Bulan: Terikat dan Terpikat

Sabtu, 14 Mei 2022 - 07:53 WIB
loading...
Bulan: Terikat dan Terpikat
Bulan: Terikat dan Terpikat
A A A
Bandung Mawardi
Penulis buku Di Telapak Cerita (2022)


Sejak ribuan tahun lalu, bulan menjadi cerita tak rampung. Cerita-cerita diwariskan dengan pikat dan dampak berbeda. Cerita-cerita “meralat” dan baru terus diciptakan. Masa demi masa, bulan di langit menjadi bulan di hati, pikiran, bebatuan, lontar, kertas, dan kain.

Sindhunata dalam buku berjudul Mata Air Bulan (1998) mengajukan renungan: “Menurut pikiran manusia: bulan seharusnya selalu memberi hiburan, terang, dan kegembiraan. Menurut penyelenggaraan ilahi, sebaliknyalah yang terjadi: bulan itu memberikan kegelapan, dukacita, dan barangkali keputusasaan. Sanggupkah manusia bertahan dan menanggung keadaan demikian berlawanan itu?”

Sindhunata terus menjawab melalui puisi, novel, dan esai. Ia tampak terikat dan terpikat bulan. Selama puluhan tahun, ia belum selesai bercerita bulan. Ikhtiar menafsir dan membeberkan tak pernah sampai akhir. Sindhunata mungkin mengakui mustahil khatam dalam membaca bulan untuk dituliskan dengan bahasa-bahasa menghampiri manusia merangsang keinsafan dan ketakjuban. Bulan selalu ada, belum ingin absen dalam lakon semesta. Cerita-cerita lama mungkin terlupa. Cerita-cerita baru mungkin masih disangkal ragu. Sindhunata pun pantang jemu selalu menulis bulan.

Sains sanggup menjelaskan bulan. Penjelasan mengandung kebenaran-kebenaran. Sains dimengerti tapi imajinasi bulan mengalir tanpa ada ujung. Sindhunata memilih di titian cerita ketimbang mengurusi bulan dengan studi-studi sains. Konon, cerita-cerita bulan melenakan tapi menguak kebenaran-kebenaran jarang tampak mata atau sulit “terbaca” para astronom dan ilmuwan.

Kita dihadapkan kalimat-kalimat Sindhunata melulu bulan: “Nak, carilah mata air bulan! Di sanalah, kamu akan menemukan jawaban, mengapa air dan bulan bisa bersatu dalam kerinduan.” Petuah setelah orang melihat keindahan dan menginginkan terang atas pengalaman. Sindhunata sedang membuat bibliografi bulan meski berulang. Ia memberi khotbah: “Air terpisah dari bulan. Tetapi di fajar pagi itu, kamu merasakan betapa bulan hanyut dalam aliran air, lebur menjadi sebuah kerinduan. Sepanjang kerinduan air, seterang itu kerinduan bulan. Bulan tak pernah hilang meski bersama aliran air. Terangnya ditelan samudera berulang-ulang. Terang bulan tak pernah padam kendati ia harus hanyut dalam kerinduan air yang mengalir tanpa berakhir.” Khotbah membumi, bukan ketetapan melangit.

Pada 2022, Sindhunata berusia 70 tahun. Ia mempersembahkan cerita masih bulan. Buku terbit mengartikan si pengarang tetap “terbit, belum tenggelam oleh usia atau kebosanan. Buku itu berjudul Anak Bajang Mengayun Bulan. Pembaca tak usah tergesa mencari gambar bulan. Di kulit muka buku, kita justru melihat ibu mengandung dua anak. Bulan itu ibu? Bulan belum tampak di sampul tapi kita bakal terikat dan terpikat bulan dalam ratusan halaman. Di Indonesia, Sindhunata mungkin pengarang terpenting keranjingan bercerita bulan. Kita tak jemu-jemu turut melanggengkan bulan mula-mula cerita, sebelum mengakui kebenaran sains.

Tokoh bernama Sukrosono (raksasa bajang) sedang dilanda sedih dan merasa tenggelam dalam duka tak bernama. Di hutan, ia menanggungkan nasib ingin terang tapi gelap melanda dengan duka dan kesepian. Sindhunata bercerita: “Di ujung kegelapan ini tampak bulan sedang turun serendah-rendahnya, menghamparkan remang-remang terangnya. Betapa bahagia raksasa bajang ketika ia kembali melihat sinar bulan setelah sekian lama terbenam tanpa jalan keluar dalam kegelapan. Dengan helai-helai sinar bulan, ia mengamati sekelilingnya. Ia mendapati dirinya sedang berdiri di tengah hamparan kembang campaka yang membentang jadi pelataran bulan purnama. Bulan tiba-tiba menjadi penuh, cahayanya memecah kesunyian, dan gugurlah daun-daun malam yang bergemerisik, membangunkan kesepian raksasa bajang.”

Kita melihat peristiwa puitis. Ketakjuban tak mungkin selesai dengan selusin alinea. Sindhunata masih bersabar tak mengumbar bulan cuma di halaman-halaman awal. Peristiwa dialami Sukrosono di hutan Jatirasa membenarkan anggapan: bulan itu perempuan, bulan itu ibu, bulan itu kerinduan, bulan itu kenangan. Pembaca dibuat terharu dalam pertemuan anak dan ibu. Perpisahan dan kegamangan nasib dijawab bulan. Sukrosono merindukan ibu. Perempuan merasa bersalah dan menginginkan pertemuan dengan anak pernah dibuang gara-gara bertubuh dan bertampang jelek. Dua sosok bertemu sulit dalam berbahasa tapi merasa mengerti dengan pelukan dan ciuman. Sindhunata memberi adegan mengharukan: “Merasakan pelukan yang demikian mesra, makin deraslah perempuan itu mencucurkan air matanya. Ia tak dapat berkata-kata, kecuali menciumi pipi raksasa bajang itu dengan tak kalah mesranya.”

Sindhunata bercerita bulan mengacu warisan epos-epos bersemi di Jawa. Ia memasuki jagat cerita telah dialami orang-orang terdahulu menghidupi Mahabharata dan Ramayana. Di Jawa atau Nusantara, epos-epos itu bertumbuh dan bercabang menghasilkan ribuan cerita. Epos sebagai acuan mendapat imbuhan dari pembacaan kitab suci dan sejarah peradaban memungkinkan pembesaran bahasa-sains. Sindhunata belum bermaksud menceritakan bulan sebagai kebenaran-kebenaran rasional. Sekian cerita ingin mengembalikan bulan dalam pengalaman-pengalaman keindahan, keimanan, dan asmara.

Bercerita bulan bukan untuk bualan tapi buaian kesejatian manusia, alam, dan Tuhan. Di khazanah sastra Jawa, kemahiran Sindhunata mengisahkan bulan sudah didahului para pujangga atau penggubah tembang-tembang, sejak ratusan tahun lalu. Di Jawa, bulan itu acuan menimbulkan keberlimpahan cerita untuk terbaca-terdengar atau kenikmatan menembang dalam kesendirian atau kebersamaan. Sindhunata berada di jalan sudah dilewati orang-orang terpukau bulan.

Di buku berjudul Kebudayaan Jawa (1984), Koentjaraningrat menjelaskan pelbagai seni dan sastra mementingkan pengisahan alam-semesta. Bulan menjadi acuan terlanggengkan. Di kalangan priyayi dan petani, bulan ditemukan dalam beragam seni. Di persembahan sastra-sastra lama beralamat keraton atau tetembangan desa, bulan senantiasa menakjubkan dalam ungkapan kegembiraan, kebahagiaan, dan keindahan. Bulan pun renungan atau tamsil. Di Jawa, bulan makin berarti dengan kesadaran arsitektur rumah dan tata cara pertanian. Bulan bukan milik orang-orang Jawa saja tapi kepemilikan itu erat.

Sindhunata menuliskan bulan untuk orang-orang masih mau memberi tatapan ketakjuban ketimbang penelantaran akibat peradaban terlalu berubah oleh lampu-lampu dan pemandangan buatan. Di halaman-halaman Anak Bajang Mengayun Bulan, kita menikmati lagi cerita-cerita bergerak lambat untuk nikmat bagi pendamba makna-makna terhubung kesilaman dan epos tak pernah kedaluwarsa.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Mengelola Sawit untuk...
Mengelola Sawit untuk Indonesia yang Kuat
Mengenal System Shift,...
Mengenal System Shift, Kerangka Baru Membaca Perubahan Dunia
Mudiruna, Kisah Ulama...
Mudiruna, Kisah Ulama Cahaya dari Rumah Sederhana
Bukan Motivasi Kosong,...
Bukan Motivasi Kosong, Positivo Theory Jadi Panduan Nyata Anak Muda Bangun Masa Depan
Rustini Muhaimin Tekankan...
Rustini Muhaimin Tekankan Budaya Literasi dengan Gerakan Membaca
Prosumenesia: Era Baru...
Prosumenesia: Era Baru Konsumen Jadi Produsen Digital
Buku “Misi untuk Raka”...
Buku Misi untuk Raka Diluncurkan, Edukasi Anak Usia Dini agar Seru Tanpa Gawai
Berani Sehat, Tak Perlu...
Berani Sehat, Tak Perlu Takut Kuman
3 Manfaat Membacakan...
3 Manfaat Membacakan Buku untuk Anak: Asah Kemampuan Komunikasi, Emosi, dan Imajinasi
Rekomendasi
Lampung Kukuhkan Diri...
Lampung Kukuhkan Diri sebagai Sentra Semangka Nasional
Timnas Indonesia Tekuk...
Timnas Indonesia Tekuk Timor Leste 3-0 di Piala AFF U-19 2026
Bripka Dedy Wiratama...
Bripka Dedy Wiratama yang Bekingi Kampung Narkoba Samarinda Dipecat
Berita Terkini
Dukung Naniek S Deyang...
Dukung Naniek S Deyang Pimpin BGN, Arus Bawah Prabowo Minta Program MBG Dibenahi
Wamenkum: 20 DIM RUU...
Wamenkum: 20 DIM RUU Polri Bakal Dibahas Bareng DPR
2 Pengusaha Divonis...
2 Pengusaha Divonis 1,5 Tahun Penjara, Kuasa Hukum: PT KEM Korban Sistem di Kemnaker
Silmy Karim Jadi Tersangka...
Silmy Karim Jadi Tersangka KPK, Mensesneg: Kita Perang Melawan Korupsi
Pertama Dalam Sejarah,...
Pertama Dalam Sejarah, Kemenag Lantik 15 Perempuan Jadi Kepala KUA
Tak Kaget Dadan dan...
Tak Kaget Dadan dan Silmy Terjerat Kasus Korupsi, Noel: Juni-Juli Banyak Pejabat Ditangkap KPK
Infografis
Trade Misinvoicing dan...
Trade Misinvoicing dan Upaya Penguatan Integritas Perdagangan Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved