Maulid Nabi dan Islam Rahmatan lil Alamin

Kamis, 30 November 2017 - 07:20 WIB
Maulid Nabi dan Islam...
Maulid Nabi dan Islam Rahmatan lil Alamin
A A A
Muhbib Abdul Wahab
Dosen Pascasarjana FITK UIN Syarif Hidayatullah dan UMJ

MAULID Nabi Mu­ham­mad SAW penting di­per­ingati dan dimak­nai dalam konteks pe­num­buh­an sikap cinta Nabi SAW dan pe­ngembangan spirit Islam ­au­ten­tik yang pernah di­dak­wah­kan oleh Nabi SAW dengan cinta dan damai. Melalui Maulid Nabi SAW, umat dan bangsa diajak un­tuk meneladani visi-misi pro­fetiknya yang agung, yaitu mewujudkan Islam rahmatan lil ‘alamin bagi semesta raya.

Aktualisasi Islam rahmatan lil ‘ala­­min bukan sekadar wa­ca­na, me­­­lainkan Islam autentik yang per­­­n­ah diteladankan Nabi SAW me­­­lalui kesuksesannya da­lam me­­­ngemban lima peran pro­­fe­tik, ya­i­­tu: sebagai syahidan (sak­­si dan pem­­beri bukti atas ke­be­nar­an Is­lam), mu­basy­syi­­ran (pem­ba­wa ka­bar gembira, mo­tivator), na­dziran (pem­­beri per­ingatan, pe­negak ke­adil­an), da’iyan ila Allah (pe­nye­ru aga­ma Allah), dan sirajan mu­nir­an (ca­­ha­ya yang mem­berikan pen­­ce­rah­­­an, ins­pi­ra­tor) (QS al-Ah­zab [33]:45-46). Li­ma peran pro­­fe­tik itu di­tun­tas­kan dengan men­­­­de­kla­rasikan di­ri sebagai se­­orang pen­d­idik se­ka­li­gus pe­nyem­­purna akh­lak mulia (HR Malik).

Tugas Nabi SAW memang bu­kan sekadar menyampaikan ayat-ayat Allah, tetapi juga men­jadi teladan mental spiritual dan moral paling ideal bagi umat manusia. Dengan su­nnah­nya, Nabi SAW tampil sebagai pen­jelas ayat-ayat dalam ben­tuk amalan nyata. Karena itu, wu­jud Islam rahmatan lil ‘alamin itu mewujud dalam kepribadian be­liau yang luhur. “Sungguh pa­da diri Rasulullah itu terdapat ke­teladanan yang baik bagi orang yang mengharapkan per­te­mu­an dengan Allah dan Hari Akhir.” (QS al-Ahzab [33]: 21).

Resolusi Konflik Dialogis
Sebelum diangkat menjadi ra­sul, Muhammad pernah mem­beri teladan dialogis yang suk­s­es melakukan resolusi kon­flik antarsuku yang nyaris ber­akhir dengan konfrontasi fisik. Saat itu semua suku Arab di se­ki­tar Kota Mekkah saling berebut “geng­si sosial” untuk mele­tak­kan kembali Hajar Aswad yang ter­empas dari posisinya akibat ban­jir bandang. Setiap suku me­ra­sa berhak menempatkannya kem­b­ali pada posisi semula. S­e­mua bersitegang dan merasa be­n­ar sendiri-sendiri. Untunglah, di­capai kata sepakat bahwa orang pertama yang masuk Mas­­jidilharam dipercaya me­nye­lesaikan konflik itu. Mu­ham­mad, pemuda yang waktu ma­suk masjid pertama kali, tam­pil memberi solusi dengan ter­lebih dahulu berdialog de­ngan para kepala suku.

Hasil dialog itu dilanjutkan de­ngan menggelar sorban be­liau, lalu Hajar Aswad dile­tak­kan di atasnya dan diangkat se­ca­ra bersama-sama menuju po­si­si­nya. Semua aspirasi di­ako­mo­da­si, dan semua diberikan hak­n­ya. Tin­dak kekerasan an­tar­suku da­pat dihindari. D­e­ngan resolusi kon­flik dialogis­nya, Mu­ham­mad sukses se­ba­gai problem solver, bukan trouble maker.

Resolusi konflik dialogis itu mem­­buat beliau meraih leg­i­ti­ma­­s­i sosial dan gelar kemuliaan “al-Amin Award “ (Orang yang sa­­ngat dapat dipercaya). Dialog da­lam menyelesaikan per­soal­an me­rupakan solusi damai yang da­pat mengakomodasi se­mua pi­hak dengan win-win so­lu­tion. Pe­mimpin tepercaya (al-Amin) pas­ti berusaha mencari so­lusi ter­hadap berbagai per­soal­an se­ca­ra dialogis dan da­mai sekaligus me­ngedepankan ke­pentingan ra­k­yatnya, bukan ke­pentingan go­longan dan partainya.

Setelah diangkat menjadi ra­sul, Nabi SAW membuktikan di­ri­nya sebagai pemimpin yang ju­jur dan benar (shidq), dapat di­per­caya, akun­tabel (amanah), ter­­buka dan ko­mu­ni­ka­tif (ta­b­ligh), serta c­er­das dalam m­e­ma­hami dan memper­juangk­an ke­ma­juan ma­sya­ra­katnya (fa­tha­nah). Ka­ta kunci dari ke­ber­­ha­sil­an Rasul da­lam memimpin umat adalah ke­lu­hur­an akhlak dan ke­teladanannya yang baik, ber­satunya an­ta­ra kata dan per­buat­­an nyata. Beliau ti­dak mu­dah me­ng­obral janji dan gemar me­­lakukan pen­ci­tra­an, tetapi se­lalu ter­de­pan dalam mem­be­ri
us­wah hasanah (tel­adan ter­baik) ba­gi umatnya.

Aktualisasi Rahmatan lil ‘alamin
Salah satu identitas Islam ada­lah ajaran salam (cinta da­mai): as-salamu’alaikum wa rah­ma­tullahi wa barakatuh. Nilai-ni­l­ai salam ini sangat penting di­re­vitalisasi dan di­aktuali­sa­si­kan dalam kehidupan sehari-hari karena setiap hari minimal li­ma kali muslim mengucapkan sa­lam ketika mengakhiri salat. Ar­tinya, menjadi muslim d­itun­tut mampu mengupayakan ter­wu­judnya: salam (perdamaian, cin­ta damai), rahmat (kasih sa­yang, harmoni, semangat ihsan, be­­r­buat baik demi kebaikan se­mua), dan barakah (nilai ke­baik­an, keberkahan, dan ke­ber­mak­na­an dalam hidup).

Visi Islam rahmatan lil ‘alamin da­pat diwujudkan melalui be­be­ra­pa hal. Pertama, me­nam­pil­kan Islam autentik yang sangat da­mai (peaceful), penuh empati, dan harmoni. Nabi SAW me­nge­de­pankan pemberian maaf
da­ri­pada membalaskan dendam atau kemarahan hatinya akibat di­benci dan dimusuhi. Beliau le­bih suka memberi dan me­no­long orang lain daripada m­e­men­tingkan dirinya sendiri atau memperkaya diri.

Kedua, Islam mengajarkan pen­­tingnya bersikap empati dan mem­beri pertolongan mes­ki­pun terhadap orang yang me­mu­suhi dan menzaliminya se­ka­li­pun sebab dengan begitu si­kap dan pandangan musuh bo­leh ja­di berubah menjadi lebih baik dan tidak lagi memusuhi Islam.

Ketiga, jalan kekerasan bu­kan solusi dalam memecahkan ber­­bagai persoalan, termasuk per­­soalan ketidaksukaan Abu Ja­­hal dan kom­plot­an­nya ter­­ha­dap dakwah I­s­lam. Na­­bi SAW me­milih ja­­lan da­mai de­­ngan me­no­long dan me­maafkan orang yang me­­mu­suhi­nya ka­re­na da­pat ber­­dam­pak po­si­tif ba­gi per­­­ubahan ci­tra po­si­tif Is­­l­am di ma­ta orang-orang kafir yang ti­­­dak me­­nyukainya. Ja­di, pen­­­di­dik­an pe­r­da­mai­­­an merupakan sa­lah sa­tu fondasi dan mo­­­dal so­sial ak­tua­li­sa­si Is­­lam rah­matan lil ‘alamin.

Keempat, esensi Mau­lid Na­bi adalah ke­lahiran figur pe­juang HAM sejati yang tulus dan ber­de­dikasi sangat tinggi. Be­­liau menghargai per­bedaan, ter­ma­suk kepada musuh atau orang yang sa­ngat dibenci ka­re­na ber­beda etnis, agama, atau ideo­logi. Dalam sebuah Ha­dits di­riwayatkan: “Dari Ja­bir RA bah­wa ada jenazah yang di­­usung melewati Nabi SAW, ke­­mu­dian beliau berdiri (untuk mem­­beri hormat kepadanya) dan kami pun (ikut) berdiri. La­lu kami berkata: ‘Ya Rasul, je­na­zah itu jenazah Yahudi.’ Ra­sulul­­lah lalu berkata: ‘Se­sung­guh­­nya kematian itu sesuatu yang menakutkan. Jika kalian me­­lihat jenazah, hendaklah eng­­kau berdiri.’ Dalam riwayat lain, kepada Rasul dinyatakan: ‘Je­­nazah itu jenazah seorang Y­a­hu­di.’ Lalu Rasulullah berkata: ‘Ti­dakkah jenazah Yahudi itu ju­ga manusia?” (HR al-Bukhari).

Kelima, revitalisasi Islam yang humanis: ramah, penuh ka­sih sayang, cinta damai, dan to­leran. Fakta sejarah
me­nu­n­juk­kan bahwa Nabi SAW tidak me­lakukan pertumpahan da­rah selama di Kota Mekah mau­pun ketika membebaskan Kota Mek­kah. Dalam konteks ini, Han­nan al-Lahham, dalam Ha­dyu al-Sirah wa al-Taghyir
al-Ij­ti­ma’i (2002), menyatakan bah­wa orang-orang kafir Quraisy su­dah berprasangka buruk bah­wa Nabi SAW akan “me­lam­pias­kan dendamnya” dengan mem­bu­nuh atau mengusir mereka da­ri Mekkah.

Namun, saat itu Na­bi dengan bahasa yang san­tun melakukan “pengampunan mas­sal”. Kata beliau, “Kalian
se­mua boleh pergi meninggalkan Mek­kah; kalian semua bebas, di­maafkan.” (idzhabu, fa antum al-thulaqâ’). Lebih lanjut Nabi me­nyatakan: “Dinuna dinul al-mar­hmah“ (agama kami adalah agama kasih sayang).

Meneladani
Memaknai Maulid Nabi SAW menghendaki umat Islam un­tuk mereformasi komitmen mo­ral kita untuk mematuhi, me­neladani, dan mengamalkan Is­lam secara konsisten di te­ngah kehidupan masyarakat se­hing­ga dapat mewujudkan ke­da­maian, keharmonisan, k­e­se­jah­teraan, dan kasih sayang ba­gi umat manusia dan makhluk lain yang ada di alam raya ini. Mau­lid Nabi meniscayakan Is­lam yang penuh rahmat: ramah, p­e­nuh perdamaian, toleran, ka­sih sayang, antikekerasan, dan an­ti­terorisme. Dengan kete­la­dan­an moralnya, terbukti be­liau mampu mengubah ma­sya­ra­kat Jahiliah yang tak ber­mo­ral menjadi masyarakat yang ber­akhlak mulia.

Dengan memperingati Na­bi SAW sesungguhnya sistem ni­lai Is­lam diharapkan dapat m­e­­wu­jud­kan tatanan ke­hi­dup­an umat manusia dan sis­tem dunia yang adil, damai, se­jah­tera, dan ba­hagia dunia dan akhi­rat. Jadi, visi rahmatan lil ’al­a­mîn meng­ha­ruskan kita mam­pu men­ja­di­kan Islam se­ba­­gai agama te­la­dan yang au­ten­tik sekaligus aga­ma per­adab­an yang ber­ke­adab­an, ber­perikemanusiaan, dan ber­ke­adilan. Islam itu un­tuk se­mua dan memberi rahmat ba­gi se­m­esta raya (Islam for all).

Menghadirkan Islam se­ba­gai rahmatan lil ‘alamin me­nun­tut ketulusan hati dan ke­ter­bu­ka­an sikap umat Islam untuk me­nampilkan Islam yang ung­gul dan berkemajuan, bukan ber­perilaku melawan hukum dan mencoreng citra positif Is­lam. Sebagai rahamatan lil ‘ala­min, Islam pada zaman now ha­rus menjadi bagian integral dari upa­ya meneladani al-asma’ al-hus­na, yaitu ar-Rahman ar-Ra­him. Kalau Allah itu Maha Pe­ngasih dan Penyayang, sebagai umat-Nya, kita semua, harus me­wujudkannya dalam keh­i­dup­an nyata.

Sifat utama yang di­tun­juk­kan oleh Allah, terutama ketika meng­awali surat-surat Alquran, ada­lah sifat kasih sayang (ar-Rah­man ar-Rahim). Oleh para pe­nulis sirah-nya, Nabi SAW ju­ga dijuluki sebagai Nabiyyu
ar-Rah­mah (Nabi Sang Pembawa ajar­an kasih sayang). Jika se­ba­gai pengikutnya, kita meyakini Allah dan Nabi-Nya menge­de­pan­kan sifat rahmah, maka su­dah semestinya menjadi rah­mat Islam ini menjadi karakter uta­ma dalam hidup ber­ke­luar­ga, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara dengan se­nan­tia­sa meneladani akhlaknya yang mulia.
(rhs)
Berita Terkait
Bakal Dilaporkan ke...
Bakal Dilaporkan ke Polisi, Saiful Mujani: Yang Ideal, Opini Dibalas Opini
Pancasila Sakti
Pancasila Sakti
Opini Guru Besar Anti-TWK
Opini Guru Besar Anti-TWK
Kaum Disabilitas Vs...
Kaum Disabilitas Vs Kaum OJOL
Larangan Mudik untuk...
Larangan Mudik untuk Keselamatan Publik
Korona Hadiah Terbesar...
Korona Hadiah Terbesar di Hari Kesehatan Dunia
Berita Terkini
Perang Iran 20266: Ketika...
Perang Iran 20266: Ketika Diplomasi Berbicara dengan Bahasa Rudal
Prabowo akan Menerima...
Prabowo akan Menerima Surat Kepercayaan dari 17 Dubes pada 8 Juni 2026
Said Iqbal soal Sinyal...
Said Iqbal soal Sinyal Masuk Kabinet Prabowo: Kita Tunggu Pengumuman Resmi
3 Pati dan Pamen Dimutasi...
3 Pati dan Pamen Dimutasi Kapolri ke Kortastipidkor, Ada Irjen hingga Kombes Pol
7 Terdakwa Kasus Suap...
7 Terdakwa Kasus Suap Sertifikasi K3 Kemnaker Dihukum 4 hingga 6,5 Tahun Penjara
Survei Poltracking:...
Survei Poltracking: 42,4% Publik Setuju MK Hapus Presidential Threshold
Infografis
5 Buah Rendah Gula yang...
5 Buah Rendah Gula yang Aman untuk Diet, Tetap Manis dan Menyegarkan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved