Upaya Kreatif Melawan Ekstremisme

Kamis, 05 April 2018 - 08:15 WIB
Upaya Kreatif Melawan...
Upaya Kreatif Melawan Ekstremisme
A A A
Khelmy K Pribadi
Direktur Program Islam dan Media MAARIF Institute Alumnus Pascasarjana Sosiologi UI

VIDEO kekerasan di Gereja Santa Lid­wi­na Bedog, Sle­man, Daerah Istime­wa Yogyakarta, pada Ming­gu (11/2) lalu, begitu me­nge­rikan. Teror atas nama fa­na­tisme agama kem­bali men­ce­kam bangsa Indo­ne­sia. Misa pagi yang seharusnya khusyuk mesti dikoyak dengan aksi bia­dab Suliono (23 tahun), pemuda yang bermimpi me­ni­kahi bi­dadari. Akibat peristiwa ini, tiga orang jemaat dan se­orang Ro­mo mengalami luka serius.

Kekerasan ekstremisme atas nama agama sering kali me­li­batkan anak muda, seperti be­be­rapa kasus bom bunuh diri. Pe­rilaku ke­ke­rasan melibatkan anak muda tak bisa di­le­paskan dari pe­ne­tra­si pe­nge­tahuan dan pe­nga­laman yang menerpa anak muda.

Generasi Rentan

Peristiwa ini mengingatkan kita pada penelitian Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hi­da­yatullah Jakarta (2017) yang me­libatkan 1.522 siswa SMA atau sederajat dan 337 ma­ha­sis­wa. Survei ini menyebut 58,8% responden menyetujui ideologi kekerasan radikalisme dan 51,1% intoleran terhadap ke­lom­pok yang berbeda agama.

Te­muan menarik dari riset ini 54,87% para anak muda ini me­miliki tren pembelajaran ke­aga­maan melalui internet, baik vi­sual maupun audio visual, se­per­ti blog , situs web, maupun media sosial. Persis dengan rilis data Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII) Ta­hun 2017 menyebutkan 42,55% pengguna internet di In­donesia mengakses internet untuk men­da­patkan informasi ke­aga­maan.

Ini menunjukkan sumber in­for­masi yang diserap me­miliki re­lasi cukup kuat pada sikap in­to­leransi dan potensi eks­tremisme pada anak muda. Kesimpulan ini kongruen de­ngan temuan riset MAARIF Ins­titute pada April-Oktober 2017 ke­pa­da pelajar SMA dan se­de­rajat di empat kota, yakni Ja­kar­ta, Ban­dung, Su­rabaya, dan Se­ma­rang, se­ba­nyak 63% pelajar ber­pen­da­pat bahwa paparan in­to­le­ra­n­si me­reka didapatkan me­lalui saluran internet.

Se­men­tara data K­e­menterian Komu­ni­kasi dan In­formatika sejak 1 Januari hing­­ga 18 Sep­tember 2017 ter­ca­tat bah­wa se­tidaknya ter­da­pat 13.829 aduan per­nya­taan ujaran ke­ben­cian daring (online hate speech) dan berita palsu (hoax-fake news) sebanyak 6.973 aduan.

MAARIF Institute me­yakini bahwa intoleransi pada anak mu­da terjadi tidak hanya karena kurangnya in­formasi yang dise­bab­kan minimnya ketersediaan in­frastruktur in­formasi, tapi juga bisa di­se­bab­kan terlalu banyak­­nya in­for­masi namun in­for­masi tersebut palsu (hoaks) dan dipenuhi de­ngan ujaran ke­ben­cian. Inilah tantangan hari ini ber­kaitan dengan informasi dan eks­­tre­misme, yakni menye­dia­kan in­­formasi yang akurat dan ber­visi pada keadilan serta per­da­mai­an, tapi tetap kon­tek­s­tual.

Oleh sebab itu, upaya me­lakukan intervensi dan pen­ce­gahan ekstremisme tidak hanya me­mer­lukan substansi namun juga kreasi.
Kerja-kerja kreatif untuk me­lawan ekstremisme telah ba­nyak dilakukan masyarakat sipil di In­do­nesia dengan be­ra­gam pro­duk­nya.

Komik strip, Board Game, ap­likasi berbagi ce­r­­ita pe­ngalaman adalah tiga di an­ta­ra­ program krea­tif yang sedang di­helat. Pro­duk-pro­duk kreatif ini telah me­nem­puh jalan baru in­ter­vensi so­sial yang kon­tekstual de­ngan sub­jek in­ter­ve­n­sinya.

Konten-Konteks,
Subjek-Objek


Berdasarkan pengelolaan pro­gram di atas setidaknya ada dua hal penting perlu dicatat. Per­tama, pentingnya menilik kon­ten dan konteks. Penguatan kon­ten informasi setidaknya me­mi­liki dua elan vital, yakni konten dan konteks (kemasan).

Ke­dua­nya memiliki keterkaitan dan tidak bisa dipisahkan. Me­nyusun sebuah konten yang kontekstual membutuhkan ke­dalaman dan kejelian sekaligus. Terutama jika dikaitkan dengan sosok anak muda hari ini yang begitu cepat menyecap per­ubahan zaman.

Anak muda hari ini adalah akumulasi dari generasi Y dan gen­erasi Z yang secara pe­rio­dikal dijelaskan oleh Sosiolog Jerman kelahiran Hongaria Karl Man­nheim (1893-1947) da­lam ar­ti­kel berjudul The Pro­blems of Generations. Se­ba­gai­mana dila­por­kan oleh Aulia Adam dalam se­buah laman bah­wa pengertian ten­tang generasi Z masih sangat beragam, tapi setidaknya bisa disebutkan bah­wa generasi Z adalah ge­ne­rasi yang lahir se­te­lah kelahiran teknologi internet atau lahir setelah tahun 2000. Sementara generasi Y atau mi­le­nial adalah generasi yang lahir an­tara tahun 1980-1997 dan me­lewati mi­le­nium kedua.

Menurut Tom Brokaw da­lam The Greatest Generation (1998) sebagaimana dikutip Nu­­ran Wi­bisono dalam artikel “Me­ma­hami Generasi Milenial” men­je­laskan ada lima ciri ge­nerasi mi­le­nial antara lain, me­lek tek­nologi, bergantung pada mesin pencari, learning by doing, ter­ta­rik pada multimedia, dan mem­buat konten internet. Se­men­tara itu, dalam buku Indo­nesia 2020: The Urban Middle Class Millenials (2016), Ha­sa­nuddin Ali dan Lilik Purwandi me­nye­but­kan, urban middle class mille­nials memiliki ciri 3C, yakni Crea­tive, Connected, dan Con­fi­dence. Ketiga ciri tersebut me­ng­andaikan generasi mi­le­nial se­ba­gai generasi yang lekat dengan kreativitas, selalu ter­ko­neksi dengan internet, me­miliki sikap dan perilaku yang lebih terbuka serta kepercayaan diri yang kuat.

Pelatihan video kebinekaan untuk anak SMA merupakan cara kreatif MAARIF Institute untuk memenuhi platform me­dia sosial berbasis video, seperti YouTube, dengan konten-kon­ten positif-alternatif untuk anak muda dengan beragam ben­tuk, seperti film pendek, video react, parodi, atau komedi situasi. Pilihan video sebagai medium kampanye sangat dipengaruhi oleh konteks ge­nerasi Y dan Z saat ini.

Video di­nilai mewadahi beragam eks­presi baik audio, grafis maupun visual, serta cepat dibagikan. Hal ini kongruen dengan data In­donesia Digital Lanscape 2018 yang mendudukan In­do­nesia pada urutan ketiga ne­gara de­ngan penggunaan in­ter­net ter­besar untuk mengakses video, yakni sebesar 67,4%.

Kedua, pentingnya para­dig­ma anak muda sebagai objek se­kaligus subjek. Dari beragam kerja-kerja di atas memberikan benang merah bahwa melawan ekstremisme dengan cara kre­a­tif mesti meletakkan anak mu­da pada dua aspek, yakni objek dan subjek, dari, oleh, dan un­tuk anak muda (partisipatif).

Pa­radigma ini menjadi penting untuk memastikan kontekstua­litas konten yang akan di­sampaikan dalam beragam pro­duk kampanye sosial tersebut. Sebagaimana penulis da­patkan dalam kesempatan ha­dir di Creators for Social Change Sum­mit di London, Januari lalu. Sa­lah satu aspek utama kam­panye sosial untuk generasi Y dan Z saat ini adalah pentingnya me­ngenali pola pikir anak muda dengan bahasa, narasi, gestur, ser­ta cara berpikir generasi Y dan Z yang khas dan unik.

Un­tuk itu, memperkuat anak mu­da untuk menciptakan konten po­sitif dan alternatif adalah upaya kreatif anak muda ber­bi­cara kepada sebayanya tentang kengerian ekstremisme yang mengancam kebinekaan.
(whb)
Berita Terkait
Bakal Dilaporkan ke...
Bakal Dilaporkan ke Polisi, Saiful Mujani: Yang Ideal, Opini Dibalas Opini
Pancasila Sakti
Pancasila Sakti
Opini Guru Besar Anti-TWK
Opini Guru Besar Anti-TWK
Kaum Disabilitas Vs...
Kaum Disabilitas Vs Kaum OJOL
Larangan Mudik untuk...
Larangan Mudik untuk Keselamatan Publik
Korona Hadiah Terbesar...
Korona Hadiah Terbesar di Hari Kesehatan Dunia
Berita Terkini
Jelang Vonis Kasus Sertifikasi...
Jelang Vonis Kasus Sertifikasi K3, Noel: Kalau Saya Terbukti Peras Pengusaha Hukum Mati
Berkas Roy Suryo Cs...
Berkas Roy Suryo Cs P21, Polda Metro Diminta Segera Lakukan Pelimpahan Tahap Dua
Dadan Hindayana Cs Terjerat...
Dadan Hindayana Cs Terjerat Korupsi, DPR Perketat Pengawasan Tata Kelola di BGN
Noel Jelang Vonis Kasus...
Noel Jelang Vonis Kasus Pemerasan di Kemnaker: Naik Asam Lambung Saya
Kejagung Ungkap Tersangka...
Kejagung Ungkap Tersangka Dadan Hindayana dan 2 Eks Waka BGN Bekerja Sama dan Saling Mengetahui
Tersangka Korupsi, Silmy...
Tersangka Korupsi, Silmy Karim dan Pejabat Imigrasi Dinonaktifkan dari Jabatan
Infografis
Trade Misinvoicing dan...
Trade Misinvoicing dan Upaya Penguatan Integritas Perdagangan Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved