Koalisi bisa rusak jika lamban munculkan pasangan
Kamis, 15 Mei 2014 - 12:08 WIB
Koalisi bisa rusak jika lamban munculkan pasangan
A
A
A
Sindonews.com - Lambannya partai politik (parpol) memasangkan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) bisa berdampak buruk terhadap hubungan antarparpol di dalam koalisi.
"Lebih cepat diputuskan pasangan capres-cawapres yang mempunyai kekuatan mengikat bagi semua partai pendukung semakin baik," kata Pengamat Politik dari Universitas Pelita Harapan, Emrus Sihombing kepada Sindonews, Kamis (15/5/2014).
Menurut dia, koalisi yang sudah terbangun oleh beberapa partai politik harus diikat dengan pasangan calon. Jika diputuskan telalu lama, maka bisa menimbulkan rasa saling kurang percaya antarpartai anggota koalisi.
"Salah satu kemungkinan dapat terjadi partai pendukung menarik dukunganya kalau cawapres yang diajukan tidak sesuai dengan kepentingan partai pendukung," ujarnya.
Emrus menjelaskan, gejala tarik dukungan karena lambannya menentukan pasangan capres dan cawapres disebut sebagai politik simpul terbuka.
Dia berpendapat, semakin lama menentukan pasangan capres-cawapres, maka semakin sulit masyarakat menentukan pilihannya. Apalagi, jika pasangan ditetapkan saat-saat menjelang pendaftaran capres-cawapres maka potensi calon dikalahkan sejak awal semakin terbuka.
"Sebenarnya kemungkinan realitas politik semacam itu tidak perlu terjadi kalau aktor politik kita memiliki kedewasaan politik dan berjiwa kenegarawanan," tuturnya.
"Lebih cepat diputuskan pasangan capres-cawapres yang mempunyai kekuatan mengikat bagi semua partai pendukung semakin baik," kata Pengamat Politik dari Universitas Pelita Harapan, Emrus Sihombing kepada Sindonews, Kamis (15/5/2014).
Menurut dia, koalisi yang sudah terbangun oleh beberapa partai politik harus diikat dengan pasangan calon. Jika diputuskan telalu lama, maka bisa menimbulkan rasa saling kurang percaya antarpartai anggota koalisi.
"Salah satu kemungkinan dapat terjadi partai pendukung menarik dukunganya kalau cawapres yang diajukan tidak sesuai dengan kepentingan partai pendukung," ujarnya.
Emrus menjelaskan, gejala tarik dukungan karena lambannya menentukan pasangan capres dan cawapres disebut sebagai politik simpul terbuka.
Dia berpendapat, semakin lama menentukan pasangan capres-cawapres, maka semakin sulit masyarakat menentukan pilihannya. Apalagi, jika pasangan ditetapkan saat-saat menjelang pendaftaran capres-cawapres maka potensi calon dikalahkan sejak awal semakin terbuka.
"Sebenarnya kemungkinan realitas politik semacam itu tidak perlu terjadi kalau aktor politik kita memiliki kedewasaan politik dan berjiwa kenegarawanan," tuturnya.
(dam)