Euforia Konser dan Urgensi Ekosistem Musik yang Sehat

Rabu, 09 November 2022 - 14:19 WIB
loading...
Euforia Konser dan Urgensi...
Hemat Dwi Nuryanto (Foto; Ist)
A A A
Hemat Dwi Nuryanto
Pemerhati Musik, Founder SVARA Innovation, Lulusan Universite de Toulouse Prancis

PENYELENGGARAAN konser dan festival musik di berbagai kota disambut dengan animo yang menggelora dari masyarakat. Kerinduan menonton langsung konser musik setelah sekian lama vakum akibat pandemi Covid-19 ibarat buah simalakama. Di satu sisi tingginya animo masyarakat merupakan indikator bangkitnya sumber daya musik sebagai salah satu sektor industri kreatif, namun di lain pihak bisa menimbulkan petaka yang bisa mengancam keselamatan publik. Hal itu karena animo publik untuk menonton konser yang amat besar tersebut tidak disertai dengan infrastruktur gedung yang memadai.

Kondisinya semakin rawan karena pihak panitia penyelenggara kurang profesional dalam menjamin keselamatan penonton dan ada modus curang yang memenjual tiket melebihi kapasitas gedung pertunjukan. Kondisinya semakin rawan karena sebetulnya pandemi Covid-19 sebenarnya belum selesai secara tuntas.

Baca berita menarik lainnya di e-paper koran-sindo.com

Desakan para promotor musik dan musisi kepada pemerintah agar diizinkan menggelar konser dengan kehadiran penonton secara langsung perlu disertai dengan prinsip kehati-hatian dan memperhitungkan secara saksama mekanisme atau jalannya pertunjukan.

Dalam kondisi seperti ini, penting memikirkan bagaimana menyempurnakan metode konser musik yang digelar virtual. Konser virtual sebenarnya sudah dinyatakan sebagai bentuk adaptasi ketika masa pandemi, namun achievement industri musik secara keseluruhan ada pada kehadiran penonton secara langsung.

Musik adalah sumber daya yang abadi. Potensi industri musik nasional bisa menjadi daya ungkit sektor pariwisata. Untuk mengelola dan mengembangkan sumber daya musik dibutuhkan infrastruktur berupa gedung pusat musik berstandar dunia. Sayangnya berbagai kota belum memiliki gedung yang sesuai dengan standar global.

Infrastruktur gedung yang selama ini dijadikan tempat diselenggarakannya pertunjukan musik spesifikasinya belum sesuai sebagai concert hall. Jadi sebuah keniscayaan membangunan infrastruktur pertunjukan musik di beberapa kota.

Platform Musik
Industri musik juga membutuhkan ekosistem yang baik untuk berkembang, khususnya terkait dengan inovasi yang berupa platform semacam rumahnya musik Indie. Contoh rumah musik Indie adalah platform SVARA. Platform tersebut adalah karya inovasi anak bangsa yang dilengkapi dengan fitur musik, radio, podcast dan video yang bisa menjadi wahana proses kreatif dan pameran bagi para musisi dan kalangan industri.

Sudah keniscayaan, Indonesia membutuhkan superplatform yang bisa menjadi wahana apresiasi publik secara digital yang memiliki jangkauan hingga ke kampung-kampung.

Perlu visi baru untuk merancang arsitektur media digital dengan wahana platform yang berbasis keindonesiaan. Rancangan dimaksud mencakup tren dan pemikiran baru yang memiliki dampak terhadap komunitas dan nilai kemanusiaan. Juga dampak terhadap industri dan bisnis yang bisa direplikasi ke seluruh negeri hingga mancanegara.

Industri musik nasional perlu superplatform technology and digitalization yang berbasis keindonesiaan yang bisa membangun plank yang saling melengkapi, yakni produk, layanan, atau komunitas yang terintegrasi dengan platform lain.

Perlu superplatform untuk menuju ekosistem Society 5.0. Ekosistem di mana tidak ada lagi dikotomi antara jenis media. Tepatlah premis Content is the King, Locality is the Queen. Tidak ada pihak yang lebih baik dalam hal mengembangkan konten lokal kecuali masyarakat lokal itu sendiri.

Indonesia butuh inovator yang mampu berimajinasi, berinovasi dan melihat dengan mata baru terkait pengembangan superplatform sebagai wahana strategis Society 5.0. Superplatform yang bisa membuahkan human spirit dan ekonomi berbasis co-creation (colaboration-creation).

Maka dengan itu potensi lokal Indonesia dalam waktu yang tidak terlalu lama sudah terkelola dan mendatangkan nilai tambah signifikan dan melahirkan sederet nilai human spirit yang mendunia.

Royalti yang Adil
Survei global oleh Citigroup menunjukkan bahwa para musisi selama ini hanya menerima sekitar 12% dari seluruh hasil industri musik. Musisi hanya menerima uang sebesar USD5 miliar dari total pendapatan USD43 miliar per tahun.

Untuk mengatasi masalah ketimpangan pendapatan di atas perlu mewujudkan basis data industri musik di Tanah Air. Basis data tersebut sangat penting untuk mengatasi pembayaran royalti oleh berbagai pihak. Ini juga sekaligus sebagai solusi masalah layanan musik streaming yang kini masih bermasalah dalam hal pembayaran royalti dan pembayaran kepada pencipta lagu.

Mestinya dengan pendapatan streaming yang makin tumbuh dan berkembang, pemegang hak cipta mendapatkan imbalan yang lebih besar dan hak itu mestinya mudah didapat tanpa berbelit-belit.

Salah satu risiko dan masalah dalam model bisnis musik streaming adalah kurangnya kesepakatan lisensi dengan pemegang hak utama. Industri musik nasional hingga kini belum memiliki pusat data yang komprehensif. Hal ini membuat benang kusut perkara hak cipta tak kunjung teratasi.

Hingga kini pemungutan royalti hasilnya belum menggembirakan. Sosialisasi peran dan tugas Lembaga Manajemen Kolektif Nasional (LMKN) juga masih kurang sehingga sering terjadi silang sengketa antarpemangku kepentingan. Kondisinya semakin sulit karena revolusi industri musik global terus berlangsung. LMKN yang mengatur LMK-LMK yang tersebar di Tanah Air perlu mengoptimasikan pemungutan royalti dan membantu melakukan transformasi digital terhadap karya para pencipta.

Industri musik telah berubah dengan cepat karena arus distribusi digital yang terus meningkat dan berevolusi. Secara global musik streaming semakin mendominasi. Peningkatan layanan streaming musik dan layanan berbasis cloud atau komputasi awan juga akan meningkatkan personalisasi real-time.

Komisioner LMKN mesti memahami masa depan kondisi industri musik yang diwarnai algoritma pemilihan musik yang menggabungkan lebih banyak variabel big data dan machine learning sebagai teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Personalisasi AI musik nantinya akan mencakup sumber big data yang dikirim secara real-time melalui umpan data berbasis cloud yang tidak hanya dikelola oleh user, namun juga berasal dari media sosial, riwayat pembelian, dan kebiasaan mendengarkan dari smartphone, mobil, dan perangkat lain.

Perlu mengelola sumber daya musik yang lebih baik lagi. Saatnya Indonesia mendesain ulang strategi pemasaran musik yang diikuti dengan optimasi pemungutan royalti yang adil dan transparan berbasis platform terkini. Jangan sampai kekayaan lagu dan musik yang merupakan karya kreatif anak bangsa yang sangat beragam mulai dari Sabang hingga Merauke tidak disertai oleh ekosistem yang sehat sesuai dengan tantangan zaman.

Untuk mewujudkan ekosistem sumberdaya musik yang baik diperlukan strategi dan desain baru pemasaran musik nasional dan pemungutan royalti yang efektif yang mengedepankan sinergi antara industri musik dan inovator teknologi dalam negeri, sehingga tidak kalah langkah dengan industri musik global.



(bmm)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Prabowo Ingin Perbanyak...
Prabowo Ingin Perbanyak Konser K-Pop di Indonesia
KMI 2025 Ditutup, Hasilkan...
KMI 2025 Ditutup, Hasilkan Rekomendasi Strategis untuk Ekosistem Musik Nasional
Di Bayangan Jokowi,...
Di Bayangan Jokowi, Konser-konser Besar Diadakan di IKN Setelah Fasilitasnya Sudah Komplet
Punya Semangat Tinggi,...
Punya Semangat Tinggi, Gita Smater Choir NTT Sukses Gelar Konser di Jakarta
Momen Prabowo Nonton...
Momen Prabowo Nonton Konser Ari Lasso Sambil Hidupkan Flash Handphone
Blackpink, Kaum Muda...
Blackpink, Kaum Muda dan Nasionalisme
Pianis Dunia Rueibin...
Pianis Dunia Rueibin Chen Akan Tampil di Jakarta, Bawakan Mahakarya Brahms
ARMY Siap War Tiket...
ARMY Siap War Tiket Konser BTS ARIRANG in Jakarta Hari Ini, Harga Termurah Rp1,8 Juta
Merawat Warisan Sang...
Merawat Warisan Sang Maestro, Musisi Muda Bersatu dalam Konser Tribute 'Pesta Cinta' Elfa Secoria
Rekomendasi
Kebut Program Motor...
Kebut Program Motor dan Kompor Listrik Tahun Depan, Bahlil Anggarkan Rp1,45 Triliun
China Tangkap 2 Pemimpin...
China Tangkap 2 Pemimpin Gereja Bawah Tanah yang Berpengaruh, Apa Pemicunya?
Bukan Hanya Umur, Pakar...
Bukan Hanya Umur, Pakar IPB Sebut 6 Aspek Kesiapan Anak Sebelum Masuk SD
Berita Terkini
Megawati Tegaskan Prabowo...
Megawati Tegaskan Prabowo Bukan Musuh: Itu Teman Saya
BGN Evaluasi Insentif...
BGN Evaluasi Insentif SPPG Rp6 Juta per Hari
Istana Wapres Sebut...
Istana Wapres Sebut Tidak Ada Kesepakatan soal Tenggat Waktu Realisasikan Tuntutan Mahasiswa
Prabowo Terima Telepon...
Prabowo Terima Telepon Mahmoud Abbas, Tegaskan Indonesia Berdiri Bersama Palestina
BGN Pastikan Anggaran...
BGN Pastikan Anggaran MBG Dikurangi, Ini Alasannya
Temui Gibran, Mahasiswa...
Temui Gibran, Mahasiswa Beri Tenggat Waktu 5 Hari ke Pemerintah untuk Realisasikan Tuntutan
Infografis
Sejarah Panjang Persia...
Sejarah Panjang Persia Menjadi Iran yang Mengubah Timur Tengah
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved