Pancasila, Orang Muda dan Akar Budaya

Senin, 11 November 2019 - 06:36 WIB
Pancasila, Orang Muda...
Pancasila, Orang Muda dan Akar Budaya
A A A
Bambang Soesatyo Ketua MPR RI/Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia

MENGAJAK dan men­do­rong orang mu­da kembali meng­ha­yati dan mem­prak­tikkan akar budaya daerah masing-masing bisa dijadikan model pendekatan untuk mem­bu­mikan Pancasila, karena nilai-nilai luhur Pancasila digali dari kearifan budaya Nusantara.

Keberagaman budaya semua daerah yang kemudian berbaur dalam rentang waktu yang pan­jang telah terpatri dan diterima sebagai akar budaya nasional. Adat istiadat dan tradisi di setiap daerah telah membangun dan membentuk perilaku serta pola pikir masyarakat yang selalu di­landasi kehendak baik dan tulus seturut nilai-nilai agama. Dari itu semua, lahirlah semangat mu­sya­warah untuk mufakat, go­tong royong, semangat keke­luar­ga­an, silaturahmi demi terjaga dan ter­pe­liharanya persaudara­an, saling pengertian dan tole­ran­si, sopan santun, budi pekerti sebagai ke­uta­maan serta se­ma­ngat bekerja sama.

Dengan be­gi­tu, budaya na­sional menge­li­mi­nasi ego ke­lom­pok dan golongan demi terwu­jud­nya persatuan dan kesatuan nasional. Berpijak pada nilai-nilai luhur inilah lima sila Pancasila dirumuskan, dite­tap­kan, dan di­sepakati. Maka, Pan­casila mem­bing­kai per­sa­tu­an dan kesatuan nasional Indo­ne­sia.

Persatuan dan kesatuan itu pun memiliki landasan yang sangat kuat. Fondasi kokoh itu dibangun oleh orang-orang mu­da dari seluruh wilayah Tanah Air pada Oktober 1928. Datang dari daerahnya masing-masing yang tentu saja dengan adat istiadat dan tradisi yang berbeda, mereka berkumpul di Jakarta. Setelah tiga kali bersidang, orang-orang muda Indonesia itu pada 28 Ok­to­ber 1928 mengikrar­kan sum­pah setia kepada Tanah Air Indo­nesia dalam apa yang sampai kini dikenang sebagai Sumpah Pe­mu­da; Bertumpah darah Satu, Tanah Air Indonesia, Berbangsa satu, bangsa Indonesia, Men­jun­jung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.

Dengan ikrar orang-orang muda Indonesia itu, 17.504 pu­lau menjadi Negara Kesatuan Re­publik Indonesia (NKRI); 1.340 suku menjadi bangsa Indonesia, dan 1.331 bahasa daerah mene­ri­ma bahasa Indonesia sebagai ba­hasa persatuan. Ikrar orang-orang muda kemudian dipahami sebagai tonggak utama dalam sejarah pergerakan bangsa seka­li­gus sebagai kristalisasi sema­ngat bagi berdirinya negara Indo­ne­sia.

Dan, untuk merawat kebi­ne­ka­an, Pancasila kemudian di­se­pakati sebagai pandangan hi­dup bangsa Indonesia, men­ja­di dasar negara serta sumber ke­kuat­an yang mempersatukan bang­sa. Alasannya sangat jelas, karena nilai luhur lima sila Pan­casila itu digali dari akar budaya atau sistem nilai semua suku yang sudah diterima sebagai nor­ma kehidupan bermasyarakat di semua daerah atau pulau. Maka, Indonesia yang Bhinneka Tung­gal Ika ini ada dan eksis karena Kehendak Tuhan.

Maka, menjadi kewajiban se­tiap generasi Indonesia untuk me­rawat kebhinnekaan ini da­lam bingkai Pancasila.

Ketika dalam beberapa tahun terakhir hingga saat ini muncul rongrongan terhadap eksistensi Pancasila dan adanya upaya me­rongrong persatuan dan kesa­tu­an nasional Indonesia, orang mu­­da Indonesia tidak boleh ting­­gal diam.

Maka, mendorong orang mu­da Indonesia untuk kembali meng­hayati dan mempraktik­kan akar budaya daerah masing-masing bisa dijadikan model pen­dekatan untuk membu­mi­kan Pancasila dan merawat NKRI. Alasannya, karena NKRI terbentuk oleh kehendak dan dorongan orang muda dan nilai-nilai luhur Pancasila digali dari kearifan budaya yang melekat turun-temurun di semua dae­rah. Dan, semua orang muda bangga dengan kekayaan dan kearifan lokal yang bersumber dari akar budaya daerahnya ma­sing-masing.

Festival Budaya

Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) menyebut ada lima tantangan utama dalam upaya membumikan ideologi Pan­casila. Supaya lebih kom­prehensif pemahamannya, kerja membumikan Pancasila adalah bagian tak terpisah dari merawat eksistensi NKRI.

Kerja mem­bu­mi­kan Pancasila bukanlah isu yang menarik bagi orang muda se­hingga mendengarnya pun be­lum tentu mereka tertarik. Ha­rus terus dieksplorasi model-mo­del pendekatan yang me­mung­kinkan bangkitnya minat orang muda untuk tahu, paham, dan menghayati lima sila Pa­ncasila itu.

Semuanya sangat berga­n­tung pada efektivitas pola ko­mu­ni­kasi. Generasi orang tua masa kini mengakui bahwa untuk be­berapa aspek menjadi tidak ter­lalu mudah berkomunikasi de­ngan Generasi Milenial dan Ge­ne­rasi Z. Apalagi, kalau materi obro­lannya tentang Pancasila. Memang, masih sangat dimung­kin­kan untuk meminta 100 atau 200 orang muda berkumpul da­lam satu ruangan besar dan du­duk mendengarkan pidato atau ceramah tentang Pancasila. Per­ta­nyaannya, apakah pen­de­kat­an seperti ini efektif untuk orang muda masa kini? Banyak ka­lang­an sudah meragukan cara seperti ini. Dengan begitu, pencarian mo­del pendekatan harus lebih di­dahulukan.

Kalau generasi orang tua sulit mengomunikasikan nilai-nilai Pancasila, mengapa tidak me­nge­rahkan orang muda sendiri yang melakukannya? Mereka yang paling tahu bagaimana men­dekati dan berkomunikasi dengan rekan sebaya, dengan cara dan gaya yang mudah dipa­hami oleh komunitas mereka sen­diri. Tentu saja orang-orang mu­da dengan misi mem­bu­mikan Pancasila itu harus di­per­siapkan dengan matang.

Menjadi lebih ideal jika upaya itu dikaitkan dengan sistem nilai atau norma-norma yang ter­kan­dung dalam akar budaya setiap daerah. Me­nun­jukkan bahwa ke­arifan lokal yang turun-temu­run itu di­adop­si menjadi sila-sila Pan­ca­sila untuk merawat har­moni ke­hidupan komunitas itu.

Salah satu pintu masuk yang bisa di­pilih adalah menye­len­g­gara­kan festi­val budaya lokal di setiap daerah. Festival budaya lokal pa­da ting­kat­an daerah relevan un­tuk se­ma­kin diintensifkan. Se­lain un­tuk menanamkan ke­arif­an lokal pada generasi muda se­tem­pat, juga efektif untuk mem­bendung budaya asing yang des­truktif.

Suka tidak suka, harus dika­ta­kan bahwa ada upaya dari ke­lompok tertentu untuk menarik masyarakat keluar dari akar bu­daya daerahnya. Pada satu atau dua aspek, upaya itu sudah mem­buahkan hasilnya. Salah satu con­tohnya adalah perilaku into­le­ran yang merebak di sejumlah tempat.

Memulihkan harmoni kehi­dup­an berbangsa dan bernegara se­perti di masa lalu memang bu­kan pekerjaan mudah. Tetapi, upa­ya pemulihan itu harus di­mu­lai dan terjaganya konsis­ten­si­nya. Sebagian upaya itu layak di­percayakan kepada orang mu­da Indonesia di semua daerah, karena mereka lebih komuni­ka­tif dengan rekan segenerasi.
(kri)
Berita Terkait
Bakal Dilaporkan ke...
Bakal Dilaporkan ke Polisi, Saiful Mujani: Yang Ideal, Opini Dibalas Opini
Pancasila Sakti
Pancasila Sakti
Opini Guru Besar Anti-TWK
Opini Guru Besar Anti-TWK
Menghapus Asimetris...
Menghapus Asimetris Relasi di Hari Buruh
Pertempuran Sungai Nil,...
Pertempuran Sungai Nil, Perebutan Energi Sumber Daya Alam
Akhir Ramadan, Sportifitas...
Akhir Ramadan, Sportifitas dan Optimisme
Berita Terkini
Dukung Naniek S Deyang...
Dukung Naniek S Deyang Pimpin BGN, Arus Bawah Prabowo Minta Program MBG Dibenahi
Wamenkum: 20 DIM RUU...
Wamenkum: 20 DIM RUU Polri Bakal Dibahas Bareng DPR
2 Pengusaha Divonis...
2 Pengusaha Divonis 1,5 Tahun Penjara, Kuasa Hukum: PT KEM Korban Sistem di Kemnaker
Silmy Karim Jadi Tersangka...
Silmy Karim Jadi Tersangka KPK, Mensesneg: Kita Perang Melawan Korupsi
Pertama Dalam Sejarah,...
Pertama Dalam Sejarah, Kemenag Lantik 15 Perempuan Jadi Kepala KUA
Tak Kaget Dadan dan...
Tak Kaget Dadan dan Silmy Terjerat Kasus Korupsi, Noel: Juni-Juli Banyak Pejabat Ditangkap KPK
Infografis
Trionda, Bola Robotik...
Trionda, Bola Robotik Piala Dunia 2026 yang Punya Baterai dan Sensor VAR
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved