Muhammadiyah dan Tajdid Peradaban

Sabtu, 17 November 2018 - 08:39 WIB
Muhammadiyah dan Tajdid...
Muhammadiyah dan Tajdid Peradaban
A A A
Muhbib Abdul Wahab

Dosen Pascasarjana FITK UIN Syarif Hidayatullah,

Sekretaris Lembaga Pengembangan Pesantren PP Muhammadiyah

PADA 18 November 2018 ini Mu­ham­ma­diyah genap ber­usia 106 tahun. Secara psikologis, usia tersebut tergolong sangat matang dan de­wasa karena telah me­lam­paui satu abad lebih dalam ber­de­dikasi untuk negeri sebagai gerakan dakwah amar makruf nahi mungkar yang bervisi taj­did (pembaruan, reformasi) me­nuju Islam berkemajuan di Indonesia tercinta.

Memasuki 100 tahun ke­dua, Muhammadiyah dinilai se­bagai organisasi sosial ke­aga­maan paling konsisten dengan khitahnya, paling tertib ad­mi­nis­trasinya dan paling akun­ta­bel manajemennya. Dengan me­­ngusung tema milad “Ta’awun untuk Negeri”, Mu­ham­madiyah terus menyinari dan mencerahkan negeri.

Tema “Taíawun “ (saling me­no­long, berkolaborasi, ber­ba­gi, dan bergotong-royong) meng­isyaratkan bahwa Mu­ham­ma­diyah senantiasa isti­ka­mah me­ngepakkan “sayap dakwah pen­cerahan dan jihad ke­umat­an­nya” secara lebih luas dan lebih strategis dengan lima ke­ung­gulan amal usahanya: pen­di­dik­an, kesehatan, pe­la­yan­an dan kesejahteraan so­sial, pe­mi­kiran keagamaan yang mo­de­rat, dan jihad kon­s­ti­tusinya yang sangat pro­rakyat.

Mengapa Muhammadiyah mam­pu bertahan melampaui satu abad, melintasi zaman, dan tetap dinamis dengan khi­tahnya sebagai gerakan tajdid (pembaruan)? Kunci suk­ses­nya dalam aktulisasi Islam ber­kemajuan adalah keikhlasan, kemandirian, ketekunan, ke­se­der­hanaan, dan kesabaran. Ke­ikhlasan para kader dan sim­pa­tisan dalam berjuang melalui Muhammadiyah membuat pim­pinan, anggota, dan sim­pa­tisan selalu berkomitmen un­tuk “menghidup-hidupi Mu­hammadiyah” dan tidak men­cari penghidupan dalam Mu­hammadiyah. Persyarikatan ini dijadikan sebagai ladang un­tuk menanam dan me­num­buh­kembangkan amal saleh, ki­nerja keumatan, dan pe­ma­ju­an peradaban.

Ikhlas Berkhidmat

Kemandirian merupakan sa­lah satu kunci soliditas pim­pin­an, anggota, dan sim­pa­tis­an Mu­hammadiyah sehingga me­­mi­liki mental baja dalam me­ngem­bangkan amal usaha, tan­pa harus bergantung ke­pa­da pi­hak lain, dan tidak juga men­­ja­di­kan jabat­an pada bi­rok­rasi pe­me­rintah sebagai “ATM” per­sya­rikatan. Ke­­­te­kun­an pim­pin­an dalam meng­­urus amal usa­ha menjadi­kan te­rus ber­kem­bang dan ber­ke­ma­juan. Sekadar con­toh dari buah ketekunan, sejak 1915, Mu­hammadiyah te­lah me­rin­tis penerbitan ma­jalah Suara Mu­ham­ma­diyah, dan hing­ga se­karang te­tap terbit bah­kan se­ma­kin ma­ju, se­hing­ga majalah ini me­raih rekor Muri seba­gai ma­jalah Is­lam yang terbit ber­ke­si­nam­­­bung­an ter­­lama (103 tahun).

Di era milenial ini kita di­ha­dap­kan pada tantangan glo­ba­li­sasi, teknologi infor­masi, dan ko­muni­kasi yang semakin kom­pleks dan menuntut re­aktualisasi tajdid (pembaruan) peradaban. Dalam forum Muk­tamar ke 47 di Makassar, Agus­tus 2015 lalu, Muhammadiyah te­lah menghasilkan 13 butir re­ko­mendasi untuk ditin­dak­lan­juti oleh PP Muhammadiyah pe­riode 2015-2020.

Salah satu dari 13 re­ko­men­dasi itu adalah membangun ma­syarakat dengan ilmu. Mu­ham­madiyah menilai budaya ilmu di Indonesia masih ren­dah dan men­jadi masalah se­rius bagi bang­sa. Kelemahan dari budaya keilmuan juga me­nye­babkan se­bagian warga bang­sa sering ber­tindak tidak rasional, bahkan terkadang ber­perilaku tidak se­suai de­ngan akal sehat.

Oleh ka­rena itu, bangsa In­do­ne­sia perlu mem­bangun ke­ung­gul­an de­ngan mengem­bang­kan ma­sya­ra­­kat ilmu melalui pe­­ngem­bang­an budaya literasi, ge­rak­an membaca, meneliti, me­nu­lis, ber­pikir rasional, ber­tindak stra­tegis, bekerja efi­sien, dan menggunakan tek­no­logi un­tuk tujuan ke­mas­la­hat­an, ke­adab­an perilaku, dan ane­ka ki­nerja produktif dan kons­truktif.

Selain itu, Muktamar Mu­hammadiyah juga me­re­ko­men­­dasikan pentingnya pe­ning­­katan daya saing umat Islam. Indonesia selama ini di­anggap sebagai negara Islam ter­besar di dunia. Namun, ek­sis­tensinya belum mampu mem­berikan yang terbaik bagi bangsa dan negara di dunia in­ternasional. Bahkan, sikap min­der dengan negara lain pun kerap muncul. Muslim di In­do­nesia itu seolah majority with minority mentality atau in­fe­riority complex. Akibat­nya, umat ini gampang ter­pe­nga­ruh oleh aneka budaya ne­ga­tif dan destruk­tif dari luar. Dua kata kunci re­ko­men­dasi tersebut, yaitu masyarakat ilmu dan peningkatan daya saing umat Islam Indonesia meng­haruskan reaktualisasi tajdid peradaban era milenial ini.

Aktualisasi Tajdid Peradaban

Islam berkemajuan yang di­cita-citakan oleh pendiri Mu­ham­madiyah perlu diperkokoh se­tidaknya dengan tiga lan­das­an dalam rangka aktualisasi taj­did peradaban ke depan. Per­ta­ma, peneguhan “teologi al-Ma’un”. Teologi al-Ma’un me­ru­pakan landasan berpikir, ber­ge­rak, dan bertindak yang di­ajar­kan KH Ahmad Dahlan da­lam mema­hami dan ak­tua­lisasi Islam sebagai agama dan per­adab­an. Praksis dari teologi al-Ma’un yang diteladankan Ah­mad Dahlan ini tidak saja me­nginspirasi dan memotivasi war­ga persyarikatan, karena Islam yang diperkenalkan bu­kan sekadar Islam wacana, me­lainkan Islam rahmatan lil ’alamin yang membumi secara nyata dan berdaya guna.

Kedua, revitalisasi teologi wal ’ashri–karena Ahmad Dah­lan sering juga mengajarkan subs­tansi surat al-’Ashr–meng­hendaki Muhammadiyah se­ba­gai gerakan tajdid mampu me­ma­dukan gerakan pe­mi­kir­an se­kaligus gerakan per­adab­an yang bervisi rahmatan li al-’alamin dalam konteks za­man­nya. Tajdid peradaban yang ha­rus dikem­bang­kan Mu­ham­ma­diyah bu­kan hanya untuk me­layani dan memajukan umat Is­lam, tetapi juga me­ma­ju­kan bang­sa, mem­bela NKRI, dan mem­bumikan konsep bal­datun thayyibatun wa rabbun ghafur (ne­geri yang gemah ripah loh ji­nawi, toto tenterem, adil mak­mur, dan mendapat lindungan ampunan Tuhan) da­lam rumah besar NKRI.

Ketiga, tajdid peradab­an Mu­ham­ma­diyah harus di­mu­lai dengan para­digma berpikir ho­listik integratif dalam me­ma­hami, memaknai dan kon­teks­tualisasi nilai-nilai Islam dalam ke­hidupan ke­bangsaan dan ke­umatan. Karena itu, ayat-ayat Qur’aniyyah harus di­padukan dan diim­ple­men­ta­si­kan secara proporsional de­ngan ayat-ayat kawniyyah dan ijtima’iyyah (alam dan sosial) dalam ber­ma­syarakat, ber­bang­­sa dan ber­ne­gara. Jadi, visi peradaban Islam yang di­kembangkan Mu­ham­ma­diyah harus dapat ditrans­for­ma­si­kan menuju Indonesia ber­ke­ma­juan. Oleh karena itu, gerak­an pemikiran dan per­adab­an (membangun budaya literasi, gerakan ide, pengem­bangan ilmu, riset, dan pen­di­dik­an) ha­rus dibarengi dan di­pa­dukan de­ngan gerakan amal sosial me­lalui pemberdayaan ins­ti­tusi (pen­di­dik­an, sosial, bu­da­ya, politik) yang efektif dan dinamis.

Aktualisasi tajdid per­adab­an Muhammadiyah juga me­nis­cayakan pentingnya refor­ma­si sistem pendidikan dari yang bersifat dikotomik-par­sial menuju sistem pendidikan holistik intergatif dengan visi pro­fetik. Oleh sebab itu, kua­li­tas sistem pendidikan Mu­ham­madiyah dari TK hingga Per­gu­ru­an Tinggi harus di­kem­bang­kan dan ditingkatkan agar mam­pu berkontribusi lebih prog­resif bagi pengembangan wawasan kebangsaan, ke­daulat­an, dan keadilan sosial.

Islam dan Indonesia ber­ke­ma­juan sejatinya merupakan se­buah keniscayaan, apabila Muhammadiyah mampu me­ng­isi ruang kebinekaan ga­gas­an, pemikiran, dan aksi-aksi peradaban Indonesiawi yang Islami. Pemaknaan NKRI se­ba­gai dar al-ahdi wa as-syahadah (negeri perjanjian dan pem­buk­tian) mengharuskan Mu­ham­madiyah secara proaktif dan progresif menjadikan diri­nya sebagai kekuatan per­adab­an bangsa dalam membangun kedaulatan, kesejahteraan, dan keadilan sosial.

Dengan visi tajdid per­adab­an Indonesiawi yang Islami, Mu­hammadiyah ke depan di­ha­rapkan mampu ber­kon­tri­busi positif melalui aneka ge­rak­an tajdid-nya dalam me­ngawal tegaknya kedaulatan hukum, politik, ekonomi, ener­gi, pangan, budaya, dan ke­lautan. Dengan jihad kons­ti­tusinya yang berulang kali ter­bukti mampu mengkritisi dan memenangi juducial review di Mahkamah Konstitusi, Mu­ham­madiyah tentu sangat di­andalkan untuk meng­ak­se­le­rasi penegakan hukum yang ber­keadilan, mengkritisi, dan me­nasihati aparat penegak hu­kum agar hukum ditegakkan tanpa pandang bulu, tidak tum­pul ke atas tapi tajam ke bawah, tidak membela yang bayar tapi mengabaikan yang benar.

Dalam al-Akhlaq wa al-Qiyam fi al-Hadharah al-Is­lamiy­yah (Moral dan Nilai-nilai da­lam Peradaban Islam), Raghib as-Sirjani (2016) menegaskan bah­wa pilar kemajuan per­adab­an ada­lah tegaknya ke­adilan mul­ti­dimensi (hukum, eko­nomi, so­sial politik, pen­di­dik­an, bu­da­ya), silaturahmi (ke­keluargaan, kebangsaan, dan ke­ma­nu­sia­an), kasih sa­yang, solidaritas dan soliditas sosial, ke­har­mo­nis­an ke­hi­dup­an keluarga bang­sa, dan ke­pe­mimpinan (ke­luar­ga, sosial, po­litik, dan pe­me­rin­tahan) yang kuat, berintegritas, ber­bu­daya positif, dan melayani rakyatnya sepenuh jiwa dan ra­ga­nya. Dalam konteks ini, Mu­hammadiyah perlu hadir de­ngan menyiapkan madrasah ke­pe­mimpinan bangsa, seba­gai­mana madrasah anti­ko­rup­si, se­hingga ke depan mampu me­nyiapkan pemimpin-pe­mim­pin bangsa yang bervisi mem­ba­ngun per­adaban In­do­ne­sia ber­ke­majuan dan ber­keadilan sosial.
(kri)
Berita Terkait
Bakal Dilaporkan ke...
Bakal Dilaporkan ke Polisi, Saiful Mujani: Yang Ideal, Opini Dibalas Opini
Pancasila Sakti
Pancasila Sakti
Opini Guru Besar Anti-TWK
Opini Guru Besar Anti-TWK
Menghapus Asimetris...
Menghapus Asimetris Relasi di Hari Buruh
Pertempuran Sungai Nil,...
Pertempuran Sungai Nil, Perebutan Energi Sumber Daya Alam
Akhir Ramadan, Sportifitas...
Akhir Ramadan, Sportifitas dan Optimisme
Berita Terkini
Kawal Anggaran Negara,...
Kawal Anggaran Negara, Pengamat Dukung Kejagung Usut Tuntas BGN hingga ke Daerah
KPK: Silmy Karim Kantongi...
KPK: Silmy Karim Kantongi Rp100 Juta per Pekan dari Pemerasan Izin Tinggal WNA
Nanik S Deyang Ungkap...
Nanik S Deyang Ungkap Mayjen Trenggono Segera Mundur dari TNI usai Jadi Wakil Kepala BGN
Tutup P3N 27, Gubernur...
Tutup P3N 27, Gubernur Lemhannas Tegaskan Pemimpin Nasional Harus Berintegritas, Adaptif, dan Visioner
Jejak Uang Rp366,7 Miliar...
Jejak Uang Rp366,7 Miliar ke Pegawai Imipas Bongkar Dugaan Pemerasan oleh Silmy Karim
Kejagung Tak Sita Motor...
Kejagung Tak Sita Motor Listrik Kasus Dugaan Korupsi di Badan Gizi Nasional, Ini Alasannya
Infografis
Trade Misinvoicing dan...
Trade Misinvoicing dan Upaya Penguatan Integritas Perdagangan Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved