Demokrat korup, PDIP & Golkar juga!
Kamis, 09 Agustus 2012 - 20:40 WIB
Demokrat korup, PDIP & Golkar juga!
A
A
A
Sindonews.com - Partai Demokrat menyadari situasi sekarang cukup sulit untuk tidak terkena imbas pemberitaan dan opini yang masif atas prahara yang menimpa beberapa kadernya.
Namun Demokrat tidak terlalu risau dengan hasil survei yang selalu menempatkannya di urutan ke tiga di bawah Golkar dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).
"Survei CSIS, menempatkan Demokrat di bawah Golkar dan PDIP. Menurut saya, survei apapun jika dilakukan saat ini memang tidak akan menguntungkan Demokrat. Expose media terhadap prahara yang menimpa kader Demokrat untuk sementara memang sangat mempengaruhi opini masyarakat," ujar Ketua DPP Partai Demokrat Achsanul Qosasi, di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (9/8/2012).
Menurut dia, dalam kenyataannya memang tidak hanya kader Partai Demokrat yang terjerat kasus-kasus hukum. Sebab hampir semua kader partai lain juga terbelit masalah korupsi.
"Hampir semua partai saat ini seolah berlomba tertimpa kasus korupsi. Namun yang membedakan adalah karena Demokrat adalah pendukung utama pemerintah dan partai pemenang pemilu sehingga sorotannya paling tinggi, sehingga ini berimbas," ujarnya.
Tidak hanya itu, anggota Komisi XI DPR ini juga melihat, hal lain yang membuat elektabilitas Partai Demokrat menurun adalah karena sekarang ini belum ada gerakan untuk meng-counter isu itu. Partai Demokrat masih fokus melakukan konsolidasi internal.
"Kami tidak khawatir dengan survei itu. Karena memang hasil survei apapun saat ini pasti tidak menguntungkan Demokrat. Menurut CSIS, kami ada di bawah PDIP dan Golkar. Tapi bukan berarti mereka lebih baik dari kami," tegas Wakil Sekretaris Fraksi Partai Demokrat itu.
Seperti diketahui, dalam survei Centre for Strategic and International Studies (CSIS) yang bertajuk 'Partai Politik, Capres dan Partai Baru’ Rabu 8 Agustus 2012 kemarin, elektabilitas Partai Golkar berada paling atas yakni 18 persen, kemudian PDIP 11,6 persen, disusul Demokrat di urutan ketiga 11,1 persen.
Anggota Dewan Pembina Partai Demokrat Hayono Isman mengungkapkan, hasil survei bersifat dinamis dari waktu ke waktu. Namun hal itu tetap berguna bagi Partai Demokrat untuk melihat kecenderungan dan kepercayaan publik baik terhadap elektabilitas partainya maupun capresnya jika sudah ditetapkan kelak.
"Survei ini penting menjadi masukan agar jajaran pengurus terus melakukan konsolidasi, memastikan bahwa dari DPP sampai ke tingkat anak ranting menguatkan komunikasi dan pembinaan. Pada akhirnya manajemen organisasi yang menentukan hasil kepercayaan publik," katanya.
Sementara itu, Ketua DPP Partai Golkar Hajriyanto Y Thohari menilai, berkah yang didapatkan Partai Golkar karena posisinya yang mungkin saja dianggap publik berhasil menjadi pengendali stabilitas pemerintahan dan politik dalam dua tahun belakangan ini.
"Masyarakat melihat Partai Golkar sangat tepat untuk mengendalikan lembaga legislatif (DPR/DPRD). Posisi politik yang diambil Partai Golkar di koalisi tetapi tetap kritis di Parlemen tampaknya diapresiasi masyarakat," katanya.
Namun Demokrat tidak terlalu risau dengan hasil survei yang selalu menempatkannya di urutan ke tiga di bawah Golkar dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).
"Survei CSIS, menempatkan Demokrat di bawah Golkar dan PDIP. Menurut saya, survei apapun jika dilakukan saat ini memang tidak akan menguntungkan Demokrat. Expose media terhadap prahara yang menimpa kader Demokrat untuk sementara memang sangat mempengaruhi opini masyarakat," ujar Ketua DPP Partai Demokrat Achsanul Qosasi, di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (9/8/2012).
Menurut dia, dalam kenyataannya memang tidak hanya kader Partai Demokrat yang terjerat kasus-kasus hukum. Sebab hampir semua kader partai lain juga terbelit masalah korupsi.
"Hampir semua partai saat ini seolah berlomba tertimpa kasus korupsi. Namun yang membedakan adalah karena Demokrat adalah pendukung utama pemerintah dan partai pemenang pemilu sehingga sorotannya paling tinggi, sehingga ini berimbas," ujarnya.
Tidak hanya itu, anggota Komisi XI DPR ini juga melihat, hal lain yang membuat elektabilitas Partai Demokrat menurun adalah karena sekarang ini belum ada gerakan untuk meng-counter isu itu. Partai Demokrat masih fokus melakukan konsolidasi internal.
"Kami tidak khawatir dengan survei itu. Karena memang hasil survei apapun saat ini pasti tidak menguntungkan Demokrat. Menurut CSIS, kami ada di bawah PDIP dan Golkar. Tapi bukan berarti mereka lebih baik dari kami," tegas Wakil Sekretaris Fraksi Partai Demokrat itu.
Seperti diketahui, dalam survei Centre for Strategic and International Studies (CSIS) yang bertajuk 'Partai Politik, Capres dan Partai Baru’ Rabu 8 Agustus 2012 kemarin, elektabilitas Partai Golkar berada paling atas yakni 18 persen, kemudian PDIP 11,6 persen, disusul Demokrat di urutan ketiga 11,1 persen.
Anggota Dewan Pembina Partai Demokrat Hayono Isman mengungkapkan, hasil survei bersifat dinamis dari waktu ke waktu. Namun hal itu tetap berguna bagi Partai Demokrat untuk melihat kecenderungan dan kepercayaan publik baik terhadap elektabilitas partainya maupun capresnya jika sudah ditetapkan kelak.
"Survei ini penting menjadi masukan agar jajaran pengurus terus melakukan konsolidasi, memastikan bahwa dari DPP sampai ke tingkat anak ranting menguatkan komunikasi dan pembinaan. Pada akhirnya manajemen organisasi yang menentukan hasil kepercayaan publik," katanya.
Sementara itu, Ketua DPP Partai Golkar Hajriyanto Y Thohari menilai, berkah yang didapatkan Partai Golkar karena posisinya yang mungkin saja dianggap publik berhasil menjadi pengendali stabilitas pemerintahan dan politik dalam dua tahun belakangan ini.
"Masyarakat melihat Partai Golkar sangat tepat untuk mengendalikan lembaga legislatif (DPR/DPRD). Posisi politik yang diambil Partai Golkar di koalisi tetapi tetap kritis di Parlemen tampaknya diapresiasi masyarakat," katanya.
(san)