan Attaki adalah dai muda asal Aceh, alumni Universitas Al Azhar, Kairo jurusan Tafsir al-Qur’an. Pada saat kuliah di di Kairo Mesir, Hanan Attaki bergabung dalam kelompok studi Alqur’an dan ilmu-ilmu Islam dan menjadi pemimpin redaksi dari buletin ‘Salsabila’ yang dipimpin oleh beberapa tokoh Ikhwanul Muslimin Mesir.
Di Bandung, Hanan Attaki bekerja sebagai pengajar SQT Habiburrahman dan Jendela Hati, dan menjadi Direktur Rumah Quran Salman di ITB. Di kota Bandung pula Hanan Attaki mendirikan Gerakan Pemuda Hirjah pada bulan Maret 2015 yang kemudian menjadi saluran dakwahnya. Pemuda Hijrah memiliki akun di instagram, facebook serta twitter. Selain menjadi founder Pemuda Hijrah dan mengajar di berbagai tempat, Ustaz Hanan Attaki kerap mengisi kajian mengenai Islam di Masjid Trans Studio Bandung.
Jika diklasifikasikan, nama-nama ustadz yang dipilih responden tersebut dapat dikelompokkan menjadi empat kelompok utama. Pertama, kelompok dai atau ustaz yang mewakili dakwah Islam kultural-tradisional seperti K.H. Said Agil Siradj, Gus Miftah dan Cak Nun. Secara umum mereka berlatar belakang NU dan pasar dakwah mereka adalah warga Nahdiyyin di Tanah Air. Kedua, kelompok dai atau ustadz yang mewakili dakwah Islam salaf dengan ciri utama mengusung dakwah Sunnah berbasis gerakan purifikasi Islam seperti Ustaz Khalid Basalamah. Ketiga, kelompok dai atau ustaz yang mewakili dakwah Islam moderat.
Kelompok ini memiliki kemiripan dengan kelompok dai salaf karena sama-sama mengusung gerakan pemurnian Islam berdasarkan Quran dan Hadist. Hanya saja, kelompok Islam moderat ini lebih dulu terlembaga dan familiar dalam pasar dakwah tanah air karena dipelopori oleh tokoh-tokoh Muhammadiyah, salah satu organisasi sosial keagamaan terbesar di Indonesia setelah Nahdhatul Ulama.
Kelompok dakwah Islam moderat ini diwakili misalnya oleh Ustaz Adi Hidayat. Keempat, kelompok dai atau ustadz yang mewakili dakwah “Islam politik”. Penyebutan Islam politik ini hanya untuk menekankan salah satu agenda kelompok ini yang menginginkan perubahan sistem politik melalui model khilafah seperti yang diusung kelompok Hizbut Tahrir. Model kelompok dai ini diwakili oleh Ustadz Felix Saw.
Adapun Ustadz Hanan Attaki dan Abdul Somad, meskipun dalam banyak hal terdapat titik temu baik dengan kelompok Islam kultural-tradisional dan kelompok Islam moderat tetapi keduanya memiliki pangsa pasar yang sangat cair. Ceruk pasar dakwah mereka bersifat multi ideologis. Artinya, baik kelompok NU, Muhammadiyah atau bahkan lainnya sangat mudah menerima gagasan-gagasan dakwah kedua tokoh ini. Dari sisi popularitas, keduanya dapat dikatakan sebagai celebrity peacher sehingga tidak lagi terikat dengan sekat-sekat ideologis yang ketat.
Yang menarik dalam konteks preferensi generasi milenial muslim urban terhadap pilihan ustadz adalah mayoritas responden yang berlatar belakang NU (97%), ternyata tidak seluruhnya memilih ustadz atau dai berlatar belakang NU. Dengan kata lain, identity (ID) organisasi sosial keagamaan yang melekat pada individu pengikut NU, tidak berbanding lurus dengan pilihan ustadz atau konten dakwah Islam yang dipilihnya.
Realitas ini dapat dimaknai bahwa gelombang hijrah yang justru dipopulerkan oleh kelompok-kelompok di luar Islam kultural-tradisional, ternyata juga mendapat sambutan luas dari penganut Islam kultural-tradisional atau NU. Hal ini merefleksikan bahwa identity (ID) organisasi sosial keagamaan seperti NU dan Muhammadiyah relatif rendah di kalangan generasi milenial muslim perkotaaan.
Meskipun generasi milenial muslim urban tersebut mewarisi identity (ID) organisasi sosial keagamaan baik secara genetik melalui orang tua, atau dipengaruhi (dibesarkan) oleh lingkungan sosial dan pendidikan-nya, tetapi mereka tidak memiliki loyality atau fanatisme tinggi terhadap organisasi sosial keagamaan tersebut. Hal ini sekaligus menjadi warning terutama bagi NU dan Muhammadiyah terkait dengan literasi konten-konten dakwah mereka baik dalam bentuk kurikulum pendidikan, pengajaran dan indoktrinasi akidah, akhlak dan aspek-aspek teologi lainnya yang tidak lagi “mengikat” secara ideologis kepada pengikutnya.
Selain karena rendahnya identity (ID) organisasi sosial keagamaan, generasi muslim milenial urban tampaknya lebih menyukai model dan konten-konten dakwah Islam yang dikemas secara menarik sesuai dengan denyut nadi modernitas baik dalam bentuk kajian-kajian Islam secara langsung (tatap muka) maupun melalui kanal-kanal perangkat teknologi informasi. Dalam bahasa yang sederhana, ekspektasi generasi muslim milenial urban adalah bagaimana bisa “tetap gaul, tetapi Islami” pada saat yang bersamaan.
Gelombang hijrah dapat berjalan sangat akseleratif terutama di kalangan muslim milenial perkotaan karena di dorong oleh para ustadz atau komunikator dakwah yang cukup lihai dalam membaca selera pasar dengan memanfaatkan instrumen-instrumen teknologi informasi seperti youtube dan media-media sosial lainnya. Kondisi ini menyebabkan terjadinya kompetisi tersendiri, bahkan ruang publik virtual telah menjelma menjadi arena kontestasi yang tidak seimbang khususnya antara dai-dai Islam kultural-tradisional dengan Islam non kultural-tradisional dalam berebut pengaruh (influencer).
Hijrah banyak digandrungi oleh kalangan muslim milenial urban Indonesia karena menawarkan totalitas solusi atas krisis identitas muslim yang mereka alami. Krisis identitas ini merupakan akumulasi dari kegersangan spiritualitas yang dialami muslim perkotaan karena efek modernitas yang menyisihkan nilai-nilai agama dari ranah publik sebagaimana lazim terjadi di berbagai kota di dunia.
Selama ini, sekularisme sebagai produk modernitas berusaha memisahkan agama dari ruang publik sehingga agama benar-benar diletakkan menjadi urusan privat. Kesalehan individu dalam konteks ini tidak perlu diaktualisasikan di ranah publik dan tidak perlu diakui eksistensinya oleh orang lain. Kondisi inilah yang pada akhirnya melahirkan suasana kebatinan yang pincang karena keringnya dimensi spiritualitas dalam diri individu pemeluk agama.
Kanal-kanal teknologi informasi dan revolusi internet, pada sisi lain justru dapat digunakan secara positif untuk memperkokoh fondasi keyakinan beragama (iman) agar pemeluk agama (Islam) tidak terjebak dan jatuh pada ruang hampa di mana goncangan spiritualisme seringkali lahir dari produk-produk kebudayaan dan peradaban modern tersebut.
YouTube adalah sebuah situs web berbagi video yang dibuat oleh tiga mantan karyawan PayPal pada Februari 2005. Situs web ini memungkinkan pengguna mengunggah, menonton, dan berbagi video.
Dalam perkembangan kontemporer, dakwah Islam melalui youtube memang mengalami peningkatan signifikan. Sejumlah dai atau ustadz bahkan telah memiliki kanal youtube tersendiri yang dikelola secara profesional dan memiliki jumlah subscriber yang signifikan. Ustadz Hanan Attaki misalnya, hingga kini telah memiliki 1.32 M subscriber dan akan terus bertambah seiring diterimanya dakwah melalui youtube di kalangan milenial muslim perkotaan.
Bagi generasi milenial yang memiliki keterbatasan waktu, youtube adalah preferensi utama atas sumber-sumber bimbingan moral di banding misalnya harus menghadiri langsung majelis taklim atau pengajian. Kondisi ini tidak berarti bahwa keberadaan majelis taklim terutama di perkotaan mengalami penurunan dari sisi jamaah.
Justru pada saat yang bersamaan, majelis taklim tumbuh subur terutama di perumahan-perumahan elite perkotaan dan masjid-masjid baik di komplek perkantoran maupun komplek fasilitas publik lainnya seperti pusat perbelanjaan modern. Yang mencengangkan adalah majelis taklim tersebut selalu dibanjiri oleh para jamaah. Tren ini dapat kita maknai sebagai indikator berhasilnya gerakan dakwah Islam di lingkungan komunitas urban.
Sementara itu, terkait dengan pilihan ustadz (muballigh, penceramah agama) yang paling sering diikuti, mayoritas responden atau sebanyak 45,45% memilih Ustadz Hanan Attaki. Setelah Hanan Attaki, ustadz berikutnya yang dipilih atau disukai responden adalah Qurais Syihab sebanyak 14,54%, Khalid Basalamah 9,09%, Felix Saw 8,18%, Abdul Somad atau yang sering disebut UAS 6,36%, Yusuf Mansyur, Adi Hidayat, dan Rizieq Syihab masing-masing 2,72%, Gus Miftah, KH. Said Aqil Siradj, dan Cak Nun masing-masing 0,90%. Sementara itu responden yang menyatakan tidak tahu 6 orang atau 5,45%.
Banyaknya responden yang menyukai Hanan Attaki menggambarkan bahwa generasi milenial muslim urban lebih menyukai ustadz berusia muda dan familiar dengan dunia teknologi informasi. Selain penyampaian materi yang mudah diterima, Hanan Attaki dianggap dapat mewakili genre kalangan milenial urban sehingga konten-konten dakwahnya banyak disukai.
Hanan Attaki adalah dai muda asal Aceh, alumni Universitas Al Azhar, Kairo jurusan Tafsir al-Qur’an. Pada saat kuliah di di Kairo Mesir, Hanan Attaki bergabung dalam kelompok studi Alqur’an dan ilmu-ilmu Islam dan menjadi pemimpin redaksi dari buletin ‘Salsabila’ yang dipimpin oleh beberapa tokoh Ikhwanul Muslimin Mesir.
Di Bandung, Hanan Attaki bekerja sebagai pengajar SQT Habiburrahman dan Jendela Hati, dan menjadi Direktur Rumah Quran Salman di ITB. Di kota Bandung pula Hanan Attaki mendirikan Gerakan Pemuda Hirjah pada bulan Maret 2015 yang kemudian menjadi saluran dakwahnya. Pemuda Hijrah memiliki akun di instagram, facebook serta twitter. Selain menjadi founder Pemuda Hijrah dan mengajar di berbagai tempat, Ustaz Hanan Attaki kerap mengisi kajian mengenai Islam di Masjid Trans Studio Bandung.
Jika diklasifikasikan, nama-nama ustadz yang dipilih responden tersebut dapat dikelompokkan menjadi empat kelompok utama. Pertama, kelompok dai atau ustaz yang mewakili dakwah Islam kultural-tradisional seperti K.H. Said Agil Siradj, Gus Miftah dan Cak Nun. Secara umum mereka berlatar belakang NU dan pasar dakwah mereka adalah warga Nahdiyyin di Tanah Air. Kedua, kelompok dai atau ustadz yang mewakili dakwah Islam salaf dengan ciri utama mengusung dakwah Sunnah berbasis gerakan purifikasi Islam seperti Ustaz Khalid Basalamah. Ketiga, kelompok dai atau ustaz yang mewakili dakwah Islam moderat.
Kelompok ini memiliki kemiripan dengan kelompok dai salaf karena sama-sama mengusung gerakan pemurnian Islam berdasarkan Quran dan Hadist. Hanya saja, kelompok Islam moderat ini lebih dulu terlembaga dan familiar dalam pasar dakwah tanah air karena dipelopori oleh tokoh-tokoh Muhammadiyah, salah satu organisasi sosial keagamaan terbesar di Indonesia setelah Nahdhatul Ulama.
Kelompok dakwah Islam moderat ini diwakili misalnya oleh Ustaz Adi Hidayat. Keempat, kelompok dai atau ustadz yang mewakili dakwah “Islam politik”. Penyebutan Islam politik ini hanya untuk menekankan salah satu agenda kelompok ini yang menginginkan perubahan sistem politik melalui model khilafah seperti yang diusung kelompok Hizbut Tahrir. Model kelompok dai ini diwakili oleh Ustadz Felix Saw.
Adapun Ustadz Hanan Attaki dan Abdul Somad, meskipun dalam banyak hal terdapat titik temu baik dengan kelompok Islam kultural-tradisional dan kelompok Islam moderat tetapi keduanya memiliki pangsa pasar yang sangat cair. Ceruk pasar dakwah mereka bersifat multi ideologis. Artinya, baik kelompok NU, Muhammadiyah atau bahkan lainnya sangat mudah menerima gagasan-gagasan dakwah kedua tokoh ini. Dari sisi popularitas, keduanya dapat dikatakan sebagai celebrity peacher sehingga tidak lagi terikat dengan sekat-sekat ideologis yang ketat.
Yang menarik dalam konteks preferensi generasi milenial muslim urban terhadap pilihan ustadz adalah mayoritas responden yang berlatar belakang NU (97%), ternyata tidak seluruhnya memilih ustadz atau dai berlatar belakang NU. Dengan kata lain, identity (ID) organisasi sosial keagamaan yang melekat pada individu pengikut NU, tidak berbanding lurus dengan pilihan ustadz atau konten dakwah Islam yang dipilihnya.
Realitas ini dapat dimaknai bahwa gelombang hijrah yang justru dipopulerkan oleh kelompok-kelompok di luar Islam kultural-tradisional, ternyata juga mendapat sambutan luas dari penganut Islam kultural-tradisional atau NU. Hal ini merefleksikan bahwa identity (ID) organisasi sosial keagamaan seperti NU dan Muhammadiyah relatif rendah di kalangan generasi milenial muslim perkotaaan.
Meskipun generasi milenial muslim urban tersebut mewarisi identity (ID) organisasi sosial keagamaan baik secara genetik melalui orang tua, atau dipengaruhi (dibesarkan) oleh lingkungan sosial dan pendidikan-nya, tetapi mereka tidak memiliki loyality atau fanatisme tinggi terhadap organisasi sosial keagamaan tersebut. Hal ini sekaligus menjadi warning terutama bagi NU dan Muhammadiyah terkait dengan literasi konten-konten dakwah mereka baik dalam bentuk kurikulum pendidikan, pengajaran dan indoktrinasi akidah, akhlak dan aspek-aspek teologi lainnya yang tidak lagi “mengikat” secara ideologis kepada pengikutnya.
Selain karena rendahnya identity (ID) organisasi sosial keagamaan, generasi muslim milenial urban tampaknya lebih menyukai model dan konten-konten dakwah Islam yang dikemas secara menarik sesuai dengan denyut nadi modernitas baik dalam bentuk kajian-kajian Islam secara langsung (tatap muka) maupun melalui kanal-kanal perangkat teknologi informasi. Dalam bahasa yang sederhana, ekspektasi generasi muslim milenial urban adalah bagaimana bisa “tetap gaul, tetapi Islami” pada saat yang bersamaan.
Gelombang hijrah dapat berjalan sangat akseleratif terutama di kalangan muslim milenial perkotaan karena di dorong oleh para ustadz atau komunikator dakwah yang cukup lihai dalam membaca selera pasar dengan memanfaatkan instrumen-instrumen teknologi informasi seperti youtube dan media-media sosial lainnya. Kondisi ini menyebabkan terjadinya kompetisi tersendiri, bahkan ruang publik virtual telah menjelma menjadi arena kontestasi yang tidak seimbang khususnya antara dai-dai Islam kultural-tradisional dengan Islam non kultural-tradisional dalam berebut pengaruh (influencer).
Hijrah banyak digandrungi oleh kalangan muslim milenial urban Indonesia karena menawarkan totalitas solusi atas krisis identitas muslim yang mereka alami. Krisis identitas ini merupakan akumulasi dari kegersangan spiritualitas yang dialami muslim perkotaan karena efek modernitas yang menyisihkan nilai-nilai agama dari ranah publik sebagaimana lazim terjadi di berbagai kota di dunia.
Selama ini, sekularisme sebagai produk modernitas berusaha memisahkan agama dari ruang publik sehingga agama benar-benar diletakkan menjadi urusan privat. Kesalehan individu dalam konteks ini tidak perlu diaktualisasikan di ranah publik dan tidak perlu diakui eksistensinya oleh orang lain. Kondisi inilah yang pada akhirnya melahirkan suasana kebatinan yang pincang karena keringnya dimensi spiritualitas dalam diri individu pemeluk agama.
Kanal-kanal teknologi informasi dan revolusi internet, pada sisi lain justru dapat digunakan secara positif untuk memperkokoh fondasi keyakinan beragama (iman) agar pemeluk agama (Islam) tidak terjebak dan jatuh pada ruang hampa di mana goncangan spiritualisme seringkali lahir dari produk-produk kebudayaan dan peradaban modern tersebut.
(dam)
Lihat Juga :