Mengenal Marhaenisme, Ideologi Warisan Bung Karno

Sabtu, 06 Agustus 2022 - 04:58 WIB
loading...
Mengenal Marhaenisme, Ideologi Warisan Bung Karno
Mengenal marhaenisme, ideologi warisan Bung Karno jadi satu hal yang menarik untuk dibahas. Pasalnya ada cerita unik di balik munculnya ideologi ini. Foto/SINDOnews
A A A
JAKARTA - Mengenal marhaenisme, ideologi warisan Bung Karno jadi satu hal yang menarik untuk dibahas. Pasalnya ada cerita unik di balik munculnya ideologi marhaenisme Bung Karno ini.

Dalam buku Kuantar ke Gerbang, Bung Karno tengah bersepeda kala itu ke Cigereleng sampai di Desa Cibintinu, yang merupakan daerah di selatan Kota Bandung. Saat itu Soekarno bertemu dengan petani muda bernama Marhaen.

Cerita ini diceritakan istri Bung Karno, Inggit Ganarsih. Kata Inggit, sehabis mengayuh sepedanya, Bung Karno menceritakan kesannya saat bertemu Marhaen.

Perhatian Soekarno tertuju pada seorang petani yang sedang mencangkul tanah miliknya. Petani itu bekerja seorang diri, dan pakaiannya sudah lusuh. Setelah menghentikan laju sepedanya, Soekarno sempat memperhatikannya dengan diam.

Baca juga: Cerita Sukses Nadiem Terinspirasi dari Pemikiran Marhaenisme Bung Karno

Kata Inggit, Soekarno menceritakan kesannya setelah bertemu pemuda Marhaen. Dia menggambarkan sosok Marhaen sebagai petani kecil dengan milik kecil, dan punya alat-alat kecil sekadar cukup untuk dirinya sendiri.

Penghasilan petani Marhaen juga kecil, sekadar cukup untuk dirinya sendiri dan mengganjal perut keluarganya. Tidak ada yang lebihnya sedikit pun. Dia juga tidak bekerja untuk orang lain dan tidak ada orang lain yang bekerja untuknya.

Informasi ini didapatkan Soekarno ketika dia mendekati petani itu dan berbicara dengannya menggunakan bahasa Sunda. "Siapa yang punya semua yang engkau kerjakan sekarang ini?" kata Soekarno kepada petani itu. "Saya, juragan," jawab petani itu.

Baca juga: Menguak Diplomasi Kuliner ala Bung Karno

Soekarno melanjutkan, "Apakah engkau memiliki tanah ini bersama-sama dengan orang lain?" Dijawab, "O, tidak, gan. Saya sendiri yang punya." "Tanah ini kau beli?" sambung Soekarno. "Tidak. Warisan bapak kepada anak turun temurun," tegasnya.
Halaman :
Komentar
Copyright © 2022 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.1328 seconds (11.97#12.26)