Industri peternakan masih semrawut
Kamis, 29 November 2012 - 04:41 WIB
Industri peternakan masih semrawut
A
A
A
Sindonews.com - Setelah daging sapi mengalami kelangkaan yang memicu harga melambung tinggi, komoditas apa lagi yang bakal “hilang” di pasar? Pertanyaan itu senantiasa menghantui masyarakat belakangan ini.
Itu wajar saja, beberapa bulan sebelumnya pun masyarakat dikejutkan oleh kelangkaan kedelai yang berakhir dengan kenaikan harga tempe dan tahu yang menjadi makanan sehari-hari.Peristiwa “hilangnya” kedelai dan daging sapi tersebut menunjukkan betapa rawan ketersediaan pangan di dalam negeri,itu pun 65 persen dipasok dari luar negeri. Pasokan daging sapi yang terbatas dalam dua minggu terakhir ini ditengarai sebagai dampak dari program pemerintah menuju swasembada daging pada 2014.
Program ini oleh kalangan pengusaha yang bergerak di bidang bisnis daging dinilai positif,sayangnya upaya tersebut tidak didukung perencanaan matang. Untuk mencapai swasembada daging, pemerintah sudah mulai memangkas kuota impor daging beku dan sapi bakalan, tetapi suplai sapi dalam negeri ke pasar belum rapi. Akibatnya terjadi kelangkaan. Meski mendapat kritik pedas dari pengusaha seputar usaha swasembada daging, pemerintah tetap yakin program tersebut bisa direalisasikan dalam dua tahun ke depan.
Pemerintah mengakui populasi sapi saat ini cukup banyak. “Semua wilayah di Indonesia telah menyatakan kesiapan untuk memenuhi swasembada daging pada 2014,” ungkap Dirjen Peternakan pada Kementerian Pertanian,Syukur Iwantoro,dalam keterangan pers kemarin.
Syukur menanggapi tudingan pengusaha yang menilai program swasembada daging sulit direalisasikan. Sikap optimistis itu didasarkan pada laporan dari sejumlah kepala dinas peternakan di daerah dan pengecekan langsung dari Kementerian Pertanian.
Dalam setahun terakhir ini pertumbuhan populasi sapi di daerah yang menjadi basis produksi sapi memang semakin menggembirakan. Daerah yang menjadi basis produksi sapi itu meliputi Jawa Timur, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT), Sulawesi Selatan mengalami surplus produksi, bahkan untuk Papua mencatat pertumbuhan populasi sapi di atas tujuh persen.Tetapi mengapa daging sapi langka di beberapa daerah, khususnya Jakarta?
Adakah ini permainan dari para importir daging agar bisa mengantongi keuntungan besar? Apa yang dipaparkan Dirjen Peternakan sejalan dengan data Badan Pusat Statistik (BPS). Berdasarkan hasil pendataan tahun 2011, populasi sapi potong di negeri ini ada 14,8 juta ekor. Persoalannya,tidak semua sapi tersebut bisa dipotong setiap saat untuk memenuhi kebutuhan masyarakat alias tidak ready stock.
Sebab ada aturan yang melarang pemotongan sapi betina lokal hingga enam tahun dan sapi betina impor hingga empat tahun. Aturan itu sah saja, namun harus diperjelas berapa yang disediakan untuk memenuhi kebutuhan daging masyarakat, dan berapa banyak yang disimpan untuk dikembangbiakkan. Selain terganjal soal aturan, juga terhambat masalah pendistribusian mengingat wilayah basis produksi sapi umumnya berada di wilayah timur Indonesia.
Menyiasati terbatasnya pasokan daging sapi saat ini,pemerintah berkeputusan menambah kuota daging beku guna mengatasi kekurangan pasokan hingga akhir tahun ini.Keputusan membuka lagi keran impor daging beku memang mengundang pertanyaan terutama dari DPR, tetapi untuk saat ini barangkali masih bisa ditoleransi demi menstabilkan harga daging sapi di pasar domestik.
Keterbatasan pasokan daging sapi yang melanda sejumlah wilayah dalam dua pekan ini mencerminkan betapa semrawutnya industri peternakan di negeri ini. Karena itu, kita tidak boleh selalu mencari kambing hitam bahwa semua ini diakibatkan oleh ulah para spekulan. Mari kita benahi industri peternakan agar dapat berkontribusi dengan baik.
Itu wajar saja, beberapa bulan sebelumnya pun masyarakat dikejutkan oleh kelangkaan kedelai yang berakhir dengan kenaikan harga tempe dan tahu yang menjadi makanan sehari-hari.Peristiwa “hilangnya” kedelai dan daging sapi tersebut menunjukkan betapa rawan ketersediaan pangan di dalam negeri,itu pun 65 persen dipasok dari luar negeri. Pasokan daging sapi yang terbatas dalam dua minggu terakhir ini ditengarai sebagai dampak dari program pemerintah menuju swasembada daging pada 2014.
Program ini oleh kalangan pengusaha yang bergerak di bidang bisnis daging dinilai positif,sayangnya upaya tersebut tidak didukung perencanaan matang. Untuk mencapai swasembada daging, pemerintah sudah mulai memangkas kuota impor daging beku dan sapi bakalan, tetapi suplai sapi dalam negeri ke pasar belum rapi. Akibatnya terjadi kelangkaan. Meski mendapat kritik pedas dari pengusaha seputar usaha swasembada daging, pemerintah tetap yakin program tersebut bisa direalisasikan dalam dua tahun ke depan.
Pemerintah mengakui populasi sapi saat ini cukup banyak. “Semua wilayah di Indonesia telah menyatakan kesiapan untuk memenuhi swasembada daging pada 2014,” ungkap Dirjen Peternakan pada Kementerian Pertanian,Syukur Iwantoro,dalam keterangan pers kemarin.
Syukur menanggapi tudingan pengusaha yang menilai program swasembada daging sulit direalisasikan. Sikap optimistis itu didasarkan pada laporan dari sejumlah kepala dinas peternakan di daerah dan pengecekan langsung dari Kementerian Pertanian.
Dalam setahun terakhir ini pertumbuhan populasi sapi di daerah yang menjadi basis produksi sapi memang semakin menggembirakan. Daerah yang menjadi basis produksi sapi itu meliputi Jawa Timur, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT), Sulawesi Selatan mengalami surplus produksi, bahkan untuk Papua mencatat pertumbuhan populasi sapi di atas tujuh persen.Tetapi mengapa daging sapi langka di beberapa daerah, khususnya Jakarta?
Adakah ini permainan dari para importir daging agar bisa mengantongi keuntungan besar? Apa yang dipaparkan Dirjen Peternakan sejalan dengan data Badan Pusat Statistik (BPS). Berdasarkan hasil pendataan tahun 2011, populasi sapi potong di negeri ini ada 14,8 juta ekor. Persoalannya,tidak semua sapi tersebut bisa dipotong setiap saat untuk memenuhi kebutuhan masyarakat alias tidak ready stock.
Sebab ada aturan yang melarang pemotongan sapi betina lokal hingga enam tahun dan sapi betina impor hingga empat tahun. Aturan itu sah saja, namun harus diperjelas berapa yang disediakan untuk memenuhi kebutuhan daging masyarakat, dan berapa banyak yang disimpan untuk dikembangbiakkan. Selain terganjal soal aturan, juga terhambat masalah pendistribusian mengingat wilayah basis produksi sapi umumnya berada di wilayah timur Indonesia.
Menyiasati terbatasnya pasokan daging sapi saat ini,pemerintah berkeputusan menambah kuota daging beku guna mengatasi kekurangan pasokan hingga akhir tahun ini.Keputusan membuka lagi keran impor daging beku memang mengundang pertanyaan terutama dari DPR, tetapi untuk saat ini barangkali masih bisa ditoleransi demi menstabilkan harga daging sapi di pasar domestik.
Keterbatasan pasokan daging sapi yang melanda sejumlah wilayah dalam dua pekan ini mencerminkan betapa semrawutnya industri peternakan di negeri ini. Karena itu, kita tidak boleh selalu mencari kambing hitam bahwa semua ini diakibatkan oleh ulah para spekulan. Mari kita benahi industri peternakan agar dapat berkontribusi dengan baik.
(azh)