Muhasabah Kebangsaan

Senin, 30 Desember 2019 - 07:30 WIB
Muhasabah Kebangsaan
Muhasabah Kebangsaan
A A A
Muhbib Abdul Wahab

Dosen Pascasarjana FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan UMJ

NEGERI dan bangsa ter­cinta ini tidak per­nah sepi dari per­soalan yang ha­rus dicarikan solusinya. Se­ba­gian masalah itu ”selesai” dan ”hi­lang dari peredaran” karena masalah baru muncul, dan se­ge­ra mengubur masalah lama yang belum selesai. Skandal ko­rupsi BLBI, proyek Hambalang, Bank Century, dan sekarang du­ga­an korupsi 13,7 triliun pada BUMN Jiwasraya, boleh jadi pe­nuntasan kasusnya tidak jelas jika tidak diusut dan dise­le­sai­kan setuntas-tuntasnya.

Berbagai persoalan bangsa lainnya, seperti maraknya ko­rup­si, bangkitnya komunisme, me­ningkatnya kemiskinan, ser­buan tenaga kerja asing, ren­dahnya kedaulatan pangan, me­wabahnya isu dan berita hoaks di media sosial, dan seba­gai­nya merupakan masalah bang­sa yang perlu disikapi dan dijadikan sebagai bahan mu­ha­sabah (introspeksi, evaluasi, dan audit diri) sebagai hamba Allah dan warga bangsa.

Menyongsong tahun baru 2020, muhasabah merupakan salah satu langkah strategis untuk berkomitmen menyele­saikan persoalan sekaligus mem­bangun masa depan Indo­nesia maju, adil, dan makmur. Pertanyaannya, ”Sudah jujur dan benarkah semua masalah tersebut diselesaikan, atau ha­nya pura-pura ditangani pa­da­hal tidak diselesaikan?” Menga­pa berbagai persoalan itu mun­cul silih berganti, seperti silih bergantinya musibah yang me­nimpa bangsa ini: meletusnya gunung berapi, gempa bumi, banjir bandang, meng­gu­nung­nya utang luar negeri, dan se­ba­gai­nya?

Oleh karena itu, muhasabah kebangsaan idealnya menya­dar­kan kita semua untuk jujur dan bersikap terbuka dalam me­minta fatwa kepada hati nurani. Apakah pikiran, sikap, dan tin­dakan kita selama ini telah men­dengar dan menaati suara (ke­benaran) hati nurani atau justru banyak menuruti hawa nafsu dan akal bulus untuk memuas­kan segala kepentingan pribadi dan/atau golongan kita, bukan kepentingan kebangsaan?

Esensi muhasabah adalah bertanya dengan jujur kepada diri sendiri dalam rangka intro­speksi, evaluasi, dan audit diri sen­diri. Tujuan muhasabah ke­bangsaan adalah untuk me­num­buhkan kesadaran moral ter­hadap pentingnya menge­ta­hui jati diri, dinamika dan pr­o­gresivitas kinerja, termasuk ke­ku­rangan diri, sehingga ber­ko­mit­men untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas diri dan kesalehan sosial.

Dengan muhasabah, kita mem­perbarui komitmen dan orien­tasi mental-spiritual un­tuk lebih mendekatkan diri ke­pada Allah SWT dan sesama. Me­lalui muhasabah yang jujur dan autentik, setiap warga bang­sa idealnya me­nya­dari bah­wa hidup di du­nia ini tidak lama, se­hingga perjalanan hi­dup ini harus dilalui dengan penuh mak­na dan manfaat bagi orang lain.

Kita semua sedang me­nem­puh perjalanan menuju kema­ti­an, lalu menuju alam akhirat un­tuk diaudit total (dihisab) oleh Allah atas se­gala amal per­buat­an, di­mintai pertanggungja­wab­an, dan diberi balasan se­tim­pal sesuai amal yang pernah diperbuat selama hidup di dunia.

Kontrak umur adalah ama­nah dan salah satu anu­gerah yang di akhirat kelak akan di­mintai pertang­gung­jawaban oleh Allah SWT: ”Untuk apa umur yang diberikan itu diper­gu­na­kan?” ”Apakah usia yang di­anugerahkan itu digunakan untuk melakukan ketaatan ke­pada Allah ataukah untuk ke­maksiatan?

Oleh karena itu, muhasabah harus dilakukan dengan me­ngem­bangkan dan memak­si­mal­kan bekal iman dan takwa ke­pada Allah SWT. ”Wahai orang-orang yang beriman! Ber­tak­walah kepada Allah dan hen­daklah setiap orang memper­ha­ti­kan apa yang telah diperbuatnya un­tuk hari esok (akhirat), dan ber­takwalah ke­pada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti ter­hadap apa yang kamu kerjakan. Dan, ja­ngan­lah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, se­hingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri sendiri. Mereka itu­lah orang-orang fasik.” (QS al-Hasyr [59]:18-19)

Dengan demikian, muhasa­bah harus dimaknai sebagai se­buah refleksi mental spiritual me­nuju istigfar dan tobat na­sional, pendekatan diri kepada Allah SWT. Jika kita berefleksi sejenak, dengan mengalkulasi secara sederhana usia per­ja­lanan hidup ini, niscaya kita men­jadi lebih sadar bahwa umur kita belum sepenuhnya produktif.

Berapa lama kita sudah be­lajar, bekerja, berkarya, ber­de­di­kasi, beribadah kepada Allah, memberi nilai tambah (man­faat) bagi diri sendiri dan orang lain? Sungguh tepa tepat apa yang pernah di­ingat­kan oleh Umar bin al-Khattab RA: ”Hi­tung­lah (amal­an) dirimu, sebe­lum engkau dihitung (oleh Allah); dan timbanglah amal per­buatan atau kinerjamu se­be­lum benar-be­nar ditimbang di akhirat kelak!”

Muhasabah ke­bang­sa­an meng­hendaki semua warga bang­sa untuk mau bertaubat, berinabah, beristigfar, ber­mu­najat, dan ber-iltija’ (memohon perlindungan diri) kepada Allah SWT dengan sepenuh hati. Mu­ha­sabah kebangsaan ini se­makin efektif dan bermakna apa­bila dibarengi dengan ma­najemen waktu yang efisien dan efektif dengan mengubah para­digma umur kuantitatif men­ja­di umur kualitatif.

Bagaimana usia kuantitatif 60 tahun, mi­sal­nya, senilai usia kualitatif 600 tahun atau bahkan lebih seperti usia yang dimiliki oleh ulama, seperti: Imam Syafi’i, Imam Buk­hari, Imam Muslim, sehing­ga nama mereka sampai saat ini masih harum dan karya mereka terus ”mengalirkan” pahala akhi­rat bagi mereka.

Mengelola waktu juga sa­ngat penting sehingga per­ja­lanan hidup ke depan menjadi lebih bermakna. Nabi SAW ber­sabda: ”Jagalah dan man­faat­kan­lah (waktu antara) yang lima se­belum datang yang lima: waktu mu­damu sebelum pikun­mu, se­hat­mu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, luangmu se­be­lum sibukmu, dan hidupmu se­be­lum matimu.” (HR al-Hakim)

Proses muhasabah juga ha­rus dibarengi dengan pem­buat­an rencana atau program yang jelas dan visioner (me­li­hat jauh ke depan) dan ber­usa­­ha mewu­judkannya de­ngan sungguh-sungguh. Jika muhasabah dila­kukan dengan penuh keinsafan dan kesa­dar­­an semakin dekat­nya kita me­ninggalkan dunia menuju ke­matian, niscaya kita akan se­­lalu menjaga istikamah da­lam bersikap, beribadah, dan ber­amal/berkarya sesuai de­ngan nilai-nilai Islam dan ke­bangsaan.

Dengan modal dan proses muhasabah tersebut, kita akan dapat meraih buah muhasabah berikut. Pertama, penyadaran diri untuk selalu melakukan taubatan nasuha (taubat yang se­penuh hati). Kedua, kita da­pat terhindar dari suíu al-kha­timah (keburukan tutup usia). Ketiga, mengetahui dan me­nya­­dari kelemahan atau ke­ku­rangan diri dengan penuh syu­kur sehingga selalu berusaha untuk memperbaiki kualitas hidupnya. Keempat, dapat me­num­buhkan sikap positif dan optimistis untuk menatap hari esok secara lebih baik. Kelima, selalu berusaha melejitkan po­tensi diri untuk meraih pres­tasi yang lebih tinggi lagi di masa depan. Keenam, mengu­rangi atau meminimalisasi per­­buat­an dosa.

Melalui muhasabah ke­bang­­sa­an, ada baiknya kata bijak ber­bahasa Arab berikut dire­nung­kan: ”Law kana li adz-dzunub ra’ihah, la ma jalasa ilay­ya ahad”. Ar­tinya, ”Kalau saja dosa-dosa itu berbau, niscaya tak seorang pun mau men­de­kat dan ber­ka­wan denganku”. Mari bermu­ha­sa­bah kebang­sa­an dengan isti­kamah, agar ”bau dari dosa-dosa” kita dapat dihilangkan de­ngan taubatan nasuha dan is­tigh­far, sedang­kan amal saleh da­­pat diting­katkan, sehingga khus­nul kha­timah dapat diraih.
(pur)
Berita Terkait
Bakal Dilaporkan ke...
Bakal Dilaporkan ke Polisi, Saiful Mujani: Yang Ideal, Opini Dibalas Opini
Pancasila Sakti
Pancasila Sakti
Opini Guru Besar Anti-TWK
Opini Guru Besar Anti-TWK
Kaum Disabilitas Vs...
Kaum Disabilitas Vs Kaum OJOL
Larangan Mudik untuk...
Larangan Mudik untuk Keselamatan Publik
Korona Hadiah Terbesar...
Korona Hadiah Terbesar di Hari Kesehatan Dunia
Berita Terkini
Alasan Prabowo Pilih...
Alasan Prabowo Pilih Nanik S Deyang jadi Kepala BGN Gantikan Dadan Hindayana
Silmy Karim Tersangka...
Silmy Karim Tersangka Korupsi, Komisi III DPR: Usut Tuntas Tanpa Pandang Bulu
Hebat! Kota Semarang...
Hebat! Kota Semarang Raih Penghargaan Nasional Creative Financing, Bukti Inovasi Pemkot Hadirkan Pembangunan yang Berdampak
2 Wamen Kabinet Prabowo...
2 Wamen Kabinet Prabowo Terjerat Korupsi, Nomor 1 Divonis 4,5 Tahun Penjara
Prabowo akan Menerima...
Prabowo akan Menerima Surat Kepercayaan dari 17 Dubes pada 8 Juni 2026
Said Iqbal soal Sinyal...
Said Iqbal soal Sinyal Masuk Kabinet Prabowo: Kita Tunggu Pengumuman Resmi
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved