Jejak Genealogis Terorisme dan Implikasinya bagi Studi Islam

Jum'at, 08 Desember 2017 - 08:40 WIB
Jejak Genealogis Terorisme...
Jejak Genealogis Terorisme dan Implikasinya bagi Studi Islam
A A A
Zakiyuddin Baidhawy
Guru Besar IAIN Salatiga

FENOMENA terorisme di du­nia ini bukan barang baru. Na­­mun, bukan perkara mu­­dah upaya mengonsep­tua­li­s­a­­­sikan fenomena ini di era kon­tem­­porer. Terorisme kerap­ di­re­coki oleh tafsir-tafsir ber­muat­an ideologis dan gambaran di­a­bo­­lik ketika istilah ini dig­un­a­kan. Awalan yang tepat untuk meng­­urai masalah ini adalah me­­mahami bahwa inti teror ada­­lah ”meneror”. Suatu peran yang secara historis sering, mes­­ki tidak selalu, dilakukan oleh ”ke­kuatan terorganisir”, apa­kah ne­gara atau tentara, atau se­ti­dak­nya ketika negara atau ten­ta­ra menjadi rezim despotik.

Persoalan bertambah kom­pleks ketika teror meng­ata­s­na­ma­kan agama terus terulang da­lam sejarah kemanusiaan. Se­ja­rah ini sudah dimulai pada abad pertama kaum Zealot dari ka­langan Yahudi yang dikenal de­ngan sebutan sicarii. Sicarii ada­lah nama sekte Yahudi yang me­matikan. Sekte ini suka mem­provokasi pemberon­tak­an terhadap pendudukan Ro­ma­wi yang hasilnya berupa ke­han­curan. Contoh lain adalah kaum Assasin. Antara 1090-1272, sekte Ismaili ini menjadi mo­mok karena pembunuhan ber­motif politik atas kaum bang­sawan muslim dengan meng­gu­nakan pedang sebagai ci­ri mereka.

Pada abad 15, kaum Ta­bor dari Bohemia, kaum Ana­bap­tis abad 16, dan anti-Semit da­lam Perang Salib Pertama pa­da 1095, merupakan contoh lain penggunaan teror untuk me­­nimbulkan akibat yang me­na­kutkan. Demikian pula de­ngan gerakan-gerakan me­sia­nis­­tis yang terlibat dalam dan mem­pergunakan teror sebagai ins­trumen untuk mencapai tu­ju­an mereka.

Fakta sejarah telah mem­buk­tikan dua hal terkait isu te­ro­risme. Pertama, sejarah te­ro­ris­me klasik sejatinya mer­up­a­kan anak kandung dari dan di­be­sarkan oleh peradaban Barat sen­diri. Kekerasan dan te­ro­ris­me di Dunia Timur baru terjadi pa­da awal abad 20. Kedua, ada ke­­cenderungan kuat di Barat d­a­lam memandang Islam Timur T­e­n­gah sebagai kawasan surga ba­gi kekerasan politik dan te­ro­ris­me, padahal kekerasan dan te­ro­risme kontemporer itu juga ber­sumber dari Barat sendiri.

Sa­yangnya kenyataan ini sering ka­li diabaikan. Faktanya, per­be­da­an antara Timur/Islam dan Ba­r­at dengan memp­er­tim­bang­­kan penggunaan k­e­ke­r­as­an/terorisme, hanya sekadar per­bedaan bentuk, bukan subs­tansi. Yang pasti, keduanya te­lah membunuh sejumlah besar pen­duduk selama beberapa de­ka­de terakhir. Dari sudut pan­dang teologis, Paus Benedict XVI mengkritik secara tajam bah­wa gagasan tentang ke­ke­ras­an dalam arus utama teologi Kris­ten dan Islam pada da­sar­nya serupa.

Dari perspektif ilmu sosial, di­kotomi antara ”Barat cinta da­mai” dan ”Islam cinta ke­ke­r­as­an” sangat mudah dikritik. Pan­dang­a­n bahwa bentuk-bentuk ke­kerasan dan terorisme ne­ga­ra atau sipil merupakan corak eks­klusif dari pemerintahan des­potik Timur Tengah atau kaum fundamentalis Islam anar­kis, sepenuhnya salah be­sar. Penggunaan kekerasan dan te­r­orisme politik juga me­ru­pa­kan wajah asli Barat yang telah dan terus menciptakan perang un­tuk meraih hegemoni ke­kua­sa­an politik dan ekonomi.

Kita tidak lagi dapat mel­e­tak­kan kekerasan dan te­ro­ris­me seperti memperhadapkan an­t­ara peradaban Barat yang me­mandang dirinya beradab dan damai versus Timur/Islam yang barbar. Bila kita terjebak da­lam oposisi biner semacam ini, kita telah membuat tafsir dan analisis perbandingan yang ber­sifat asimetris. Kekerasan dan terorisme adalah dan selalu me­rupakan kenyataan dalam ke­seluruhan sisinya, dapat meng­ambil berbagai bentuk, ser­ta perbedaan karena ruang dan waktu. Inilah mengapa k­e­ke­rasan dan terorisme yang di­la­­kukan ”orang lain” sering tam­pak lebih jelas sebagai bentuk ke­­kerasan terlarang daripada ke­kerasan yang dibuat oleh sis­tem sosial milik kita sendiri yang dipandang wajar.

Dengan menelusuri jejak-je­jak terorisme dan kekerasan di Ba­­­rat dan Timur, termasuk Is­lam, kita dapat mengatakan bah­­wa persoalan utama te­ro­ris­me­ dan kekerasan di dunia Is­lam ada­lah reaksi atas ke­ke­ras­an dan ke­­tidakadilan yang dil­a­ku­kan Ba­­rat, dan khususnya ke­ber­pi­ha­k­an Barat dalam konflik Is­ra­el-Palestina. Sebagaimana di Ba­rat, terorisme di dunia Is­lam per­tama-pertama justru di­la­­kukan oleh ”aktor negara” (state ter­ro­rism) yang otoriter. S­e­­mentara itu, terorisme sipil ter­­j­adi ketika ke­b­ebasan me­re­ka ditekan dan pa­da saatnya me­­lahirkan pe­r­la­wanan dan pem­­berontakan atas para pe­nin­­dasnya. Jadi, semua prob­lem tersebut melahirkan te­­ro­ris­­me, bukan semata untuk me­­la­wan Barat, na­mun juga un­tuk me­lawan ta­tan­an po­li­tik ka­wa­san yang ti­dak berkeadilan.

Hal se­ru­pa ki­ta alami di In­­do­­ne­sia. Insiden-i­n­si­den te­ro­ris­me ke­rap men­em­pat­kan se­ca­ra se­mena-semena Is­lam/mus­lim se­­bagai ter­tu­duh. Bah­kan ter­o­ris­­me juga t­e­lah me­la­hir­kan Is­la­m­o­fobia di ka­langan mus­lim sen­­diri. Ini la­hir sebagai aki­bat ca­­ra pandang tung­gal ter­hadap te­­rorisme. Ka­ji­an yang tidak kom­­prehensif atas per­soalan ini su­­dah tidak la­gi me­madai. Para peng­­kaji perlu me­­reviu berbagai mo­­del dan teo­­ri mengenai ba­gai­­mana pro­ses radikalisasi ter­ja­­di. Banyak fak­tor dan kom­bi­na­­si berbagai alas­an terjadinya r­a­­dikalisasi-baik pada skala in­di­vidual, so­sial, maupun glo­bal–meski ti­dak s­elalu ber­ujung pa­­da terorisme.

Studi Islam secara in­ter­di­sip­­­­liner dan transdisipliner ber­­­­­tang­gung jawab meng­iden­­­­t­i­fi­ka­si perilaku dan kom­­­­binasi pe­ri­laku se­ba­gai in­di­­kator radi­ka­li­s­­asi dan mo­­bi­lisasi yang meng­arah pa­da aksi te­ror. Banyak lin­­tasan dan di­na­mika dalam p­r­o­ses radikalisasi dan mobilisasi. Ke­duanya bu­kan­lah proses se­der­hana. Melalui pe­mahaman men­dalam tentang pro­­­ses dan me­libatkan pen­de­kat­an in­ter­di­sipliner dan trans­disipliner kita berharap ra­di­ka­lis­me dan te­rorisme dapat diurai, dan kita juga dapat me­ngem­bang­kan stra­tegi kontra-rad­i­ka­lis­me dan kontra-terorisme se­ca­ra le­bih efektif.

Kerangka metodologis yang ideal menggarisbawahi per­lu­nya menghindarkan dari pro­fi­ling teroris yang bersifat de­m­o­gra­fis. Artinya, profiling teroris atas dasar ras, etnisitas, dan aga­­ma bertentangan dengan ke­be­basan sipil. Metodologi ini me­n­syaratkan agar profiling di­gu­nakan untuk mengkaji pe­ri­la­ku dalam rangka mengiden­ti­fi­kasi berbagai kemungkinan la­tar bagi terjadinya proses ra­di­ka­lisasi, dan sangat melindungi ke­bebasan sipil warga negara. Di­namika radikalisasi dan mo­bi­lisasi harus dibebaskan dari pro­filing etnik, ras, atau agama.

Karena itu, metodologi ka­ji­an perlu menggunakan nalar in­d­uk­­tif untuk mengidentifikasi mo­­del atau kerangka baru bagi pro­­ses radikalisasi. Model-mo­del yang selama ini digunakan ga­­gal memperhitungkan ke­ra­gam­­an alasan dan prakondisi ser­­ta faktor lain yang mungkin me­­mengaruhi radikalisasi ber­ubah menjadi kekerasan. Pen­de­kat­an kualitatif diperlukan un­tuk menguji model-model dan teori-teori mengenai fen­o­me­na ra­dikalisme dan te­ro­ris­me. Ra­di­kalisasi dapat terjadi ka­­rena pro­ses kolektif atau pro­ses in­di­vi­dual ataupun rekrutmen.

Beberapa model teoretis yang lebih utuh dan memadai ten­­tang proses radikalisasi ber­ke­­kerasan dapat dipilih dan di­ana­­lisis. Dengan melaksanakan ana­­lisis isi atas teori-teori pro­ses ra­d­ikalisasi pada: 1) basis (mi­cro-le­vel, mid-level atau cam­pur­an, dan macro-level), 2) pen­de­katan di­siplin (psikologi, psi­ko­logi so­sial, sosiologi, ilmu po­li­tik, sosio-eko­nomi), 3) faktor-faktor pra­kon­disi, 4) framing, dan 5) kon­tri­busi dan keter­ba­tas­an model pro­ses yang ada. Stu­di Islam nis­ca­ya mem­per­tim­bangkan dan mem­bangun aspek-aspek model ter­sebut un­tuk mengajukan sua­tu ke­rang­ka konseptual yang kom­­­pre­hen­sif mengenai ra­di­ka­li­sasi berkekerasan.

Keterbatasan pada kajian-ka­jian tentang radikalisasi dan te­rorisme adalah kekurangan da­ta primer. Para pelaku yang meng­alami proses radikalisasi bia­sanya kurang kooperatif da­lam menjelaskan faktor-faktor yang mendorong mereka me­nu­ju jalan radikalisasi. Pada saat yang sama, studi tentang ter­­­o­ris­m­e dan radikalisasi berasal da­­ri sumber sekunder seperti in­­formasi dari surat kabar, in­ter­net, dan sumber terbuka lain­­nya.

Analisis tentang kar­ak­te­ristik pelaku yang ter­a­di­ka­li­sa­si dan peristiwa-peristiwa pas­caterorisme tidak akurat meng­ungkapkan motivator-mo­tivator atau prakondisi yang mem­buat mereka masuk dalam pro­ses radikalisasi, serta tidak aku­rat dalam menggali kapan pro­ses radikalisasi itu bermula. Ra­gam motivator, titik pangkal, dan perilaku dapat ber­ko­mbi­na­si dalam menjelaskan ten­tang proses gradual terjadinya ra­dikalisasi dan lintasan me­nu­ju terorisme. Karena itu, kajian-kajian dalam studi Islam terkait pro­b­lem ini mengakui pen­ting­nya keterlibatan berbagai di­sip­lin ilmu dan teori untuk m­e­nying­kap banyak kasus ra­di­ka­li­s­asi. Radikalisasi adalah suatu pro­ses yang kompleks dan tidak da­p­at disederhanakan pada ber­ba­gai tingkatan.
(kri)
Berita Terkait
Bakal Dilaporkan ke...
Bakal Dilaporkan ke Polisi, Saiful Mujani: Yang Ideal, Opini Dibalas Opini
Pancasila Sakti
Pancasila Sakti
Opini Guru Besar Anti-TWK
Opini Guru Besar Anti-TWK
Kaum Disabilitas Vs...
Kaum Disabilitas Vs Kaum OJOL
Larangan Mudik untuk...
Larangan Mudik untuk Keselamatan Publik
Korona Hadiah Terbesar...
Korona Hadiah Terbesar di Hari Kesehatan Dunia
Berita Terkini
Panitia Mubes Kosgoro...
Panitia Mubes Kosgoro 1957 Terima Dokumen Lengkap Caketum La Ode Safiul Akbar
Islah Bahrawi Mengaku...
Islah Bahrawi Mengaku Dapat Intimidasi dari OTK, Rumah Diintai hingga Aktivitasnya Dibuntuti
Bahaya Romantisasi Oligarki...
Bahaya Romantisasi Oligarki Putih
Penunjukan Kepala BGN...
Penunjukan Kepala BGN Baru Dinilai Tepat untuk Membenahi MBG
KPK Lelang 106 Lot Barang...
KPK Lelang 106 Lot Barang Rampasan Korupsi dari 26 Perkara, Ada Handphone hingga Bidang Tanah
Geledah Rumah Silmy...
Geledah Rumah Silmy Karim, KPK Yakin Ada Bukti Tambahan
Infografis
Piala Dunia 2026: Panggung...
Piala Dunia 2026: Panggung Terakhir Messi-Ronaldo dan Lahirnya Era Baru
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved