Cara Jokowi Melihat ASEAN

Kamis, 04 Juni 2015 - 09:25 WIB
Cara Jokowi Melihat ASEAN
Cara Jokowi Melihat ASEAN
A A A
TANTOWI YAHYA
Wakil Ketua Komisi I DPR RI

Satu semester umur pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat ini, ada kekhawatiran politik luar negeri (polugri) Indonesia tidak lagi melihat ASEAN sebagai prioritas.

Padahal, sebagian besar komunitas negara-negara Asia Tenggara justru mengharapkan peran ASEAN makin kuat di masa depan. Indonesia sebagai negara terbesar di kawasan ini dan kerap dianggap sebagai Big Brother diharapkan bisa terus menjadi bagian aktif dari ASEAN sehingga daya tawar lembaga ini makin diakui di kawasan regional dan internasional.

Dengan kata lain, tanpa Indonesia, ASEAN bukanlah ASEAN lagi. Begitu kira-kira kegelisahan yang penulis tangkap dari komunitas diplomatik Asia Tenggara. Memang sejauh ini belum terlihat jelas arah polugri Presiden Jokowi, khususnya terkait ASEAN. Mungkin karena pemerintahan baru berjalan satu semester sehingga belum ada hasil yang kelihatan. Meski begitu, bila hanya beralibi pada waktu yang masih pendek, penulis kira itu terlalu menyederhanakan masalah.

Pandangan Jokowi tentang pentingnya ASEAN masih samar-samar. Benar dalam sejumlah kesempatan ia memberikan pernyataan normatif bahwa penguatan hubungan dengan semua negara harus dilakukan. Tapi, negara tetangga kita menunggu tidak hanya pernyataan semata, tapi juga langkah nyata yang bisa dirasakan komunitas ASEAN.

Membaca Visi Polugri Jokowi

Dari sekian banyak pernyataan Jokowi tentang polugri, satu benang merah yang menarik bahwa ia hanya mementingkan kerja sama dengan negara lain yang sifatnya menguntungkan. ” Politik kita bebas aktif, berteman dengan semua negara, namun yang memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi rakyat. Jangan banyak teman, tetapi kita dirugikan.

” Jokowi juga tidak secara lugas menjawab apakah akan melanjutkan strategi diplomasi million friends zero enemy yang dijalankan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (2004- 2014). Menurut Jokowi, yang dilihat dalam mencari kawan adalah kepentingan Indonesia. ”Banyak teman ya harus banyak untung. Kalau rugi, buat apa. Kalau enggak menguntungkan, ya enggak mau.

Ketemu ya ketemu, tetapi dikit-dikit saja”. Itulah logika diplomasi yang diyakini Jokowi dalam melihat ASEAN dan politik luar negeri kita secara umum. Semuanya didasarkan pada jika kita untung semata. Padahal, benarkah diplomasi hanya berdasar itu? Indikasi diplomasi Presiden Jokowi yang menjauh dari ASEAN makin diperkuat dengan pernyataan Puan Maharani, menteri koordinator pembangunan manusia dan kebudayaan sekaligus tokoh berpengaruh PDIP, bahwa kedekatan Indonesia-China di era Jokowi saat ini mengingatkan kembali kuatnya hubungan masa lalu.

Sebagaimana kita tahu, pada era Presiden Soekarno hubungan Indonesia-China sangat erat, ditandai dengan pembentukan Poros Jakarta-Peking. Tinjauan teoritis politik luar negeri suatu negara, KJ Holsti mendefinisikan politik (kebijakan) luar negeri sebagai suatu tindakan yang dirancang oleh pemerintah untuk memecahkan masalah atau mempromosikan suatu perubahan dalam lingkungan yaitu dalam kebijakan sikap atau tindakan dari negara lain.

Dari definisi di atas terlihat bahwa polugri merupakan langkah strategis bagi suatu bangsa untuk bisa berperan dan memengaruhi lingkungan (negara lain). Tidak ada unsur keuntungan ekonomi semata yang dikejar dari polugri. Bila hanya itu cara pandang kita, negara derajatnya akan sama dengan perusahaan.
Halaman :
Komentar
Copyright © 2022 SINDOnews.com
berita/ rendering in 0.1288 seconds (11.252#12.26)