China Bangun Pangkalan Militer di LCS, PII: Ancaman Kedaulatan Negara di Asia Tenggara
Jum'at, 18 November 2022 - 21:41 WIB
loading...
Pembangunan pangkalan militer di Laut China Selatan (LCS) oleh China dinilai ancaman terhadap kedaulatan negara-negara di Asia Tenggara. Foto/SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Meski status Laut China Selatan (LCS) belum jelas dan masih menjadi sengketa beberapa negara, namun China secara terang-terangan membangun pangkalan militer dan mengklaim wilayah tersebut bagian dari wilayahnya.
Terkait hal itu, Dewan Pimpinan Pusat Pelajar Islam Indonesia (DPP PII) meminta pemerintah Indonesia dan pemerintah negara-negara Asia Tenggara lainnya untuk mengajukan nota protes keras kepada China, atas tindakannya membangun pulau buatan dan pangkalan militer sepihak, di Laut China Selatan.
Wakil Bendahara Umum Dewan Pimpinan Pusat Pelajar Islam Indonesia, Furqan Raka menyebut langkah China jelas merupakan ancaman terhadap kedaulatan negara-negara Asia Tenggara termasuk Indonesia.
Baca juga: Kedua dalam Seminggu, Kapal Perang AS Berlayar Dekat Pulau yang Diklaim China di LCS
“Perlu diingat kembali, Beijing mengklaim hampir 90% kepemilikan Laut China Selatan yang tentunya membuat China harus berhadapan dengan sejumlah negara termasuk Asia Tenggara, seperti Brunei, Malaysia, Filipina, Taiwan, Vietnam termasuk Indonesia di Laut Natura Utara. Apalagi, pembangunan pangkalan militer di pulau buatan China, dekat dengan Palawan Filiphina yang jaraknya hanya 1.295 kilometer dari Indonesia,” kata Furqan Raka, Jumat, (18/11/2022).
Baca juga: Beijing Kuasai Laut China Selatan dengan Teknologi Komunikasi Bawah Air, Ini Kecanggihannya
Beberapa analis China menggambarkan pangkalan ini memiliki 20 pos terdepan di Kepulauan Paracel, di mana Pulau Woody adalah yang terbesar, dan tujuh di Kepulauan Spratly sebagai ‘kapal induk yang tidak dapat tenggelam’. PLA juga telah memasang sensor berteknologi tinggi di Cuarteron, Fiery Cross, Gaven, Hughes, Johnson, Mischief, dan Subi Reefs. Beijing juga memasang citra satelit dan udara, termasuk infrastruktur penunjang militer seperti landasan pacu, tempat berlabuh, hanggar, barak, radar, senjata angkatan laut, dan pertahanan udara.
Terkait hal itu, Dewan Pimpinan Pusat Pelajar Islam Indonesia (DPP PII) meminta pemerintah Indonesia dan pemerintah negara-negara Asia Tenggara lainnya untuk mengajukan nota protes keras kepada China, atas tindakannya membangun pulau buatan dan pangkalan militer sepihak, di Laut China Selatan.
Wakil Bendahara Umum Dewan Pimpinan Pusat Pelajar Islam Indonesia, Furqan Raka menyebut langkah China jelas merupakan ancaman terhadap kedaulatan negara-negara Asia Tenggara termasuk Indonesia.
Baca juga: Kedua dalam Seminggu, Kapal Perang AS Berlayar Dekat Pulau yang Diklaim China di LCS
“Perlu diingat kembali, Beijing mengklaim hampir 90% kepemilikan Laut China Selatan yang tentunya membuat China harus berhadapan dengan sejumlah negara termasuk Asia Tenggara, seperti Brunei, Malaysia, Filipina, Taiwan, Vietnam termasuk Indonesia di Laut Natura Utara. Apalagi, pembangunan pangkalan militer di pulau buatan China, dekat dengan Palawan Filiphina yang jaraknya hanya 1.295 kilometer dari Indonesia,” kata Furqan Raka, Jumat, (18/11/2022).
Baca juga: Beijing Kuasai Laut China Selatan dengan Teknologi Komunikasi Bawah Air, Ini Kecanggihannya
Beberapa analis China menggambarkan pangkalan ini memiliki 20 pos terdepan di Kepulauan Paracel, di mana Pulau Woody adalah yang terbesar, dan tujuh di Kepulauan Spratly sebagai ‘kapal induk yang tidak dapat tenggelam’. PLA juga telah memasang sensor berteknologi tinggi di Cuarteron, Fiery Cross, Gaven, Hughes, Johnson, Mischief, dan Subi Reefs. Beijing juga memasang citra satelit dan udara, termasuk infrastruktur penunjang militer seperti landasan pacu, tempat berlabuh, hanggar, barak, radar, senjata angkatan laut, dan pertahanan udara.
Lihat Juga :