AICIS dan Reaktualisasi Peradaban Kemanusiaan

Rabu, 02 November 2022 - 15:34 WIB
loading...
A A A
Krisis paradigmatis dapat kita lihat pada persoalan keagamaan yang terjebak dalam model penalaran absolutisme dengan pendekatan harfiah yang absen dari nilai-nilai humanisme. Salah satu penyebabnya adalah keterpakuan tekstual yang cenderung tertutup, diskriminatif, dan legal-formal.

Hasil riset Jalil Roshandel dan Sharon Chadha dalam Jihad and International Security (2006) dengan sangat komprehensif menjelaskan bahwa praktik-praktik fiqhiah menjadi alat untuk memetakan ideologi dan afiliasi politik keagamaan kelompok tertentu. Bahkan, tekstualitas penalaran fikih dapat melahirkan kekerasan, radikalisme, dan diskriminasi terhadap perempuan dan non-muslim.

Di sinilah titik pangkal krusial di mana teks sebagai jangkar peradaban kemanusiaan, telah dikonstruksi sedemikian rupa untuk diperalat dalam kepentingan tertentu.

Jika ditelisik lebih jauh, terdapat nalar pikiran yang pincang karena hanya memperhatikan nas-nas hukum tanpa melibatkan konteks sosial yang mengitari. Pada titik ini, kejumudan berpikir mengantarkan pada kehilangan kepekaan terhadap kompleksitas kehidupan beragama. Realitas inilah yang saya maksud dengan “timpang” karena satu sisi semangat beragama menguat namun alpa dari nilai-nilai humanisme.

Arah keberagamaan kita sedang dalam pertaruhan. Perjuangan ke arah harmoni peradaban dunia menghadapi tantangan serius. Selain persoalan warisan klasik tentang pemahaman Islam masa lalu yang dipahami sebagai dogma paripurna, saat ini realitas keberagamaan berada pada cara pandang yang sempit dan rigid, bahkan kebenarannya dibatasi dalam kotak aliran dan mazhab semata. Implikasi dari hal itu, pertentangan antaragama dan keyakinan masih bertumpu pada persoalan “permukaan” yang menyisakan penderitaan kemanusiaan.

Tentu saja, kekakuan dan ketidakmampuan (rigidity and inability) ini tidak berakar dari konstruk tertentu atau kebetulan semata, namun telah berkelindan menjadi karakteristik dari satu sistem paradigma, landasan epistemologis dan kerangka diskursus tertentu.

Yang alpa dari realitas ini adalah sentuhan pendekatan kajian ilmu sosial untuk mereaktualisasi dan merekonstekstualisasi Islam pada jangkar kemanusiaan yang bersifat universal.

Dengan kata lain, kajian terhadap studi Islam perlu ditempatkan dalam ruang “integratif” yang mempertimbangkan ekspresi pihak lain (others). Karenanya, konstruksi nalar yang digunakan adalah konstruksi humanis untuk memperhatikan keluwesan yang dapat dipraktekkan dalam interaksi sosial. Sementara terobosan yang diperlukan adalah keberanian menyisir kembali dogma-dogma yang mencengkeram kemanusiaan tapi terlanjur dianggap sebagai ortodoksi Islam.

Konsolidasi Akademik
Pada pembukaan AICIS yang berlangsung di Lombok pada tanggal 20-22 Oktober 2022, Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas meminta agar event AICIS tidak hanya berkutat membahas persoalan kebijakan publik (public policy), melainkan menyasar pada kajian yang relevan dalam keberlangsungan kehidupan global.

Secara eksplisit, Menteri Yaqut menyinggung pentingnya rekonstekstualisasi Islam melalui wahana-wahana akademis yang argumentatif, kaya data sekaligus kaya wacana.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Madam Halimah Yacob...
Madam Halimah Yacob Membuka Harmony in Diversity Award Perdana di Jakarta
Stafsus Menag: Kunjungan...
Stafsus Menag: Kunjungan Presiden Jerman ke Istiqlal Perkuat Diplomasi Agama RI-Jerman
Pesta Babi dan Politik...
'Pesta Babi' dan Politik Identitas
Stafsus Menag Dialog...
Stafsus Menag Dialog dengan Paroki Santo Fransiskus Asisi Aek Nabara, Jamin Hak Beribadah
Gibran Sebut 2026 Jadi...
Gibran Sebut 2026 Jadi Tahun Spesial Bagi Harmoni Indonesia: Keberagaman Jadi Kekuatan
Polisi Diminta Netral...
Polisi Diminta Netral Tangani Kasus Dugaan Penistaan Agama di Aceh
Penghargaan Regional...
Penghargaan Regional Dorong Penguatan Dialog, Kepercayaan, dan Kepemimpinan di Asia Tenggara
Rawat Toleransi, Rampeani...
Rawat Toleransi, Rampeani Rachman Perindo Realisasikan Aspirasi Jemaat Gereja di Mimika
Kunjungan PM India ke...
Kunjungan PM India ke Indonesia Jadi Momentum Perkuat Dialog Perlindungan Minoritas
Rekomendasi
PFII Ditargetkan Beroperasi...
PFII Ditargetkan Beroperasi Tahun Ini, Purbaya Bocorkan Penentuan Lokasi
MR.D.I.Y. Perluas Program...
MR.D.I.Y. Perluas Program Menginspirasi Generasi Inovator, Jangkau 8.600 Anak
Mediator Usulkan Gencatan...
Mediator Usulkan Gencatan Senjata 10 Hari untuk Hidupkan Lagi Kesepakatan AS-Iran
Berita Terkini
UU PFII Bukti Pemerintah...
UU PFII Bukti Pemerintah Serius Bangun Fondasi Ekonomi Jangka Panjang
BGN Perkenalkan Deputi-Sestama...
BGN Perkenalkan Deputi-Sestama Baru, Ada Mantan Kapuspenkum Kejagung
Dugaan Penyamaran Aset...
Dugaan Penyamaran Aset Mantan Jampidsus Febrie Adriansyah Disorot
Jadi Investor Fiktif,...
Jadi Investor Fiktif, 10 WNA Ditangkap Imigrasi
Penguatan Kualitas Lulusan...
Penguatan Kualitas Lulusan Terus Digencarkan SGU
Cerita Megawati Pergoki...
Cerita Megawati Pergoki Intelijen: Hidup Saya Ini Diinteli Terus
Infografis
Sensus Ekonomi 2026:...
Sensus Ekonomi 2026: Data untuk Memperkuat UMKM dan Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved