Terima Kasih Guruku

Jum'at, 21 April 2017 - 07:55 WIB
Terima Kasih Guruku
Terima Kasih Guruku
A A A
Komaruddin Hidayat
Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah
@komar_hidayat

DALAM berbagai pelatihan guru, saya sering kali mengajak peserta untuk mengingat dan mengenang sosok-sosok guru yang paling mengesankan dan berjasa meraih kesuksesan hidup kita hari ini. Lalu, saya minta mereka menyebut nama dan pada strata sekolah apa, serta kelas berapa.

Biasanya peserta terbagi tiga kategori. Ada yang jawabannya mengambang, tidak memiliki ingatan, dan kesan kuat terhadap guru-gurunya. Lalu ada yang bisa menyebut beberapa nama dan kenangan kuat yang masih terekam.

Ada lagi yang bisa menceritakan lebih detail, lebih banyak nama guru yang diingat dan mengapa sosok-sosok guru itu begitu terekam kuat dalam ingatan. Apakah kelebihan dan keunikan mereka sehingga pantas berterima kasih dan mendoakan mereka.

Setelah selesai berbagi cerita tentang guru, lalu saya lontarkan pertanyaan; andaikan murid-murid Anda disurvei dibagi pertanyaan, apa kesan mereka tentang Anda, apakah kira-kira jawaban mereka? Jangan-jangan tak berbekas di hati para siswa.

Jadi, sebaiknya pimpinan sekolah perlu membuat evaluasi tahunan untuk memotret respons murid terhadap guru dan sekolahnya. Ini penting dilakukan untuk peningkatan kualitas guru-guru, karena fase dan proses sekolah yang dijalani siswa dari tahun ke tahun ibarat menata batu bata bagi bangunan kepribadian seseorang yang akan berpengaruh kuat pada perjalanan hidupnya sampai tua. Jangan sampai bibit unggul siswa malah tidak berkembang karena gurunya yang salah asuh.

Saya merasa beruntung bertemu guru dan dosen yang mengukirkan kesan kuat dalam memoriku. Sejak sekolah dasar sampai perguruan tinggi, saya masih ingat bahkan hatiku mencatat siapa guru dan dosen yang berjasa dan punya andil membentuk diriku.

Ketika SD, dulunya namanya SR atau sekolah rakyat, saya pernah malas bersekolah. Protes pada kondisi keluarga yang tidak nyaman. Ibuku meninggal ketika umurku masuk sembilan tahun. Entah selang berapa lama, ayahku kawin lagi, dan tidak lama ibu tiriku meninggal. Lalu, ayahku kawin lagi untuk yang ketiga kali.

Saya masih ingat waktu itu populer lagu ibu tiri yang isinya cukup menyayat dan menyudutkan posisi ibu tiri. Setelah besar, saya baru sadar bahwa lagu itu provokatif, tidak mendidik.

Tetapi yang pasti, dulu saya tidak betah di rumah karena kehilangan gravitasi seorang ibu kandung yang kata tetangga sangat memanjakan saya. Ketika saya enggan sekolah, Pak Suparmin, guruku kelas tiga SD, datang ke rumah membujuk agar saya bersekolah lagi. Dia orangnya lembut, wajahnya selalu senyum, dan sabar menghadapi anak didik.

Ada lagi guru-guruku lain di SD yang semuanya baik, melakukan pendekatan pribadi pada muridnya, yaitu Bu Ambar, Pak Suparman, Pak Jumali, Bu Romlah yang kesemuanya menumbuhkan benih imajinasi dan idealisasi betapa mulianya menjadi guru. Mereka membukakan jendela dunia masa depan bagi anak-anak kampung seperti saya, bahwa dunia itu luas.

Lanskap kehidupan tidak selebar kampungku. Mungkin karena pengaruh guru-guruku itu sejak kecil saya ingin jadi guru, dan sekarang sudah melebihi target, secara administratif sebagai guru besar.

Ketika pak guru atau bu guru datang ke sekolah, anak-anak berjejer berdiri menyambut sambil mengucapkan: Selamat pagi Pak Guru/Bu Guru. Sepedanya disambut oleh siswa, lalu disandarkan di tempat parkir sepeda, tasnya dibawakan ke ruang kelas.

Terjalin hubungan batin antara guru dan murid. Pak Guru dan Bu Guru menjadi orang tua kedua. Kenangan ini mungkin saja subjektif. Namun, itu semua tak pernah hilang dari memori saya.

Bahkan, sudut-sudut sekolah pun masih ingat dan bisa saya ceritakan kembali. Ketika masuk pesantren, hubungan batin terjalin tidak saja antara kiai, guru dan murid/santri, tetapi juga dengan sesama santri karena setiap hari tinggal bersama selama 24 jam.

Kata murid dan santri lebih tepat diterjemahkan learner atau pelajar karena keduanya berkonotasi sebagai subjek yang aktif, yang mencintai ilmu, yang berpusat di pesantren. Mereka merupakan komunitas pembelajar (learning community).

Secara etimologis, pesantren adalah tempat berkumpulnya orang-orang yang berbudi luhur dan mencintai ilmu pengetahuan di bawah asuhan seorang guru, dan para murid itu disebut santri. Baik kata pesantren, santri, asrama, guru, kesemuanya itu berasal dari tradisi Hindu.

Ini juga menunjukkan bahwa di Indonesia dalam beberapa aspek terjadi kesinambungan antara tradisi Hindu dan tradisi Islam. Sebuah paham keislaman yang inklusif. yang merangkul, bukan memukul. Yang mendekatkan, bukan menjauhkan dan memisahkan.
(poe)
Berita Terkait
Bakal Dilaporkan ke...
Bakal Dilaporkan ke Polisi, Saiful Mujani: Yang Ideal, Opini Dibalas Opini
Pancasila Sakti
Pancasila Sakti
Opini Guru Besar Anti-TWK
Opini Guru Besar Anti-TWK
Menghapus Asimetris...
Menghapus Asimetris Relasi di Hari Buruh
Pertempuran Sungai Nil,...
Pertempuran Sungai Nil, Perebutan Energi Sumber Daya Alam
Akhir Ramadan, Sportifitas...
Akhir Ramadan, Sportifitas dan Optimisme
Berita Terkini
Dukung Naniek S Deyang...
Dukung Naniek S Deyang Pimpin BGN, Arus Bawah Prabowo Minta Program MBG Dibenahi
Wamenkum: 20 DIM RUU...
Wamenkum: 20 DIM RUU Polri Bakal Dibahas Bareng DPR
2 Pengusaha Divonis...
2 Pengusaha Divonis 1,5 Tahun Penjara, Kuasa Hukum: PT KEM Korban Sistem di Kemnaker
Silmy Karim Jadi Tersangka...
Silmy Karim Jadi Tersangka KPK, Mensesneg: Kita Perang Melawan Korupsi
Pertama Dalam Sejarah,...
Pertama Dalam Sejarah, Kemenag Lantik 15 Perempuan Jadi Kepala KUA
Tak Kaget Dadan dan...
Tak Kaget Dadan dan Silmy Terjerat Kasus Korupsi, Noel: Juni-Juli Banyak Pejabat Ditangkap KPK
Infografis
5 Kolonel Terima Tanda...
5 Kolonel Terima Tanda Kehormatan Samkaryanugraha dari Prabowo
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved