Pemerintah Diminta Antisipasi Dampak Krisis Global Akibat Pandemi Covid-19
Rabu, 13 Juli 2022 - 20:39 WIB
loading...
A
A
A
"Gelembung utang sejumlah bisnis dan negara memicu krisis finansial dunia. Negara mana lagi yang akan terdampak? Bisa dilihat dari besarnya utang negara yang bersangkutan," ujarnya.
Langkah yang bisa mendorong ekonomi tumbuh saat ini, ujar Shanti, adalah pengembangan bisnis domestik yang berkaitan dengan kebutuhan dasar masyarakat. Upaya ini, jelas Shanti, bisa jadi penyelamat kita dari krisis. Langkah lain, adalah dengan tidak menambah utang. Shanti bersyukur dengan utang Indonesia yang saat ini menyusut.
Presiden Direktur Celebes Capital, Bambang Adi Prasetyo menilai kondisi pergerakan ekonomi yang terjadi saat ini merupakan sebuah siklus, seperti dalam sebuah bejana berhubungan. Pergerakan ekonominya, tergantung oportunity di sektor-sektor yang dinilai menguntungkan. Bagi investor, jelas Bambang, yang dicari adalah yield yang tinggi, sehingga selalu mencari instrumen baru. "Selalu ada peluang dalam setiap tantangan yang ada," ujarnya.
Berdasarkan analisa Bambang, ada tiga sektor yang sangat dibutuhkan dunia saat ini yaitu sektor pangan, energi dan air. Dengan berfokus pada pengembangan di tiga sektor tersebut, diharapkan Indonesia bisa meningkatkan daya tahan ekonominya.
Peneliti INDEF bidang Ekonomi Industri, Perdagangan dan Investasi, Ahmad Heri Firdaus berpendapat, tidak stabilnya kondisi global menyebabkan sejumlah negara melakukan kebijakan pembatasan ekspor yang berdampak pada menipisnya pasokan dunia. Menurut Ahmad, bila pemerintah tidak mampu mengatasi subsidi BBM seiring dengan kenaikan harga minyak dunia akan menciptakan inflasi yang semakin tinggi. "Defisit APBN 3% menjadi sulit terwujud," ujarnya.
Menurut Ahmad, dalam setiap krisis pasti ada pemicunya sehingga Indonesia harus mampu memitigasi dan mengelola faktor pemicunya agar mampu mengatasi krisis itu. Sejumlah upaya yang harus dilakukan, tambah Ahmad, antara lain adalah menjaga produktivitas masyarakat lewat sejumlah insentif usaha, peningkatan pemanfaatan produk dalam negeri dan penerapan non tariff measures (NTMs) untuk impor sehingga barang-barang yang diimpor benar-benar meningkatkan produktivitas di dalam negeri. "Bukan antiimpor, tetapi impor kita harus selektif," tegasnya.
Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga, Badri Munir Sukoco berpendapat untuk mempertahankan ekonomi tetap tumbuh Indonesia bisa memanfaatkan tingginya domestic demand yang dimiliki. Langkah krusial yang harus dilakukan, menurut Badri, adalah menjaga harapan dan kepercayaan diri masyarakat agar tetap memiliki daya beli yang tinggi.
Selain itu, tambahnya, menekan pertumbuhan impor dan menerapkan diversifikasi pangan secara nyata harus benar-benar diterapkan. Belanja pemerintah, jelas Badri, harus ditekan terutama pos perjalanan luar negeri untuk sementara harus dihapus. Langkah ini, tambah dia, sekaligus menekan larinya devisa ke luar negeri.
Langkah yang bisa mendorong ekonomi tumbuh saat ini, ujar Shanti, adalah pengembangan bisnis domestik yang berkaitan dengan kebutuhan dasar masyarakat. Upaya ini, jelas Shanti, bisa jadi penyelamat kita dari krisis. Langkah lain, adalah dengan tidak menambah utang. Shanti bersyukur dengan utang Indonesia yang saat ini menyusut.
Presiden Direktur Celebes Capital, Bambang Adi Prasetyo menilai kondisi pergerakan ekonomi yang terjadi saat ini merupakan sebuah siklus, seperti dalam sebuah bejana berhubungan. Pergerakan ekonominya, tergantung oportunity di sektor-sektor yang dinilai menguntungkan. Bagi investor, jelas Bambang, yang dicari adalah yield yang tinggi, sehingga selalu mencari instrumen baru. "Selalu ada peluang dalam setiap tantangan yang ada," ujarnya.
Berdasarkan analisa Bambang, ada tiga sektor yang sangat dibutuhkan dunia saat ini yaitu sektor pangan, energi dan air. Dengan berfokus pada pengembangan di tiga sektor tersebut, diharapkan Indonesia bisa meningkatkan daya tahan ekonominya.
Peneliti INDEF bidang Ekonomi Industri, Perdagangan dan Investasi, Ahmad Heri Firdaus berpendapat, tidak stabilnya kondisi global menyebabkan sejumlah negara melakukan kebijakan pembatasan ekspor yang berdampak pada menipisnya pasokan dunia. Menurut Ahmad, bila pemerintah tidak mampu mengatasi subsidi BBM seiring dengan kenaikan harga minyak dunia akan menciptakan inflasi yang semakin tinggi. "Defisit APBN 3% menjadi sulit terwujud," ujarnya.
Menurut Ahmad, dalam setiap krisis pasti ada pemicunya sehingga Indonesia harus mampu memitigasi dan mengelola faktor pemicunya agar mampu mengatasi krisis itu. Sejumlah upaya yang harus dilakukan, tambah Ahmad, antara lain adalah menjaga produktivitas masyarakat lewat sejumlah insentif usaha, peningkatan pemanfaatan produk dalam negeri dan penerapan non tariff measures (NTMs) untuk impor sehingga barang-barang yang diimpor benar-benar meningkatkan produktivitas di dalam negeri. "Bukan antiimpor, tetapi impor kita harus selektif," tegasnya.
Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga, Badri Munir Sukoco berpendapat untuk mempertahankan ekonomi tetap tumbuh Indonesia bisa memanfaatkan tingginya domestic demand yang dimiliki. Langkah krusial yang harus dilakukan, menurut Badri, adalah menjaga harapan dan kepercayaan diri masyarakat agar tetap memiliki daya beli yang tinggi.
Selain itu, tambahnya, menekan pertumbuhan impor dan menerapkan diversifikasi pangan secara nyata harus benar-benar diterapkan. Belanja pemerintah, jelas Badri, harus ditekan terutama pos perjalanan luar negeri untuk sementara harus dihapus. Langkah ini, tambah dia, sekaligus menekan larinya devisa ke luar negeri.
(cip)
Lihat Juga :