Kekerasan pada Remaja, Sebuah Sinyal Emergency untuk Kita
Senin, 18 Juli 2022 - 15:34 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Kekerasan Daring dan Luring
Menurut Centers for Disaster Control and Prevention (CDC), ada beberapa faktor risiko yang bisadihubungkan dengan kekerasan remaja, tetapi tidak ditemukan penyebab langsungnya. Gabungan dari faktor individu seperti sejarah kekerasan, kurang perhatian, rendahnya IQ, antisosial, keterlibatan dengan alkohol atau obat terlarang. Faktor hubungan dengan keluarga dan lingkungan, seperti kekerasan dalam keluarga, kurangnya peran pengasuhan, kurangnya monitoring, berteman dengan geng kekerasan, kurangnya aktivitas positif, rendahnya tingkat pendidikan dan sebagainya, adalah faktor-faktor yang sangat berpengaruh.
Remaja sedang berada dalam masa pencarian jati diri dan pengakuan. Ketika anak tidak mendapatkan keduanya dari lingkungan terdekat, maka sangat mungkin anak akan mencarinya di luar keluarga. Jika anak jatuh pada kelompok yang salah dan tidak mampu memberikan contoh baik, atau justru memberikan pengakuan pada saat anak melakukan pelanggaran, maka nilai ini yang akan dianutnya sepanjang masa.
Pada saat berada dalam kondisi krisis identitas, anak sangat memerlukan bimbingan. Menurut Helpguide.org, secara teori memang keluarga yang berperan paling besar di masa-masa remaja ini. Tetapi lingkungan di sekitar anak juga memiliki peran yang cukup signifikan. Menyalahkan anak ketika melakukan kesalahan, tanpa melihat gambaran besarnya adalah hal yang tidak adil bagi anak. Anak sedang belajar untuk membedakan perbuatan buruk dan baik. Anak dan remaja sedang ada dalam tahap mempelajari nilai-nilai tersebut.
Secara hormonal anak-anak juga sedang berada di dalam masa pubertas, kemampuan mengatur emosi belum berkembang dengan sempurna. Anak cenderung berubah-ubah emosinya. Pada saat seperti ini anak membutuhkan penyaluran emosi. Kegiatan berkesenian, belajar keterampilan baru, menyibukkan diri dengan kegiatan-kegiatan positif, adalah hal-hal yang bisa orang tua arahkan menyalurkan emosi dan energi anak.
Mengatakan hal tersebut memang mudah. Sayangnya, memang kita tidak selalu memiliki privilege berada di dunia yang ideal. Bagi orang tua yang mampu, tentu mudah saja mencarikan aktivitas tersebut untuk anak-anaknya. Bagaimana dengan orang tua yang memiliki keterbatasan ekonomi, pengetahuan, dan akses terhadap fasilitas tersebut?
Menurut Centers for Disaster Control and Prevention (CDC), ada beberapa faktor risiko yang bisadihubungkan dengan kekerasan remaja, tetapi tidak ditemukan penyebab langsungnya. Gabungan dari faktor individu seperti sejarah kekerasan, kurang perhatian, rendahnya IQ, antisosial, keterlibatan dengan alkohol atau obat terlarang. Faktor hubungan dengan keluarga dan lingkungan, seperti kekerasan dalam keluarga, kurangnya peran pengasuhan, kurangnya monitoring, berteman dengan geng kekerasan, kurangnya aktivitas positif, rendahnya tingkat pendidikan dan sebagainya, adalah faktor-faktor yang sangat berpengaruh.
Remaja sedang berada dalam masa pencarian jati diri dan pengakuan. Ketika anak tidak mendapatkan keduanya dari lingkungan terdekat, maka sangat mungkin anak akan mencarinya di luar keluarga. Jika anak jatuh pada kelompok yang salah dan tidak mampu memberikan contoh baik, atau justru memberikan pengakuan pada saat anak melakukan pelanggaran, maka nilai ini yang akan dianutnya sepanjang masa.
Pada saat berada dalam kondisi krisis identitas, anak sangat memerlukan bimbingan. Menurut Helpguide.org, secara teori memang keluarga yang berperan paling besar di masa-masa remaja ini. Tetapi lingkungan di sekitar anak juga memiliki peran yang cukup signifikan. Menyalahkan anak ketika melakukan kesalahan, tanpa melihat gambaran besarnya adalah hal yang tidak adil bagi anak. Anak sedang belajar untuk membedakan perbuatan buruk dan baik. Anak dan remaja sedang ada dalam tahap mempelajari nilai-nilai tersebut.
Secara hormonal anak-anak juga sedang berada di dalam masa pubertas, kemampuan mengatur emosi belum berkembang dengan sempurna. Anak cenderung berubah-ubah emosinya. Pada saat seperti ini anak membutuhkan penyaluran emosi. Kegiatan berkesenian, belajar keterampilan baru, menyibukkan diri dengan kegiatan-kegiatan positif, adalah hal-hal yang bisa orang tua arahkan menyalurkan emosi dan energi anak.
Mengatakan hal tersebut memang mudah. Sayangnya, memang kita tidak selalu memiliki privilege berada di dunia yang ideal. Bagi orang tua yang mampu, tentu mudah saja mencarikan aktivitas tersebut untuk anak-anaknya. Bagaimana dengan orang tua yang memiliki keterbatasan ekonomi, pengetahuan, dan akses terhadap fasilitas tersebut?
Lihat Juga :