Mampukah Media Sosial Meruntuhkan Hegemoni Tv?

loading...
Mampukah Media Sosial Meruntuhkan Hegemoni Tv?
Mampukah Media Sosial Meruntuhkan Hegemoni Tv?
A+ A-
Makroen Sanjaya Praktisi Media,

Mahasiswa Doktoral Sekolah Pascasarjana Universitas Sahid, Jakarta

NYARIS tanpa pertanda, karyawan dipangkas, pun sejumlah program pamit dari NET TV. Publik ternganga heran. NET dengan kredo "Televisi Masa Kini", dikenal sebagai televisi dengan program berkualitas. Di kalangan milenial, NET menjadi idola. Tapi idealisme NET di tangan sang nakhoda Wishnutama takluk oleh realisme pasar. Hukum besi bisnis televisi yang sejak lama digenggam oleh sistem kapitalisme global, akhirnya memberi bukti sekali lagi; sebagus apa pun program televisi, jika berjarak dengan selera pasar, jangan harap bisa eksis. Kelindan sistem kapitalistik, dan fenomena ledakan internet serta gelembung media sosial, bisa jadi dituding sebagai kambing hitam.

Kasus NET, mungkin hanya sebuah replika dari situasi umum, yang mengendap di depan mata. Ada dua pertanyaan penting, untuk melihat masa depan bisnis media penyiaran swasta. Pertama, apakah faktor rating, share, audience reach terus menjadi variabel tunggal bagi kelangsungan hidup televisi di masa depan? Kedua, bagaimana penetrasi media dalam jaringan (daring), khususnya media sosial dalam menggoyang hegemonistik televisi yang sudah berlangsung hampir tiga dekade ini?



Kualitas versus Ekonomi Media

Sejak lama, bisnis media nasibnya ada di tangan rezim tunggal Nielsen Media Research, yang produknya berupa data kepermisaan dari 11 kota besar di Indonesia. Menurut Ade Armando, pilihan sampel di 11 kota oleh Nielsen itu tidak mewakili secara memadai populasi di Indonesia. Nielsen, kata Ade, memang tidak sedang berusaha menangkap perilaku masyarakat Indonesia, melainkan perilaku masyarakat di daerah-daerah yang paling potensial menjadi pasar bagi produsen barang (2016:76). Data kepemirsaan ini menjadi "malaikat pengadil" bahkan "malaikat pencabut nyawa" bagi suatu program televisi.

Dalam iklim kapitalistik, pebisnis tv dipaksa harus adaptif dengan konsep komunikasi internasional kontemporer, yang menurut Artz & Kamalipoui (2003:3-15) mensyaratkan adanya jalinan trilogi entitas, yaitu globalisasi, hegemoni media, dan kelas sosial, yang mengirim pesan bahwa industri tv mutlak melakukan efisiensi biaya produksi konten. Sejak berubah dari Spacetoon menjadi NET pada 2013, tv itu selalu menghuni papan tengah bawah atau tier 2 dari 14 atau 15 tv berjaringan nasional.



Pemeringkatan ini seharusnya memaksa awak tv piawai mengendalikan biaya produksi (cost production). Ketika berahi memproduksi program berkualitas menggebu, seketika jor-joran dalam biaya, di saat yang sama akan terbentur pada situasi yang tidak dikehendaki oleh globalisasi, yaitu efisiensi. Pelaku industri tv mutlak memahami hukum ekonomi media, yang menurut Philip M.Napoli (2009) membantu untuk mengerti faktor pembentuk evolusi, perilaku, keluaran konten, dan paling pokok dampak dari industrialisasi media. Sebanyak apa pun anggapan bahwa media adalah entitas politik dan budaya, tetapi yang paling perlu dicamkan adalah media merupakan entitas ekonomi.
halaman ke-1 dari 2
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top