Inilah 6 Polwan Pertama di Indonesia, Muncul Perdana di Bukittinggi
Jum'at, 18 November 2022 - 16:09 WIB
loading...
A
A
A
Beberapa bulan kemudian, tepatnya pada 19 Desember 1948, terjadi agresi militer Belanda II dan memaksa pendidikan Inspektur Polisi di Bukittinggi dihentikan. Namun tak kurang dari dua tahun, setelah adanya pengakuan kedaulatan atas Indonesia, enam calon Inspektur Polisi Wanita itu kembali dilatih di SPN Sukabumi.
Baca juga: Polwan dan Kowad Cantik Ini Lihai Kendarai Renault Twizy Amankan KTT G20
Selama pendidikan, enam calon Inspektur Polisi Wanita mendapat pelatihan tentang ilmu-ilmu kemasyarakatan, pendidikan dan ilmu jiwa, pedagogi, sosiologi, psikologi, dan latihan anggar, jiu jit su, judo, serta latihan militer.
Pada 1 Mei 1951, enam wanita tersebut menyelesaikan pendidikan dan mulai bertugas di Djawatan Kepolisian Negara dan Komisariat Polisi Jakarta Raya. Masing-masing diberikan tugas khusus yang menyangkut hubungan kepolisian dengan wanita, anak-anak, atau masalah-masalah sosial lainnya.
Beberapa tugas lainnya adalah memberantas dan mencegah kejahatan yang dilakukan oleh atau terhadap wanita dan anak-anak, memberi bantuan kepada polisi umum dalam pengusutan dan pemeriksaan perkara terhadap terdakwa, saksi khusus untuk memeriksa fisik kaum wanita yang tersangkut atau terdakwa dalam suatu perkara, serta mengawasi dan memberantas pelacuran, perdagangan perempuan dan anak-anak.
Pada 1965 terbit TAP MPR No II Tahun 1960 yang berisi, Kepolisian merupakan bagian dari Angkatan Bersenjata. Karena itu, sejak tahun itu, pendidikan calon perwira Polwan diintegrasikan bersama calon perwira polisi pria untuk bersama-sama dididik di AAK (Akademi Angkatan Kepolisian) di Yogyakarta.
Baca juga: Polwan dan Kowad Cantik Ini Lihai Kendarai Renault Twizy Amankan KTT G20
Selama pendidikan, enam calon Inspektur Polisi Wanita mendapat pelatihan tentang ilmu-ilmu kemasyarakatan, pendidikan dan ilmu jiwa, pedagogi, sosiologi, psikologi, dan latihan anggar, jiu jit su, judo, serta latihan militer.
Pada 1 Mei 1951, enam wanita tersebut menyelesaikan pendidikan dan mulai bertugas di Djawatan Kepolisian Negara dan Komisariat Polisi Jakarta Raya. Masing-masing diberikan tugas khusus yang menyangkut hubungan kepolisian dengan wanita, anak-anak, atau masalah-masalah sosial lainnya.
Beberapa tugas lainnya adalah memberantas dan mencegah kejahatan yang dilakukan oleh atau terhadap wanita dan anak-anak, memberi bantuan kepada polisi umum dalam pengusutan dan pemeriksaan perkara terhadap terdakwa, saksi khusus untuk memeriksa fisik kaum wanita yang tersangkut atau terdakwa dalam suatu perkara, serta mengawasi dan memberantas pelacuran, perdagangan perempuan dan anak-anak.
Pada 1965 terbit TAP MPR No II Tahun 1960 yang berisi, Kepolisian merupakan bagian dari Angkatan Bersenjata. Karena itu, sejak tahun itu, pendidikan calon perwira Polwan diintegrasikan bersama calon perwira polisi pria untuk bersama-sama dididik di AAK (Akademi Angkatan Kepolisian) di Yogyakarta.
Lihat Juga :