Menghentikan Diseminasi Kebencian

Jum'at, 03 Agustus 2018 - 08:05 WIB
Menghentikan Diseminasi...
Menghentikan Diseminasi Kebencian
A A A
Anggi Afriansyah
Peneliti Sosiologi Pendidikan-Pusat Penelitian Kependudukan LIPI

MENJELANG Pemilu 2019 suhu politik semakin meng­ha­ngat. Kon­tes­tasi antarpihak yang bersebe­ra­ng­an pandangan politik se­makin riuh. Yang dilakukan adalah berusaha sekeras mung­kin me­motret kele­mah­an lawan po­li­tik dengan be­ra­gam cara. Vi­brasinya semakin mudah karena adanya media sosial, ma­suk ke gawai kita ma­sing-ma­sing secara cepat dan masif tanpa filter. Adu ta­gar, saling cibir dan cela se­olah biasa saja dalam politik ke­se­harian kita.

Musim politik memang membuat akal sehat kembali diuji. KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus beberapa waktu lalu dalam cuitannya di Twitter misalnya menyebut, “Kalau in­ti­nya soal dukung-men­du­kung, maka akal sehat tidak diperlukan dan argumentasi bisa dicari-cari ”. Dan memang demikianlah kon­disi yang terjadi saat ini. Per­karanya bukan soal me­ngapa mendukung pilihannya sendiri dengan didukung argumentasi yang logis dan rasio­nal, tetapi lebih menge­de­pan­kan pembenaran yang kadang jauh dari akal sehat. Argumen selalu bisa dibuat disesuaikan dengan sesuai selera diri dan kelompoknya. Jauh dari nalar soal belakangan.

Kondisi tersebut tidak se­hat bagi suasana kebatinan bangsa ini. Perbedaan politik membuat antarteman, ke­luar­ga, atau kolega bekerja berha­dap-hadapan secara frontal, membuat kubu masing-ma­sing. Tak ada lagi rasa percaya terhadap kelompok yang me­miliki pandangan berbeda ka­rena yang dianggap benar ada­lah kaum atau kelompoknya sendiri.

Dukung-mendukung calon pilihan favorit individu ma­sing-masing merupakan hal wajar dalam proses demokrasi dan hak yang perlu dihargai. Se­bab sudah pasti setiap individu me­miliki kecenderungan baik se­cara subjektif maupun ob­jektif dalam mendukung ja­goa­n­nya. Juga menginginkan agar calon yang didukungnya menang dan memperjuangkan apa yang men­jadi keyakinan dan as­pi­rasinya.

Yang menjadi problem, saat ini dukung-mendukung politik cenderung dilakukan dengan melawan akal sehat dan mo­ra­litas. Menjadikan seseorang tak segan menghina mereka yang berbeda pandangan de­ngannya. Dan pada batas yang paling mengerikan adalah be­ra­ni melakukan persekusi dan intimidasi dengan amat te­lan­jang kepada mereka yang ber­beda pilihan. Memolitisasi apa­pun yang bisa digunakan untuk menjungkal lawan politiknya, mereka yang berbeda paham.

Membangun optimisme
Kabar sejuk perlu di­em­bus­kan lebih kuat oleh siapa saja yang peduli akan nasib bangsa ini. Yang perlu dibangun adalah narasi-narasi yang bersifat po­sitif yang membangkitkan op­ti­misme, bukan kisah pesimis yang mematahkan semangat. Kisah-kisah tersebut dapat digali dari realitas keseharian bangsa ini. Yang diambil dari praktik terbaik generasi-ge­ne­rasi terdahulu maupun anak-anak bangsa saat ini.

Buku Mata Air Keteladanan: Pan­casila dalam Perbuatan (2014) karya Yudi Latif misalnya dapat menjadi salah satu bacaan yang mampu menjadi gambaran dari praktik keteladanan anak bang­sa dalam mengamalkan Pan­ca­sila. Tokoh-tokoh teladan ter­se­but disajikan merujuk pada be­ragamnya Indonesia dari segi aga­ma, etnis, kelas sosial, dan wi­layah. Bukan hanya digali dari kisah tokoh di masa lalu, tapi tokoh-tokoh yang masih ada saat ini.

Indonesia memang bukan milik satu golongan. Indonesia yang bineka ini dibangun oleh jerih payah semua anak bangsa apapun agamanya, golo­ng­an­nya, pilihan partai, dan ideo­loginya. Indonesia adalah hasil gotong royong bersama s­e­lu­ruh anak bangsa. Soal gotong-royong ini menurut Soekarno adalah perkataan Indonesia tulen yang didapat jika kita memeras lima sila dari Pan­ca­sila. Gotong Royong, dalam pandangan Soekarno, adalah pem­bantingan tulang ber­sa­ma, pemerasan keringat ber­sa­ma, perjuangan bantu mem­ban­tu, amal semua buat ke­pen­tingan (Adams, 2007).

Kita harus menyadari bah­wa potensi bangsa ini begitu besar, dan akan sangat sia-sia jika lebih banyak dihabiskan pada hal-hal yang kon­tra­pro­duktif dan menguras emosi. Anak-anak yang masih me­ngenyam pendidikan perlu te­rus diajak untuk tak pernah ber­henti mencintai bangsa ini. Mengajak mereka untuk lebih memperhatikan realitas bang­sa ini secara faktual. Bukan se­ba­tas teori atau retorika. Ajak mereka untuk peduli pada ling­kungan sekitar rumah ataupun sekolah. Bawa mereka me­ra­sa­kan denyut nadi bangsa ini dan apa yang menjadi kegelisahan bangsa ini.

Beberapa sekolah memiliki program yang mengajak anak perduli dengan realitas bang­sanya. Misalnya saja tinggal (live in) selama beberapa hari de­­ngan lingkungan keluarga yang begitu berbeda kondisi ekonomi, kelas sosial, maupun secara agama dan budaya. Bu­kan lagi sebatas pe­ngalaman tapi juga sudah pada praktik. Itu menjadi bahan dasar pen­ting bagi perkembangan diri anak-anak tersebut. Mem­ba­ng­kitkan kesadaran adalah upa­ya terbaik agar mereka me­mi­liki ikatan kuat terhadap kon­disi bang­sa­nya. Per­jum­pa­an-per­jum­paan se­macam ini­lah yang perlu di­la­kukan oleh sekolah. Pertautan de­ngan mereka yang berbeda akan me­numbuhkan kesa­dar­an in­dah­nya keberagaman.

Ajak mereka untuk tak ikut ribut-ribut di media sosial se­perti yang dilakukan oleh orang dewasa. Beri ruang yang lebih leluasa bagi mereka untuk tetap berani menyampaikan ar­gumennya. Dorong mereka untuk selalu siap untuk ber­dia­log. Kedepankan pembelajaran yang membuat mereka ber­usa­ha untuk menyelesaikan per­soalan secara bersama. Uta­ma­kan pembiasaan dalam ber­ko­la­borasi bukan lagi kompetisi yang berlebihan. Bersatu padu dan bergotong royong akan memberikan hasil terbaik un­tuk kemaslahatan bangsa ini.

Keluarga, sekolah, dan ma­syarakat atau tri sentra pen­di­dikan dalam pandangan Ki Hadjar Dewantara, menjadi pen­ting menjaga akal sehat. Dari ruang-ruang tersebutlah dialog perlu dibangun, pra­sang­ka dikikis, dan setiap nada sumbang pesimistis ditolak. Upaya yang perlu dilakukan un­tuk menghentikan di­se­mi­nasi kebencian yang semakin semarak.
(thm)
Berita Terkait
Bakal Dilaporkan ke...
Bakal Dilaporkan ke Polisi, Saiful Mujani: Yang Ideal, Opini Dibalas Opini
Pancasila Sakti
Pancasila Sakti
Opini Guru Besar Anti-TWK
Opini Guru Besar Anti-TWK
Kaum Disabilitas Vs...
Kaum Disabilitas Vs Kaum OJOL
Larangan Mudik untuk...
Larangan Mudik untuk Keselamatan Publik
Korona Hadiah Terbesar...
Korona Hadiah Terbesar di Hari Kesehatan Dunia
Berita Terkini
Roy Suryo Sentil Rismon...
Roy Suryo Sentil Rismon Sianipar yang Ungkit Lagi Kasus Panci: Perkara Sudah Inkrah
6 Pejabat TNI AL Berganti,...
6 Pejabat TNI AL Berganti, Kadiskomlekal hingga Kadislitbangal
Presiden Prabowo Fokus...
Presiden Prabowo Fokus pada Kebutuhan Dasar Rakyat dan Kesejahteraan Masyarakat
Kubu Roy Suryo Tepis...
Kubu Roy Suryo Tepis Berkas Kasus Pencemaran Nama Baik Terkait Ijazah Jokowi Sudah P21
Roy Suryo Bandingkan...
Roy Suryo Bandingkan Lamanya Penanganan Kasus Ijazah Jokowi dengan Jessica dan Ferdy Sambo
DKPP Pecat Ketua Bawaslu...
DKPP Pecat Ketua Bawaslu Kabupaten Tambrauw karena Terbukti Masih Berstatus ASN
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved