alexametrics

Mengandalkan Sektor Konsumsi

loading...
Mengandalkan Sektor Konsumsi
SESUAI prediksi sejumlah pihak, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I/2020 memang kurang menggembirakan di tengah pandemi Covid-19. Foto/SINDOnews
A+ A-
SESUAI prediksi sejumlah pihak, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I/2020 memang kurang menggembirakan di tengah pandemi Covid-19. Angka pertumbuhan ekonomi sebesar 2,97% year on year (yoy) yang disampaikan Badan Pusat Statistik (BPS) semakin menunjukkan bahwa perekonomian kita sedang tidak baik-baik saja. Jika dibandingkan pertumbuhan quarter to quarter (qtq), pertumbuhan ekonomi bahkan minus 2,41%.

Sejumlah sektor yang biasa menopang pertumbuhan pada periode Januari-Maret 2020 mengalami tekanan luar biasa. Satu di antaranya konsumsi rumah tangga yang pada periode yang sama tahun lalu tumbuh di atas 5%, kini terpangkas setengahnya menjadi hanya 2,84%.

Tahun ini tantangan ekonomi Indonesia diperkirakan bakal kian berat. Selain konsumsi, sektor lainnya termasuk manufaktur juga menunjukkan tanda-tanda perlambatan. Hal ini disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati setelah melihat indeks manufaktur atau Purchasing Managers Index (PMI) Indonesia yang pada April 2020 tercatat hanya 27 poin, jauh menurun dibanding bulan sebelumnya 43,5 poin.



Jika dilihat tren PMI sepanjang beberapa tahun terakhir, indeks pada April 2020 merupakan yang terendah sejak 2011. Kondisi ini tentu menjadi alarm bagi industri, sektor yang digadang-gadang menjadi andalan untuk menyerap tenaga kerja.

Jika dilihat pengertiannya, PMI atau indeks belanja manajer adalah indikator ekonomi yang dibuat berdasarkan hasil survei sejumlah purchasing manager di berbagai sektor bisnis. Angka PMI yang tinggi menunjukkan optimisme pada pelaku sektor usaha. Sebaliknya, jika angkanya kecil, berarti kalangan pelaku usaha sedang merasa pesimistis.

Indeks ini biasanya menjadi acuan para pengambil kebijakan di kalangan industri untuk melakukan ekspansi atau justru mengeremnya. Untuk lebih jelasnya, biasanya indeks di atas 50 menandakan sektor industri sedang tumbuh atau ekspansi. Adapun angka di bawah 50 menandakan sektor industri sedang mengalami kontraksi atau penurunan.

Lalu, bagaimana dengan kondisi indeks PMI di Indonesia yang saat berada di angka 27? Ini jelas bukan kondisi yang menggembirakan karena menandakan iklim industri yang sedang dilanda perlambatan. Penyebabnya tak lain adalah pandemi virus korona (Covid-19) yang kini sudah menyebar di 34 provinsi di Tanah Air dengan ratusan korban jiwa dan belasan ribu orang positif terinfeksi. Teranyar, pada Selasa (5/5) virus korona telah menyebabkan ....kematian dan .....terinfeksi. Jumlah tersebut belum termasuk jumlah orang yang masuk dalam pemantauan dan pasien dalam pengawasan (PDP).

Akibat pandemi Covid-19 pula, berdasarkan data Kementerian Tenaga Kerja, tercatat saat ini sekitar 2 juta orang telah terkena pemutusan hubungan kerja (PHK). Jumlah tersebut menurut Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia bahkan lebih besar lagi, yakni mencapai 15 juta orang.

Sri Mulyani pantas khawatir karena dibanding dengan negara-negara lain di Asia Tenggara, penurunan indeks manufaktur Indonesia termasuk yang paling dalam. Ini cukup menggambarkan bahwa kondisi industri kita tidak sedang baik-baik saja.

Pengumuman anjloknya indeks manufaktur April 2020 hanya berselang sepekan setelah Kementerian Perindustrian melaporkan bahwa nilai investasi di sektor industri pada kuartal I/2020 mengalami kenaikan signifikan.

Investasi sektor pengolahan selama periode Januari-Maret 2020 tercatat sebesar Rp64 triliun, tumbuh 44,7% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya Rp44,2 triliun. Melihat realisasi investasi tersebut, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita meyakini sektor industri bisa tetap bergerak dalam memacu roda perekonomian nasional. Kendati demikian, dia berujar, para pelaku usaha diharapkan untuk tetap berupaya menekan penyebaran Covid-19 dengan menaati protokol kesehatan.

Sebelum terjadi pandemi Covid-19, industri pengolahan di Tanah Air memang masih menunjukkan gairah yang positif. Hal ini tercermin pada capaian PMI Indonesia yang dirilis oleh IHS Markit, pada Februari 2020 di mana indeksnya berada di posisi 51,9 atau tertinggi sejak 2005.

Kendati indeks PMI Indonesia anjlok cukup tajam, namun Kemenperin meyakini, ekonomi Indonesia bakal mengalami rebound lebih cepat pascapandemi Covid-19. Keyakinan ini muncul setelah ekonomi China mengalami perbaikan lebih dari perkiraan banyak pihak.

Hanya, pemerintah tampaknya masih punya seabrek pekerjaan rumah yang mesti dirampungkan. Selain mengatasi penyebaran korona yang hingga kini belum ketahuan kapan mencapai puncaknya, dampak sosial akibat banyaknya perusahaan yang justru melakukan PHK juga perlu mendapat perhatian serius.

Harapannya, tentu saja agar stimulus yang dikeluarkan untuk kalangan pelaku usaha bisa bekerja efektif dalam me-restart kembali sektor bisnis yang sempat lumpuh. Demikian pula berbagai bantuan yang digelontorkan untuk korban PHK dan rumah tangga terdampak lainnya bisa tepat sasaran sehingga daya beli kembali terjaga.
(kri)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak