Kekalahan di Piala AFF dan Manajemen Timnas
Senin, 03 Desember 2012 - 06:30 WIB
Kekalahan di Piala AFF dan Manajemen Timnas
A
A
A
Kekalahan tim nasional (timnas) sepak bola Indonesia dari seteru abadi timnas Malaysia, menjadi penentu tersingkirnya Indonesia dari Piala ASEAN Football Federation (AFF) 2012 yang merupakan salah satu ajang sepak bola bergengsi di ASEAN.
Sudah barang tentu cibiran dari dalam negeri dengan derasnya dilontarkan ke timnas, mulai pemain, pelatih, staf, hingga organisasi Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) dan juga seterunya, Komite Penyelamat Sepak Bola Indonesia (KPSI). Keduanya terus bertengkar dengan skema zero sum game dan pada akhirnya merugikan kepentingan timnas yang merupakan perwujudan kepentingan bangsa ini.
Melihat semangat bertanding yang dihadirkan oleh timnas Indonesia di Piala AFF, sudah selayaknya para punggawa timnas beserta pelatih dan seluruh staf mendapatkan acungan jempol dari bangsa ini. Mereka telah menunjukkan semangat tinggi membela negara dengan sepenuh hati. Mereka bisa bertanding dengan baik, sekalipun sepenuhnya paham bahwa organisasi yang menaunginya sedang pecah dan berseteru memperebutkan hak menentukan arah dunia persepakbolaan negeri ini.
Cibiran itu seharusnya dialamatkan pada dua kubu PSSI-KPSI yang terus bertengkar tak berkesudahan, dengan berbagai alasan yang pada akhirnya hanya merugikan bangsa ini. Sungguh menyedihkan melihat perseteruan kedua organisasi ini, karena keduanya sama-sama mengklaim ingin memajukan persepakbolaan Indonesia. Namun nyatanya, perseteruan dan tiadanya keinginan untuk menyelesaikan masalah malah menghancurkan dan menggerogoti kekuatan timnas Indonesia dari dalam.
Sebagai imbasnya, berbagai masalah harus dihadapi timnas dari masalah dana, beberapa kali gagalnya latih tanding, hingga masalah pemilihan pemain yang sangat terbatas karena klub-klub terbagi dalam dua liga yang ada, baik di bawah PSSI maupun di bawah KPSI. Jika keduanya memang menginginkan kemajuan sepak bola Indonesia, tentu seharusnya keduanya malu sudah menjadi penentu anjloknya prestasi timnas sepak bola Indonesia ini.
Kedua organisasi yang sama-sama mengklaim hak mengatur persepakbolaan Indonesia ini, tentu seharusnya mengutamakan kepentingan timnas serta kepentingan bangsa,bukannya kepentingan jangka pendek organisasi. Masyarakat ada baiknya lebih bijak untuk menyikapi perseteruan ini.Tak perlu larut dalam turut dukung-mendukung kedua belah pihak. Aksi dukung-mendukung ini malah akan menimbulkan perpecahan di masyarakat.
Pada dasarnya yang harus didukung itu adalah timnas sepak bola Indonesia serta kemajuan sepak bola Indonesia, bukan masalah rezim mana yang paling berhak untuk menentukan arah persepakbolaan Indonesia. Jika pada perjuangan pencinta sepak bola sebelumnya ada rezim Nurdin Halid yang menjadi musuh bersama, kondisi ini jauh berbeda karena kedua pihak sama-sama mengorbankan kepentingan bangsa.
Tidak selayaknya semangat dukungan suporter timnas dialirkan untuk perebutan kekuasaan ini. Baik PSSI maupun KPSI sudah saatnya menempatkan kepentingan negara di atas kepentingan kelompok. Apakah kita tidak malu AFF hingga FIFA ikut berusaha melerai perseteruan kedua organisasi ini, namun tidak juga membuahkan hasil yang signifikan? Sekarang itu saatnya memikirkan bagaimana membangun timnas yang lebih solid.
Sudah saatnya pula untuk fokus penuh pada pembinaan pemain sedari dini, dengan sistem kompetisi yang menjunjung tinggi sportivitas, fair play, dan jauh dari kepentingan politik atau kepentingan rente. Semoga masih ada segurat kesadaran untuk memajukan timnas dengan sepenuh hati pada kedua organisasi tersebut!
Sudah barang tentu cibiran dari dalam negeri dengan derasnya dilontarkan ke timnas, mulai pemain, pelatih, staf, hingga organisasi Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) dan juga seterunya, Komite Penyelamat Sepak Bola Indonesia (KPSI). Keduanya terus bertengkar dengan skema zero sum game dan pada akhirnya merugikan kepentingan timnas yang merupakan perwujudan kepentingan bangsa ini.
Melihat semangat bertanding yang dihadirkan oleh timnas Indonesia di Piala AFF, sudah selayaknya para punggawa timnas beserta pelatih dan seluruh staf mendapatkan acungan jempol dari bangsa ini. Mereka telah menunjukkan semangat tinggi membela negara dengan sepenuh hati. Mereka bisa bertanding dengan baik, sekalipun sepenuhnya paham bahwa organisasi yang menaunginya sedang pecah dan berseteru memperebutkan hak menentukan arah dunia persepakbolaan negeri ini.
Cibiran itu seharusnya dialamatkan pada dua kubu PSSI-KPSI yang terus bertengkar tak berkesudahan, dengan berbagai alasan yang pada akhirnya hanya merugikan bangsa ini. Sungguh menyedihkan melihat perseteruan kedua organisasi ini, karena keduanya sama-sama mengklaim ingin memajukan persepakbolaan Indonesia. Namun nyatanya, perseteruan dan tiadanya keinginan untuk menyelesaikan masalah malah menghancurkan dan menggerogoti kekuatan timnas Indonesia dari dalam.
Sebagai imbasnya, berbagai masalah harus dihadapi timnas dari masalah dana, beberapa kali gagalnya latih tanding, hingga masalah pemilihan pemain yang sangat terbatas karena klub-klub terbagi dalam dua liga yang ada, baik di bawah PSSI maupun di bawah KPSI. Jika keduanya memang menginginkan kemajuan sepak bola Indonesia, tentu seharusnya keduanya malu sudah menjadi penentu anjloknya prestasi timnas sepak bola Indonesia ini.
Kedua organisasi yang sama-sama mengklaim hak mengatur persepakbolaan Indonesia ini, tentu seharusnya mengutamakan kepentingan timnas serta kepentingan bangsa,bukannya kepentingan jangka pendek organisasi. Masyarakat ada baiknya lebih bijak untuk menyikapi perseteruan ini.Tak perlu larut dalam turut dukung-mendukung kedua belah pihak. Aksi dukung-mendukung ini malah akan menimbulkan perpecahan di masyarakat.
Pada dasarnya yang harus didukung itu adalah timnas sepak bola Indonesia serta kemajuan sepak bola Indonesia, bukan masalah rezim mana yang paling berhak untuk menentukan arah persepakbolaan Indonesia. Jika pada perjuangan pencinta sepak bola sebelumnya ada rezim Nurdin Halid yang menjadi musuh bersama, kondisi ini jauh berbeda karena kedua pihak sama-sama mengorbankan kepentingan bangsa.
Tidak selayaknya semangat dukungan suporter timnas dialirkan untuk perebutan kekuasaan ini. Baik PSSI maupun KPSI sudah saatnya menempatkan kepentingan negara di atas kepentingan kelompok. Apakah kita tidak malu AFF hingga FIFA ikut berusaha melerai perseteruan kedua organisasi ini, namun tidak juga membuahkan hasil yang signifikan? Sekarang itu saatnya memikirkan bagaimana membangun timnas yang lebih solid.
Sudah saatnya pula untuk fokus penuh pada pembinaan pemain sedari dini, dengan sistem kompetisi yang menjunjung tinggi sportivitas, fair play, dan jauh dari kepentingan politik atau kepentingan rente. Semoga masih ada segurat kesadaran untuk memajukan timnas dengan sepenuh hati pada kedua organisasi tersebut!
(ysw)