Berkah Lebaran untuk Ekonomi Daerah
Selasa, 10 Mei 2022 - 11:50 WIB
loading...
Momentum Lebaran Idulfitri 2022/1443 H diharapkan mendorong perekonomian daerah seiring banyaknya warga yang mudik atau pulang ke kampung halaman untuk bersilaturahmi dengan keluarga dan berwisata. (KORAN SINDO/Wawan Bastian)
A
A
A
KEBIJAKAN pemerintah yang mengizinkan mudik Lebaran Idulfitri 2022/1443 H disambut antusias semua pihak. Kegiatan mudik yang tidak diperbolehkan selama dua tahun terakhir telah menyebabkan tingkat konsumsi masyarakat Indonesia menurun dan membuat pertumbuhan ekonomi terkoreksi. Dibukanya izin mudik lebaran tahun ini diharapkan dapat mendorong perputaran kembali roda perekonomian nasional menjadi lebih cepat.
Momentum mudik tahun ini bisa dibilang cukup istimewa. Keputusan pemerintah atas cuti bersama membuat durasi libur lebaran menjadi lebih panjang, yakni seminggu penuh. Waktu libur yang panjang memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk dapat mengagendakan kegiatan silaturahmi kepada segenap keluarga sekaligus berwisata.
Mudik lebaran memang sudah menjadi budaya di negeri ini. Setiap menjelang Hari Raya Idul Fitri,masyarakat di perantauan berbondong-bondong pulang ke kampung halaman. Ada semacam ikatan batin yang tak terpisahkan antara warga terhadap kampung halaman. Berapa pun biaya yang harus digelontorkan untuk memenuhi hasrat pulang kampung itu, akan diupayakan untuk direalisasikan.
Tradisi itu sudah menjadi ritual budaya sebagai penghormatan terhadap sanak saudara di kampung halaman. Mudik juga seolah menjadi simbol identitas untuk mengukur diri seseorang. Bila ritual itu terabaikan, bukan tidak mungkin orang akan terkena semacam "sanksi sosial". Eksistensi seseorang sebagai perantau bisa saja dipertanyakan oleh keluarga atau komunitas di kampung halaman.
Selain sebagai fenomena sosial budaya, mudik juga merupakan fenomena ekonomi. Aktivitas masyarakat selama di kampung halaman ini tentunya akan berpotensi mendorong pergerakan ekonomi terutama di daerah. Sebelum mudik berlangsung, Kementerian Perhubungan menyebut jumlah pemudik bisa mencapai 85,5 juta jiwa.
Momentum mudik tahun ini bisa dibilang cukup istimewa. Keputusan pemerintah atas cuti bersama membuat durasi libur lebaran menjadi lebih panjang, yakni seminggu penuh. Waktu libur yang panjang memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk dapat mengagendakan kegiatan silaturahmi kepada segenap keluarga sekaligus berwisata.
Mudik lebaran memang sudah menjadi budaya di negeri ini. Setiap menjelang Hari Raya Idul Fitri,masyarakat di perantauan berbondong-bondong pulang ke kampung halaman. Ada semacam ikatan batin yang tak terpisahkan antara warga terhadap kampung halaman. Berapa pun biaya yang harus digelontorkan untuk memenuhi hasrat pulang kampung itu, akan diupayakan untuk direalisasikan.
Tradisi itu sudah menjadi ritual budaya sebagai penghormatan terhadap sanak saudara di kampung halaman. Mudik juga seolah menjadi simbol identitas untuk mengukur diri seseorang. Bila ritual itu terabaikan, bukan tidak mungkin orang akan terkena semacam "sanksi sosial". Eksistensi seseorang sebagai perantau bisa saja dipertanyakan oleh keluarga atau komunitas di kampung halaman.
Selain sebagai fenomena sosial budaya, mudik juga merupakan fenomena ekonomi. Aktivitas masyarakat selama di kampung halaman ini tentunya akan berpotensi mendorong pergerakan ekonomi terutama di daerah. Sebelum mudik berlangsung, Kementerian Perhubungan menyebut jumlah pemudik bisa mencapai 85,5 juta jiwa.
Lihat Juga :