Obama dan tantangan hubungan luar negeri

Kamis, 08 November 2012 - 11:48 WIB
Obama dan tantangan...
Obama dan tantangan hubungan luar negeri
A A A
Pemilihan presiden di Amerika Serikat (AS) 2012 memunculkan Obama sebagai pemenang dan ini berarti empat tahun mendatang akan menyaksikan gaya kepemimpinan dan pemerintahan yang sama dengan empat tahun yang lalu.

Ketika sudah dipastikan bahwa Obama menang dalam pemilihan presiden AS, ia menyatakan di muka publik AS bahwa apa yang terbaik untuk AS belum datang. Kemenangan Obama membuktikan bahwa rakyat AS masih menghendaki Obama untuk menyelesaikan masalah- masalah dalam dan luar negeri yang hingga Pemilihan Presiden 2012 ini belum tuntas.

Dalam pidato kemenangannya yang bertabur dengan retorika, sesuatu yang menarik pemilih untuk memilihnya pada 2008, Obama mengingatkan pemilih apa yang masih dalam agendanya yaitu masalah imigrasi, reformasi, perubahan iklim, dan penciptaan lapangan kerja.

Ini berarti sebuah pengakuan dari Obama bahwa ia masih memiliki berbagai isu kebijakan yang harus diselesaikan dalam empat tahun ke depan. Pemilu 2012 yang menghasilkan Obama sebagai pemenang adalah semacam validasi, jika tidak mandat luar biasa, dalam mendukung kebijakan presiden empat tahun terakhir yaitu termasuk perbaikan besar- besaran dari sistem kesehatan dan penarikan pasukan di Irak dan Afghanistan.

Meskipun Obama memperoleh dukungan publik yang sama kuatnya dengan dukungan yang ia peroleh dalam pemilihan 2008, Obama belum sama sekali bebas dari persoalan- persoalan kebijakan yang penyelesaiannya hingga kini masih ditunggu oleh rakyat AS. Ini berarti bahwa empat tahun mendatang merupakan masa-masa di mana kredibilitas Obama akan diuji kembali.

Kemenangan Obama dalam Pemilihan Presiden AS 2012 merupakan sebuah sejarah dalam pemilihan presiden AS di mana presiden kulit hitam pertama di negara itu terpilih untuk kedua kalinya. Hasil pemilihan presiden AS tahun ini lebih merupakan suatu kenyataan di mana pemilih memberikan Obama waktu lebih lama lagi daripada kesempatan kedua untuk memimpin AS.

Hasil jajak pendapat menjelang pemilihan presiden menunjukkan bahwa rakyat AS percaya bahwa kebijakan Obama empat tahun ke depan akan mampu meningkatkan perekonomian AS. Keyakinan ini pulalah yang menggerakkan publik untuk memilih kembali Obama.

Mengenai masalah-masalah luar negeri, dalam perdebatan terbuka antara Obama dan Romney, Obama kelihatan sangat ofensif menghadapi Romney utamanya ketika Romney gagal menyampaikan usulan resolusi-resolusi untuk menyelesaikan masalah-masalah internasional yang dihadapi AS. Bisa saja hal itu karena Romney, tidak seperti Obama, tidak memilikiakseske briefing harian yang disampaikan oleh analisanalis intelijen, diplomat, atau para petinggi militer AS.

Kekurangan Romney itu menjadi kelebihan Obama dalam mengungguli Romney pada perdebatan mengenai masalah-masalah luar negeri Amerika Serikat. Bagi Obama apa yang ditawarkan Romney dalam urusan-urusan luar negeri AS bukan merupakan resep untuk membangun kekuatan AS dan bukan pula resep untuk menjaga keamanan AS untuk jangka panjang.

Dalam perspektif Obama, dalam masalah Timur Tengah misalnya, apa yang harus dilakukan AS adalah membangun kepemimpinan yang stabil dan bukan kepemimpinan sembrono yang justru bisa membuat kredibilitas AS di kawasan itu menurun. Yang jelas Obama akan tetap menjalankan kebijakan luar negeri AS yang tidak akan berbeda dari apa yang telah ia lakukan dalam bidang itu selama empat tahun terakhir.

Meskipun reaksi global terhadap kemenangan Obama sangat positif,khusus di bidang hubungan luar negeri, AS di bawah pemerintahan kedua Obama sepertinya masih akan menghadapi enam isu-isu internasional kunci.

Pertama, kemungkinan Afghanistan runtuh akibat perang saudara. Adalah kenyataan bahwa pemerintah Afghanistan telah didukung oleh pasukan AS dan NATO juga uang, tetapi apa yang telah dilakukan AS di sana kelihatannya telah gagal dalam fungsi dasarnya membangun kepercayaan nasional, keamanan, dan persatuan.Afghanistan bisa berpindah ke perang sipil ketika tentara AS ditarik dari negara itu pada 2014.

Kedua, kemungkinan “ledakan “ Iran. Iran yang kini yang sedang didorong oleh Barat untuk menanggalkan program-program nuklirnya dan yang terus dikenai sanksisanksi perbankan sepertinya akan tetap berjuang untuk bertahan hidup. Dalam menghadapi situasi demikian ada satu dari dua tindakan yang bisa dilakukan oleh Iran yaitu akomodasi dan negosiasi atau tetap membangun sistem persenjataan nuklir.

Ketiga, bangkitnya Ikhwanul Muslimin. “Arab Spring” yang bergulir tahun lalu telah memberdayakan Ikhwanul Muslimin di Timur Tengah dan sekitarnya misalnya pemerintah di Mesir, Tunisia, dan Gaza. Di Suriah Ikhwanul Muslimin memiliki kehadiran yang kuat di antara para pemberontak dan demikian pula di Yaman, Yordania, dan Maroko.

Untuk AS, munculnya Ikhwanul Muslimin tidak dengan sendirinya merupakan tantangan besar. Sebagian besar dari para pemimpinnya mengatakan mereka ingin hubungan baik dan hubungan ekonomi dengan Washington. Masalahnya, bagaimanapun, adalah Israel. Ikhwanul Muslimin dasarnya anti-Israel dan Washington pada dasarnya pro-Israel.

Keempat, ancaman cyber?? AS telah menghabiskan satu dekade memerangi teroris dengan beberapa keberhasilan. Namun, bom bukan satusatunya ancaman. Serangan cyberyang sukses bahkan dapat menyebabkan kekacauan nasional dan internasional jauh melebihi pemboman di kota besar AS pada 2001.

Kelima, Israel menyerang Iran. Israel mungkin saja menyerang program nuklir Iran jika percaya bahwa sanksi yang dijatuhkan terhadap Iran gagal. Para ahli mengatakan sanksi tidak akan menghentikan program.

Saat ini Israel telah memutuskan untuk menunggu dan melihat apa dampak sanksi-sanksi internasional. Jika Iran memilih untuk membuat bom, Israel kemungkinan besar akan melakukan perubahan kebijakan dan memilih solusi militer. Dalam konteks ini, tidak ada pilihan lain bagi AS,kecuali melibatkan diri dalam persoalan Israel-Iran.

Keenam, membangun poros AS di Asia dan memperlambat manuver China. Pada 2011 China telah melampaui Jepang untuk menjadi ekonomi terbesar kedua didunia setelah AS. Pemerintahan Obama telah mengakui kekuatan militer China yang semakin kuat , sebagaimana dibuktikan melalui manuver-manuver militernya di Laut China Selatan.

Karena itu, AS berupaya membangun semacam “poros” di Asia dengan menyebarkan lebih dari setengah dari aset angkatan lautnya ke wilayah Asia-Pasifik akhir dekade ini. Hal ini tentu saja akan memunculkan ketegangan dalam hubungan antara China dan Amerika Serikat di Asia-Pasifik.

Ketika Pemilihan Presiden AS 2012 berlangsung, tidak menjadi persoalan kebijakan untuk Indonesia siapa yang akan menang dalam pemilihan itu. Tetapi, kemenangan Obama dalam Pemilihan Presiden 2012 ini memberi tambahan semangat bagi kedua negara untuk meningkatkan hubungan antara mereka dan itu berarti kontinuitas dalam hubungan antara Indonesia–AS.

Dalam konteks hubungan Indonesia–AS setelah Obama terpilih kembali adalah penting untuk memotret hubungan itu empat tahun ke depan melalui prisma kemitraan komprehensif antara Indonesia dan AS yang ditandatangani pada masa pemerintahan pertama Obama.

Yang menjadi tantangan bagi Indonesia dan AS empat tahun ke depan adalah apakah kedua negara dapat merealisasi agenda-agenda yang terdapat dalam kemitraan itu yang belum sempat direalisasikan empat tahun lalu.

Hanya melalui prisma inilah, kita bisa menilai apakah hubungan antara Indonesia dan AS akan menjadi lebih produktif atau tidak. Yang jelas adalah AS di bawah pemerintahan kedua Obama tetap melihat Indonesia sebagai pemain sentral di Asia-Pasifik. Karena itu, Indonesia harus mengambil kebijakan- kebijakan baru di kawasan Asia-Pasifik untuk membuktikan bahwa Indonesia terlalu penting untuk diabaikan AS.

BANTARTO BANDORO
Dosen di Universitas Pertahanan Indonesia ( Unhan)
(kur)
Berita Terkait
Bakal Dilaporkan ke...
Bakal Dilaporkan ke Polisi, Saiful Mujani: Yang Ideal, Opini Dibalas Opini
Pancasila Sakti
Pancasila Sakti
Opini Guru Besar Anti-TWK
Opini Guru Besar Anti-TWK
Menghapus Asimetris...
Menghapus Asimetris Relasi di Hari Buruh
Pertempuran Sungai Nil,...
Pertempuran Sungai Nil, Perebutan Energi Sumber Daya Alam
Akhir Ramadan, Sportifitas...
Akhir Ramadan, Sportifitas dan Optimisme
Berita Terkini
Hotman Paris Ungkap...
Hotman Paris Ungkap Alasan Bersedia Menjadi Kuasa Hukum Febrie Adriansyah
Pimpin Panen Raya di...
Pimpin Panen Raya di Malang, Prabowo: Bukti TNI Hadir Perkuat Kemandirian Pangan
Don Ritto Gunakan Rumah...
Don Ritto Gunakan Rumah Febrie Adriansyah di Sentul untuk Operasional Yayasan
Febrie Adriansyah Tidak...
Febrie Adriansyah Tidak Ditahan, Kuasa Hukum: Sudah Mengundurkan Diri, Artinya Kooperatif
Komisi IX DPR Cecar...
Komisi IX DPR Cecar BGN usai Pamer Dapat WTP dari BPK: Jangan-jangan Dibikin-bikin
ICW Soroti Mutasi ASN...
ICW Soroti Mutasi ASN Kementerian PU, Diduga Hanya Jadi Alat Balas Dendam
Infografis
Trionda, Bola Robotik...
Trionda, Bola Robotik Piala Dunia 2026 yang Punya Baterai dan Sensor VAR
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved