Berkah Lebaran untuk Ekonomi Daerah
Selasa, 10 Mei 2022 - 11:50 WIB
loading...
A
A
A
Besarnya jumlah pemudik juga bisa dilihat pada banyaknya kendaraan yang meninggalkan Jabodetabek untuk mudik. PT Jasa Marga mengungkapkan sebanyak 2 juta kendaraan meninggalkan Jabotabek selama arus mudik, yakni sejak H-10 sampai H+1 Lebaran. Perjalanan itu menuju tiga arah, yaitu timur (Trans Jawa dan Bandung), barat (Merak) dan selatan (Bogor/Puncak).
Perputaran uang selama Idul fitri 2022 diperkirakan mencapai Rp28 hingga Rp42 triliun. Perhitungan itu dengan asumsi jumlah pemudik yang mencapai 85 juta orang di mana rata-rata per keluarga memilki anggota tiga orang. Artinya, kurang lebih ada 28 juta keluarga. Sementara jika rata-rata setiap anggota keluarga membelanjakan sekitar Rp1,5 juta, maka potensi perputaran uang selama mudik di kisaran Rp42 triliun.
Kegiatan mudik lebaran mengandung multiplier effect ekonomi yang cukup signifikan bagi daerah-daerah di Indonesia, terutama yang warganya mempunyai budaya merantau dan kembali ke kampung halaman. Para pemudik ini membawa sebagian hartanya untuk dibagikan kepada sanak saudara dan lingkungan terdekatnya, sehingga dampak ekonomi “uang dari kota” ini ke daerah cukup besar.
Usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di daerah termasuk sektor yang ketiban untung dengan kedatangan pemudik. Sektor yang terpukul dan kehilangan omzet hingga 50% akibat pandemi ini diprediksi akan mengalami kenaikan omzet seiring dengan mulai terkendalinya pandemi Covid-19. Omzet UMKM berpotensi melesat lantaran selama ini banyak stimulus yang diberikan pemerintah untuk membangkitkan para pelaku usaha.
Salah satunya dengan mendukung pelaku UMKM memanfaatkan digitalisasi agar makin mudah menjual produknya. Digitalisasi akan membuat ongkos produksi lebih murah, berjualan lebih cepat dan lebih murah. Dengan demikian produk dan pemasaran UMKM akan lebih kencang dan bisa menjangkau wilayah yang lebih luas lagi.
Perputaran uang selama Idul fitri 2022 diperkirakan mencapai Rp28 hingga Rp42 triliun. Perhitungan itu dengan asumsi jumlah pemudik yang mencapai 85 juta orang di mana rata-rata per keluarga memilki anggota tiga orang. Artinya, kurang lebih ada 28 juta keluarga. Sementara jika rata-rata setiap anggota keluarga membelanjakan sekitar Rp1,5 juta, maka potensi perputaran uang selama mudik di kisaran Rp42 triliun.
Kegiatan mudik lebaran mengandung multiplier effect ekonomi yang cukup signifikan bagi daerah-daerah di Indonesia, terutama yang warganya mempunyai budaya merantau dan kembali ke kampung halaman. Para pemudik ini membawa sebagian hartanya untuk dibagikan kepada sanak saudara dan lingkungan terdekatnya, sehingga dampak ekonomi “uang dari kota” ini ke daerah cukup besar.
Usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di daerah termasuk sektor yang ketiban untung dengan kedatangan pemudik. Sektor yang terpukul dan kehilangan omzet hingga 50% akibat pandemi ini diprediksi akan mengalami kenaikan omzet seiring dengan mulai terkendalinya pandemi Covid-19. Omzet UMKM berpotensi melesat lantaran selama ini banyak stimulus yang diberikan pemerintah untuk membangkitkan para pelaku usaha.
Salah satunya dengan mendukung pelaku UMKM memanfaatkan digitalisasi agar makin mudah menjual produknya. Digitalisasi akan membuat ongkos produksi lebih murah, berjualan lebih cepat dan lebih murah. Dengan demikian produk dan pemasaran UMKM akan lebih kencang dan bisa menjangkau wilayah yang lebih luas lagi.
Lihat Juga :