Ayo Kerja

Selasa, 22 September 2015 - 14:55 WIB
Ayo Kerja
Ayo Kerja
A A A
Indonesia telah tujuh dasawarsa menempuh kemerdekaan, melewati sirkuit kehidupan yang penuh berbagai tikungan tajam dan rintangan. Sejumlah pencapaian telah diraih dalam berbagai aspek kehidupan, seperti ekonomi, politik, pendidikan, kesehatan, dan properti.Namun, jika sekali-sekali Anda menoleh ke tepi jalan, segera terlihat pula antiklimaks yang sedang melilit negeri ini. Potret antiklimaks itu nyata terlihat ketika 28 juta orang Indonesia masih terjerat kemiskinan. Mungkin jumlah itu semakin bertambah banyak di tengah deru kelesuan ekonomi yang terjadi belakangan.Harus diakui, seiring bertambahnya usia disertai memiliki kekayaan alam yang melimpah tak serta-merta menjamin terciptanya keadilan dan kemakmuran sosial. Itu sebabnya, tantangan terbesar Indonesia pada tahuntahun selanjutnya adalah melunasi janji kemerdekaan.Untuk mewujudkannya, pemerintah perlu menyusun strategi jitu dengan memperhatikan berbagai aspek sosiokultural yang ada pada masyarakat agar dalam memberantas kemiskinan dapat berjalan mulus. Bisa dimulai dengan mendorong upah layak bagi semua pekerja dan mengendalikan inflasi seraya membenahi infrastruktur desa, sebab jumlah orang miskin banyak yang bermukim di pedesaan.Pada saat yang sama, mindset setiap orang harus berubah. Sikap mental yang harus diternak oleh setiap orang adalah mental kemandirian. Itu sebabnya, untuk menuju mental mandiri tersebut sangat dibutuhkan transformasi mental seperti anjuran tuan Presiden. Tak heran, slogan resmi yang digunakan dalam rangka merayakan tujuh puluh tahun kemerdekaan adalah ”Ayo Kerja”.Slogan ini hanyalah sekadar ajakan sederhana yang mudah dipahami oleh rakyat sekaligus memiliki konotasi kuat untuk memotivasi diri. Juga sangat rasional karena kerja merupakan fitrah manusia. Jika setiap komponen bangsa memiliki etos kerja yang tinggi sesuai kapasitasnya masing-masing, saya yakin segala persoalan bangsa dapat diselesaikan dengan cepat.Semoga saja slogan ”Ayo Kerja” tak membuat masyarakat murka karena seolah-olah kita malas bekerja. Semoga saja tak ada yang bersungut-sungut: ”Saya ini pengangguran, rupiah lagi anjlok bikin susah cari kerja, jadi mau kerja apa?Jonathan Alfrendi SMahasiswa Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial,UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
(bhr)
Berita Terkait
Bakal Dilaporkan ke...
Bakal Dilaporkan ke Polisi, Saiful Mujani: Yang Ideal, Opini Dibalas Opini
Pancasila Sakti
Pancasila Sakti
Opini Guru Besar Anti-TWK
Opini Guru Besar Anti-TWK
Kaum Disabilitas Vs...
Kaum Disabilitas Vs Kaum OJOL
Larangan Mudik untuk...
Larangan Mudik untuk Keselamatan Publik
Korona Hadiah Terbesar...
Korona Hadiah Terbesar di Hari Kesehatan Dunia
Berita Terkini
Rapat Paripurna RAPBN...
Rapat Paripurna RAPBN 2027 hingga Calon Anggota BS OJK Dihadiri 298 Anggota DPR
Hakim Tolak JPU soal...
Hakim Tolak JPU soal Uang Pengganti Rp4,8 Triliun ke Nadiem, Rekomendasikan Jalur TPPU
Hadapi Sidang Ijazah...
Hadapi Sidang Ijazah Jokowi, Dokter Tifa: Kita Tidak Ada Sponsor, Bohir Kita Hanya Allah
Vonis Nadiem Makarim,...
Vonis Nadiem Makarim, Kejaksaan Dinilai Cerdas Bongkar Korupsi Kebijakan Chromebook
Siap Hadapi Sidang Perdana...
Siap Hadapi Sidang Perdana Kasus Ijazah Jokowi, Dokter Tifa Didampingi 25 Advokat
Mantan Wakil Kepala...
Mantan Wakil Kepala BGN Lodewyk Pusung Ajukan Praperadilan Tersangka Korupsi MBG
Infografis
10 Negara dengan Jam...
10 Negara dengan Jam Kerja Terpendek di Dunia, Suriah Paling Singkat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved