Menakar Aspek Sosial Gadget

Kamis, 01 Februari 2018 - 08:28 WIB
Menakar Aspek Sosial...
Menakar Aspek Sosial Gadget
A A A
Asep Abdurrohman
Mahasiswa Program Doktor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Dosen Muhammadiyah Tangerang

DI zaman digital ini, siapa yang tidak mempunyai per­­angkat canggih HP smart­­phone. Semua kalangan, tua maupun muda. Ekonomi atas, menengah, maupun ba­wah. Orang kota maupun desa. Anak-anak, remaja, pemuda, sam­pai orang­ tua. Mayoritas masyarakat pas­ti memiliki HP smartphone.

Ke mana pun kita pergi, per­ang­kat canggih tersebut selalu me­nemani kita. Saat kerja, pe­gang HP. Saat di mobil, pegang HP. Saat di jalan, pegang HP. Sam­bil menunggu angkutan umum, pegang HP. Sambil me­ngen­darai motor, megang HP. Bah­kan, di saat momen penting pun seperti sedang kuliah, meng­ajar, rapat, makan, ber­sa­ma keluarga, beranjak tidur, dan lain-lain, sambil pegang HP.

Hampir di semua lini ke­hi­dup­an, HP selalu menemani da­lam setiap detak hidupan. Ma­k­lum saja HP di era digital ini su­dah menjadi barang wajib se­ba­gai bagian dari masyarakat di­gi­tal. Menurut Sri Edi Swasono (2017), yang disampaikan da­lam per­kuliahan sistem eko­no­mi Se­ko­lah Pascasarjana UIN Sya­rif ­Hi­­dayatullah Jakarta be­b­­erapa bu­lan yang lalu, m­e­nga­ta­kan bah­wa HP smartphone dan kuota su­dah menjadi ke­bu­tuh­an pri­mer yang harus di­pe­nuhi.

Penggunaannya pun tak ter­ba­­tas ruang dan waktu. Tak ter­ba­tas momen tertentu. Selama ma­sih ada kesempatan, kuota, si­nyal, dan persediaan baterai, se­la­ma itu pula akses internet te­tap bi­sa jalan. Ditambah lagi pe­rang har­ga kuota an­tar­ope­ra­tor dan tek­nis pemesannya yang berbau da­ring membuat ke­nyamanan peng­guna se­ma­kin termanjakan.

Akibatnya, semua orang si­buk dengan dunianya sendiri. Si­buk melakukan komunikasi ja­rak jauh. Sementara orang-orang yang ada di sekelilingnya men­jadi ter­abaikan. Jika sudah be­gi­ni, di sa­tu sisi lingkungan so­sial dalam ja­ringan terjaga. Na­mun, di sisi lain lingkungan so­sial yang nyata jus­tru malah terabaikan.

Berbagai Wajah Penggunaan Gadget
Sekitar setengah dekade ke be­lakang, sebelum marak HP smart­phone terjangkau, ma­sya­ra­kat telah lebih dulu mengenal HP BlackBerry (BB) messenger. Wak­tu itu, di kalangan ma­sya­ra­kat begitu familier. Setiap per­ke­nalan dengan orang baru, se­te­lah mengenai identitasnya pa­da ujungnya terucap, ”boleh min­ta PIN BB-nya?”

Kalimat tersebut sering kali te­r­ucap dalam perkenalan. Hat­ta sekalipun dalam reklame dan span­duk berbau iklan sering me­ncantumkan nomor PIN Black­Berry. Setelah per­kem­bang­an teknologi cukup pesat, lam­bat laun keberadaan Black­Berry mulai tergeser dengan apli­kasi WhatsApp yang datang dari Amerika. Serikat.

Sampai sekarang, ke­be­r­ada­an HP BlackBerry sudah tinggal sej­arah. Empat tahun yang lalu tu­tup alias gulung tikar, karena tak mampu bertahan melawan ke­rasnya persaingan teknologi in­formasi. Kini, aplikasi Whats­App menjadi tuan di negeri ma­je­muk ini.

Penggunaan HP smartphone ba­gi masyarakat memang ber­ba­­gai macam kepentingan di da­lamnya. Tidak sedikit ma­sya­ra­kat menggunakan HP untuk se­kadar melepas kepenatan se­te­lah seharian berjibaku de­ngan pekerjaan di kantor.

Penggunaan HP untuk me­le­pas kepenatan boleh dibilang wajar-wajar saja. HP di era se­ka­rang ini ibaratnya sahabat yang pa­l­ing dekat dengan semua pi­hak yang ada di sekeliling kita. Hat­ta sekalipun orang-orang ter­cinta di keluarga.

Sambil senderan, selonjor, atau tiduran ditemani se­cang­kir kopi dengan khusyuk secara sek­sama memelototi kotak ajaib. Sesekali tersenyum, ter­ta­wa, dan cemberut merespons be­r­bagai informasi, baik di grup WhatsApp atau media sosial.

Setelah bosan merespons ber­bagai informasi dan selancar me­dia sosial, tak sedikit para peng­guna HP smartphone meng­­alihkan perhatiannya ke games, yang pada umum disukai oleh sebagian besar anak remaja dan dewasa, namun sedikit se­ka­li orang tua.

Bosan dari kegiatan games, da­ri sebagian masyarakat se­di­kit se­kali untuk akses ilmu pe­nge­ta­hu­an, di antara mereka le­bih ba­nyak mengakses media so­sial. Me­nurut hasil survei INFID (In­ter­n­asional NGO Fo­rum on In­do­nesia De­ve­lop­ment) tahun 2016, di enam kota be­sar di In­do­ne­sia, yakni Ban­dung, Yog­ya­kar­ta, Surakarta, Su­rabaya, Pon­ti­anak, dan Ma­kas­sar me­nye­but­kan bahwa peng­gunaan lini ma­sa (media so­sial) yang paling ­do­mi­nan di­gu­nakan adalah Face­book, Twit­ter, dan YouTube un­tuk ber­tu­kar informasi secara ce­pat dan murah.

Lalu, hasil survei tersebut me­ngatakan dari total res­pon­den, 1.200 responden berusia 15-30 tahun, 60,4% setiap hari meng­akses internet, 7,4% 3-4 ha­ri seminggu, 2,1% 1-2 hari se­minggu, 16,4% jarang meng­ak­ses internet, dan 13,8% tidak ta­hu menahu soal dunia maya. Ak­ti­­vitas yang paling sering di­la­ku­kan anak muda adalah mem­bu­ka laman media sosial 31,3%, 21,8% komunikasi surat elek­tro­nik, 18,1 % akses portal be­ri­ta, 13,2% hiburan, 7,7% belanja ke­bu­tuhan sehari-hari, 8% ti­dak ta­hu cara mengakses internet.

Dan flatform linimasa yang di­gunakan meliputi FaceBook 64,8%, YouTube 6,3%, Twitter 5,9%, Blog 0,5%, 22, 5% lain-lain. Untuk mengakses internet anak muda saat ini lebih banyak meng­gunakan HP 87,8%, jasa war­net 5,8%, jaringan internet di rumah 3,6%, kantor 1,6%, dan 1,3% tidak menjawab s­e­ba­gai­mana yang dikutip oleh me­dia cetak Suara Muhammadiyah edi­si 16-31 Januari 2017.

Sementara menurut hasil sur­­­vei CSIS, sebagaimana yang di­­­ku­tip oleh media cetak Suara Mu­­­ham­madiyah edisi 2 Januari 2018, me­nyebutkan bahwa 81,7% mi­le­nialis memiliki Face­book , 70,3% meng­gunakan Whats­­­A­pp , 54,7% me­miliki Ins­ta­­­gram. Alhasil, peng­gunaan me­­dia sosial me­nem­pati angka yang pa­ling tinggi jauh dari ke­per­luan un­tuk men­ca­ri ilmu pengetahuan.
Di kalangan penggiat dak­wah dan pendidikan, media so­sial menjadi sarana untuk meng­edukasi warganet yang ke­ba­nyakan anak-anak muda yang sedang mencari jati diri. Bah­kan, beberapa tokoh ba­nyak fokus menggarap media so­sial seperti KH Abdullah Gym­­nastiar yang banyak me­ngu­pas manajemen Qolbu, KH Ari­fin Ilham dengan zikir dan na­si­hatnya. Ustaz Yusuf Man­sur dengan upload video-vi­deo­nya. Ustaz Felix Siau dengan na­si­hat gaya remajanya.

Belakangan, muncul nama Us­taz Adi Hidayat, Ustaz Hanan Ata­ki, dan Ustaz fenomenal, ya­itu Ustaz Abdul Somad yang kini se­dang sibuk safari dakwah ke ber­bagai daerah di Indonesia bah­kan mancanegara. Lengkap de­ngan segala penerimaan dan pe­nolakannya terhadap dak­wah UAS tersebut.

Di tengah-tengah hiruk-pikuk penggunaan media sosial dan aplikasi HP smartphone, ada juga masyarakat yang me­man­faat­kan untuk kegiatan jual-beli on­line, pengawasan kerja lewat grup WhatsApp, iklan berbagai ma­cam kepentingan, trans­por­tasi online, kuliah online, mo­bi­li­sa­si massa untuk kepentingan ter­tentu sampai kegiatan n­e­ga­tif yang belakangan ada akun me­­dia sosial digunakan untuk ke­giatan LGBT dan transaksi ge­lap lainnya.

Menurut Yunahar Ilyas, orang baik tidak boleh banyak diam. Di antara untuk meng­imbangi akun yang menyebar in­formasi negatif maka ma­sya­ra­kat hendaklah membuat tu­lis­an mencerahkan, me­mo­ti­va­si, menggugah, dan menyadarkan.

Satu berita negatif dilawan dengan sepuluh berita positif. Jika diam saja, khawatir berita-be­rita yang tidak sehat di­ang­gap sehat. Berita yang tidak baik di­anggap baik. Tulisan tersebut tak usah panjang-panjang, te­ta­pi singkat, padat, dan jelas.

Aspek Sosial Gadget yang Terancam
Penggunaan beragam HP smart­phone yang tidak terbatas pada ruang dan waktu itu. Lam­bat laun menggusur ruang s­o­sial di sekelilingnya. Meski de­ngan dalih untuk kepentingan pe­kerjaan, tetap saja ruang so­sial di mana ia tinggal dan ber­gaul jadi semakin sempit.

Dalam jangka panjang, p­e­ri­la­ku menggunakan kuota HP smart­phone yang tidak ter­kon­trol dilihat dari sisi finansial akan menjadi masalah berupa pem­borosan. Bagi pasutri, mung­kin saja dapat meng­gang­gu keharmonisan rumah yang ti­dak sedikit berujung pada pen­ceraian. Bahkan, menurut Ke­menag, angka penceraian di In­donesia cukup tinggi.

Dari tahun ke tahun angk­a­nya terus mengalami kenaikan. Di Cianjur, data Agustus 2017, ang­ka gugatan penceraian men­ca­pai 6.000 kasus dan 2.500 su­d­ah ditangani pihak terkait ser­ta sisanya masih dalam tahap pro­ses. Sebagian besar gugatan ka­rena masalah ekonomi yang ber­ujung KDRT dan di daerah lain seperti Indramayu, Bekasi, De­pok, Sukabumi, Sulteng, NTB, dan lain-lain.

Penggunaan kuota HP smart­phone, bagi yang belum pu­nya pasangan me­mung­kin­kan berbagai peluang akan di­da­patinya. Pertama, kuota paket in­ternet yang ia beli akan me­mu­dahkan untuk mencari in­for­masi dalam rangka me­ngem­bang­kan potensi jati dirinya.

Misalnya, mengikuti ber­ba­gai lomba, audisi bakat dan mi­nat, mengirimkan paper, in­for­ma­si seputar usaha, dll. Kedua, kuo­ta yang dibeli me­mung­kin­kan akan digunakan untuk s­e­sua­tu yang kurang bernilai po­si­tif. Pilihan orang membuka in­ter­net, pada posisi krusial akan me­ngerucut menjadi dua ke­pen­tingan. Pertama untuk ke­giat­an positif dan kedua untuk ke­giatan negatif. Semua ber­pu­lang bagaimana mendudukan per­­an internet tersebut.

Selain itu, pada posisi ma­nu­sia sebagai makhluk sosial. Se­ring kita temukan berbagai ke­ada­an yang kurang enak di­pan­dang. Pada saat kita naik bus ham­pir dipastikan semua orang asyik dengan HP smartphone masing-masing. Hampir tak pe­duli dengan keberadaan orang-orang yang ada di sekitarnya.

Begitu naik kereta pun ham­pir sama asyik dengan dunianya sen­diri. Walaupun di antara me­re­ka ada mencoba untuk men­ja­lin interaksi sosial, tentu minim jum­lahnya. Begitu juga di tempat-tempat umum lainnya ham­pir bisa dipastikan dalam ko­ndisi yang sama.

Di sisi lain, orang-orang yang m­e­lakukan demikian tentunya mem­punyai kepentingan ut­a­ma dibandingkan sekedar ber­bin­cang dengan orang yang ada di sekitarnya. Asyiknya dengan du­nia sendiri terkadang mem­ba­wa manfaat yang besar untuk ke­amanan diri sendiri di tempat umum. Pada situasi yang lain jus­tru bisa membawa dampak ne­gatif bagi dirinya manakala ber­main HP di tempat umum yang kurang aman.

Dalam konteks tersebut, ber­pu­lang bagaimana kita me­nge­lola keadaan agar tidak me­nim­bulkan ancaman ke­aman­an bagi dirinya. Namun, di era di­gital sekarang ini, bermain HP di tempat umum sudah lumrah ter­jadi bahkan seperti parade ber­main HP di tempat-tempat umum yang sebenarnya dilihat da­ri kacamata sosiologi kurang elok dipandang.

Namun, bagi para pe­mang­ku ke­­bijakan di tiap-tiap ins­tan­­si atau karyawan tertentu, peng­­gu­­na­an HP di tempat-tem­­p­at umum justru sebagai bu­k­ti tang­gung jawab pe­ker­ja­an yang bisa di­­informasikan le­wat grup WhatsApp.

Oleh karena itu, hadirnya grup WhatsApp bagi sebagian ka­­langan sangat membantu da­lam pekerjaan sehari-hari, tan­pa terjun langsung ke lapangan. Bag­i pimpinan bisa mend­a­pat­kan informasi walaupun untuk me­mastikan harus cek lang­sung ke lapangan. Tapi, se­ti­dak­n­ya sudah mendapatkan gam­ba­ran umum akan kondisi s­e­sua­t­u yang terjadi di lapangan.

Bagi pemerintah Kabupaten Le­bak, misalnya, pada saat ter­jadi gempa (23/01/2018) pukul 13.34 WIB dengan tidak lang­sung menyaksikan kondisi di la­pang­an. Sudah bisa me­nya­k­si­kan lewat foto atau video yang di-publish di grup WhatsApp.

Dalam momen-momen ter­ten­tu yang membutuhkan kon­sen­trasi, kita masih banyak me­nyaksikan seseorang yang asyik se­dang bermain HP. Sekalipun da­lam momen rapat, seminar, ku­liah, mengajar, diskusi, dan lain-lain tetap mencari celah un­tuk bisa membuka HP.

Pemandangan yang tidak enak dipandang pun bisa kita sak­sikan pada saat pejabat pe­me­r­intah diundang ke stasiun te­levisi dalam rangka men­dis­ku­si­kan persoalan bangsa, ma­sih bersikap asyik dengan du­nia­nya masing-masing. Se­men­ta­ra persoalan yang ada di de­pan­nya menunggu untuk di­tun­taskan dan persoalan lain yang masih dalam bayang-bayang teknologi informasi men­­d­apat giliran berikutnya.

Jika sudah seperti yang su­dah dijelaskan di atas, posisi ma­n­­u­sia sebagai makhluk s­o­sial akan terancam kesehatan so­sial­nya. Secara sosiologis sud­ah ba­nyak penelitian yang meng­ung­kap masalah interaksi sosial.

Salah satunya bahwa orang yang sering terlibat aktif de­ngan kelompok sosial ma­sya­ra­kat, banyak berinteraksi, ber­­ada di tengah-tengah ker­u­mun­an sosial masyarakat, meng­­hadiri acara-acara ter­ten­­tu mempunyai dampak pa­da kondisi kesehatan mental psi­kis yang dapat menurunkan tingkat stres. Dan, jika stres bisa ditekan, penyakit pun bisa terhindar dari ke­ada­a­n jiwa kita.

Jalinan interaksi sosial yang me­rupakan tabiat ma­nu­sia ti­dak bisa hidup sendiri akan ter­buka dengan sen­di­ri­nya. ­Ma­na­ka­la mau me­nya­dari pen­ting­nya ber­ma­sya­ra­kat dalam ber­bagai lapisan so­sial ma­sya­ra­kat. Semoga ke­ha­dir­an HP smart­phone mem­ba­wa jalinan yang lebih erat, ­t­i­dak mengikis as­pek sosial yang selama ini di­te­ngarai banyak terjadi.
(mhd)
Berita Terkait
Bakal Dilaporkan ke...
Bakal Dilaporkan ke Polisi, Saiful Mujani: Yang Ideal, Opini Dibalas Opini
Pancasila Sakti
Pancasila Sakti
Opini Guru Besar Anti-TWK
Opini Guru Besar Anti-TWK
Kaum Disabilitas Vs...
Kaum Disabilitas Vs Kaum OJOL
Larangan Mudik untuk...
Larangan Mudik untuk Keselamatan Publik
Korona Hadiah Terbesar...
Korona Hadiah Terbesar di Hari Kesehatan Dunia
Berita Terkini
Dukung Naniek S Deyang...
Dukung Naniek S Deyang Pimpin BGN, Arus Bawah Prabowo Minta Program MBG Dibenahi
Wamenkum: 20 DIM RUU...
Wamenkum: 20 DIM RUU Polri Bakal Dibahas Bareng DPR
2 Pengusaha Divonis...
2 Pengusaha Divonis 1,5 Tahun Penjara, Kuasa Hukum: PT KEM Korban Sistem di Kemnaker
Silmy Karim Jadi Tersangka...
Silmy Karim Jadi Tersangka KPK, Mensesneg: Kita Perang Melawan Korupsi
Pertama Dalam Sejarah,...
Pertama Dalam Sejarah, Kemenag Lantik 15 Perempuan Jadi Kepala KUA
Tak Kaget Dadan dan...
Tak Kaget Dadan dan Silmy Terjerat Kasus Korupsi, Noel: Juni-Juli Banyak Pejabat Ditangkap KPK
Infografis
7 Dosa Kebijakan Nicolas...
7 Dosa Kebijakan Nicolas Maduro: Akar Kehancuran Ekonomi dan Sosial Venezuela
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved