Dr Siti, Virus, dan WHO

Jum'at, 03 April 2020 - 18:05 WIB
Dr Siti, Virus, dan WHO
Dr Siti, Virus, dan WHO
A A A
Dina Sulaeman
Analis Geopolitik Independen dan Penulis

WABAH Covid-19 membuat banyak orang teringat pada Dr. Siti Fadilah Supari (Menkes RI 2004-2009) yang dulu berjibaku melawan virus Flu Burung 2005 dan bahkan berlanjut dengan melawan WHO di Jenewa. Kisah perjuangan melawan WHO itu ditulis sangat detil oleh Dr. Siti di bukunya Saatnya Dunia Berubah.

Begitu baca, saya langsung nyambung karena inilah yang saya bahas di tesis dan disertasi saya. Organisasi internasional di bawah PBB ketika mengambil suatu kebijakan ternyata sangat dipengaruhi oleh epistemic community (sekelompok pakar di ring 1 PBB, dengan mengabaikan suara kelompok pakar lainnya), perusahaan transnasional, IMF, dan Bank Dunia.

Kisah dimulai ketika tahun 2005, virus flu burung masuk ke Indonesia (penularan virus dari unggas ke manusia, jadi yang jatuh sakit adalah manusia). Untuk mendeteksi virus, atas perintah WHO, sampel spesimen harus dikirim ke Hongkong, hasilnya baru dapat 5-6 hari kemudian. Jelas ini memperlambat upaya penanganan. Padahal, ternyata hasil pemeriksaan lab di Indonesia sama saja dengan hasil lab HK.

Secara bersamaan, berdatanganlah para penjual alat pendiagnosa cepat (rapid diagnostic test) ke Dr Siti. Pembuatan alat itu didasarkan pada virus strain Vietnam. Jadi, virus dari korban flu burung di Vietnam dikirim ke WHO, lalu dibuat seed (benih) virusnya dan seed virus ini yang dibuat jadi alat tes. Tapi yang membuat alat tes bukanlah WHO melainkan perusahaan di negara-negara maju.

Lalu, WHO merekomendasikan obat bernama Tamiflu. Parahnya, ketika Indonesia mau beli, obat itu habis di pasar, karena sudah diborong negara-negara kaya (padahal mereka tidak kena flu burung).

Kemudian, tiba-tiba saja, tanpa penelitian virologi, staf WHO mengumumkan ke CNN bahwa di Indonesia sudah terjadi penularan dari manusia ke manusia. Jelas pengumuman sepihak dari WHO ini berbahaya buat Indonesia. Indonesia bisa diisolasi dan ekonomi akan ambruk. Dr. Siti langsung meminta ilmuwan Indonesia untuk meneliti virus itu, apa benar sudah ada perubahan (sehingga bisa menular dari manusia ke manusia).

Sambil menunggu hasil lab, yang dilakukan Dr. Siti tidak main-main. Mengusir staf WHO dari Indonesia dan meminta CNN mencabut berita tersebut.

Ia lalu menggelar konperensi pers. Menyampaikan argumen-argumen logis, misalnya, kalau benar sudah ada penularan dari manusia ke manusia, tentu yang pertama tertular adalah perawat dan jumlah orang yang tertular sangat banyak. Dan kemudian terbukti dari hasil lab, bahwa virus flu burung H5N1 tidak menular dari manusia ke manusia.

Peristiwa ini membuat Dr. Siti semakin penasaran, mengapa tatanan dunia soal virus harus seperti ini? Ia lalu mendapati ada 2 jalur perjalanan virus. Pertama, virus dari negara yang terkena wabah diserahkan ke WHO melalui mekanisme GISN (Global Influenza Surveillance Network), lalu entah dengan mekanisme apa, jatuh ke Los Alamos. Ini adalah lab yang dulu bikin bom atom Hiroshima.
Halaman :
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
berita/ rendering in 0.1344 seconds (11.252#12.26)