Pembelokan kasus Akil degradasi semangat KPK
Kamis, 10 Oktober 2013 - 09:36 WIB
Pembelokan kasus Akil degradasi semangat KPK
A
A
A
Sindonews.com - Pengamat Politik dari Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi), Lucius Karus mengatakan, korupsi atau suap memang dekat dengan kekuasaan.
Ketika kekuasaan itu menjadi sekadar alat untuk memenuhi naluri pribadi manusia, maka aksi suap dan korupsi dalam semua bentuknya menjadi sesuatu yang wajar terjadi.
"Dengan membelokkan kasus Akil Mochtar ini pada setting berbau konspirasi politik, kita akan mendegradasi semangat KPK dalam melakukan pemberantasan korupsi," ujarnya ketika dihubungi Sindonews, Kamis (10/10/2013).
Ia berpandangan, sangat berbahaya jika mengaitkan pengungkapan kasus dugaan suap Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) nonaktif Akil Mochtar yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) merupakan konspirasi politik.
"Saya kira bahaya serius mengintai bangsa ini jika publik selalu latah mengawinkan upaya penangkapan yang dilakukan KPK dengan konspirasi politik," tandasnya.
Menurut Lucius, seharusnya jika publik menyadari ancaman korupsi yang mengintai kekuasaan, maka dorongan untuk melakukan korupsi sejatinya bukan karena seseorang terjebak dalam bidak permainan politik.
Tetapi karena orang tersebut mengikuti naluri jahat memanfaatkan kekuasaan untuk memperkaya diri.
"Jadi naluri hewani manusia yang bisa menjelaskan suap dan korupsi yang diduga dilakukan Akil, ketimbang sebagai akibat dari konspirasi politik untuk menghancurkan Golkar," pungkasnya.
Baca berita:
Penangkapan AM bernuansa politis?
Ketika kekuasaan itu menjadi sekadar alat untuk memenuhi naluri pribadi manusia, maka aksi suap dan korupsi dalam semua bentuknya menjadi sesuatu yang wajar terjadi.
"Dengan membelokkan kasus Akil Mochtar ini pada setting berbau konspirasi politik, kita akan mendegradasi semangat KPK dalam melakukan pemberantasan korupsi," ujarnya ketika dihubungi Sindonews, Kamis (10/10/2013).
Ia berpandangan, sangat berbahaya jika mengaitkan pengungkapan kasus dugaan suap Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) nonaktif Akil Mochtar yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) merupakan konspirasi politik.
"Saya kira bahaya serius mengintai bangsa ini jika publik selalu latah mengawinkan upaya penangkapan yang dilakukan KPK dengan konspirasi politik," tandasnya.
Menurut Lucius, seharusnya jika publik menyadari ancaman korupsi yang mengintai kekuasaan, maka dorongan untuk melakukan korupsi sejatinya bukan karena seseorang terjebak dalam bidak permainan politik.
Tetapi karena orang tersebut mengikuti naluri jahat memanfaatkan kekuasaan untuk memperkaya diri.
"Jadi naluri hewani manusia yang bisa menjelaskan suap dan korupsi yang diduga dilakukan Akil, ketimbang sebagai akibat dari konspirasi politik untuk menghancurkan Golkar," pungkasnya.
Baca berita:
Penangkapan AM bernuansa politis?
(kri)