Ibu Kota Negara

Senin, 21 Maret 2022 - 11:13 WIB
loading...
Ibu Kota Negara
Al Makin, Rektor UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta. Foto/Dok. SINDOnews
A A A
Al Makin
Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

PERPINDAHAN pusat pemerintahan dan politik dalam sejarah peradaban manusia itu wajar dan sering terjadi. Dalam segala bentuk pemerintahan dari kerajaan, dinasti, sampai konsep modern negara bangsa terjadi perpindahan pusat memerintah. Tentu istilah tidak sama antara ibu kota dalam konsep negara bangsa pasca Perang Dunia II dengan pusat pemerintahan era klasik, kuno, dan pra-sejarah.

Kita mengenal budaya kuno seperti Romawi yang mengatur dunia selama lebih dari dua milania dengan perpindahan pusat politik. Utamanya, dari Romawi Barat di Italia ke Romawi Timur Konstantinopel di Turki, perpindahan pusat politik, sosial dan agama. Perpindahan tersebut juga ditandai dengan penyebaran ajaran Kristiani di wilayah emperium itu.

Dalam konsep tempo dulu masa pra-industrial, pra-modern, dan pra-sejarah, pusat pemerintahan menyatu dengan pusat ekonomi, sosial, dan agama. Penguasa politik sekaligus mendominasi ekonomi dan mengatur agama. Penguasa mengendalikan total, tanpa oposisi. Inilah yang diusahakan untuk dipisahkan dalam konsep negara modern, dengan istilah sekularisasi.

Sekularisasi tidak hanya merujuk pada pemisahan geraja dan negara, masjid dan pemerintahan, pura dan politik, vihara dan kerajaan, atau raja dan pendeta, tetapi sekularisasi juga sekaligus pemisahan kepentingan-kepentingan. Ini konsep baru dan dijalankan sejak lahirnya negara bangsa seiring dengan konsep demokrasi modern.

Pemisahan kepentingan-kepentingan antar sektor diharapkan melahirkan konsentrasi dan profesionalisme dan menjaga tidak campur aduknya otoritas-otoritas. Otoritas yang menyatu bisa berbahaya dalam kehidupan modern ini, karena konsep negara modern tidak lagi ingin mengulang model kekuasaan pra-industrialisasi.

Otoritas dan kekuasaan dalam era kita sudah terbagi. Negarawan mengurus politik. Pengusaha mengurus ekonomi. Pemuka agama mengurus ibadah. Guru mengurus murid-murid.

Cendikiawan memberi pandangan-pandangan yang sehat. Rakyat bekerja secara profesional. Hukum berlaku bagi semuanya. Semua terpisah-pisah secara hukum dan ditaati. Itulah tujuan sekularisasi dalam demokrasi.

Otoritas politik idealnya dipisahkan dari otoritas yang lain. Tentu tempo dulu melihat otoritas agama yang hampir sepadan dengan politik. Tokoh agama masa lalu sangat kuat pengaruhnya karena sekaligus mengatur sosial, politik dan bahkan ekonomi.

Pemisahan menandai adanya pembagian ruang, peran, dan fungsi. Sampai era reformasi di Indonesia, pemisahan agama dan politik masih perlu diskusi lebih lanjut. Relasi antara ekonomi dan politik mendapat banyak sorotan.

Relasi antara ekonomi dan agama masih dinamis. Relasi antara para pemuka agama, cendikiawan, kaum profesional, dan politisi masih terus mencari bentuk ideal. Sekulariasi di atas meja dan rundingan tentang makna itu masih terus bergulir.

Ibu kota era tempo dulu menyatukan semuanya. Ibu kota modern memberi harapan pemisahan. Jakarta saat ini masih terkesan menyatukan politik, sosial, ekonomi, agama dan banyak sektor. Pemindahan ibu kota dari Jakarta ke Ibu kota baru diharapkan agar pemisahan antara politik dan sektor lain lebih jelas, terutama dengan ekonomi.

Lihatlah Amerika, New York sebagai pusat metropolitan yang ramai, bandingkan dengan ibu kota pemerintahan Washington yang sepi. Sydney lebih ramai daripada Canberra. Memang ada konsep berbeda, seperti Tokyo sebagai pusat keramaian sekaligus ibu kota. Paris juga sama.

Tetapi mungkin alternatif pandangan lain perlu. Mumbai di India lebih besar dari Delhi. Sanghai lebih megah dari Beijing. Tetangga kita Kuala Lumpur masih menjadi tempat gedung-gedung termegah di Malaysia.

Perpindahan kekuasaan dan musim politik dalam sejarah Nusantara itu sendiri juga sering. Di abad empat sampai abad sepuluh Sumatera menjadi pusat dunia.

Keuntungan dua angin yang membawa layar kapal-kapal ke arah Palembang Sriwijaya dari arah China menjadikan Sriwijaya tempat singgah sebelum kapal itu lanjut ke arah India. China dan India dihubungkan dengan pusat budaya dan spiritualitas Buddhisme.

Sekali lagi, agama dan politik menyatu di sini, sama seperti era Romawi kuno. Budhisme juga mempengaruhi pola politik Nusantara, sebagaimana kita saksikan hasil karyanya seperti Borobudur di Jawa.

Batavia atau Jakarta adalah warisan Belanda. Di kota itu tempat bercampurnya berbagai etnis dan budaya. Eropa, China, Arab, India, Melayu, Bugis, Jawa, Sunda, Madura, Dayak, Batak, dan lain-lain sejak tinggal di Batavia sebagai melting pot (bercampurnya berbagai ras dan etnis).

Batavia era kolonial tentu menyatukan politik dan ekonomi. Belanda sendiri memegang prinsip bahwa penguasaan Nusantara bisa dilakukan dari Jawa. Bandara-bandara laut terhubung dengan kapal-kapal. Secara infrastruktur Jawa juga paling awal digarap.

Dibangunnya rel kereta api dan jalan dari Anyer ke Panarukan menunjukkan kesiapan Jawa. Batavia sendiri hampir menyerupai Singapura, kota kecil yang diharapkan menjadi pusat politik dan ekonomi.

Kembali pada Sriwijaya sebagai salah satu model Nusantara. Kemungkinan besar negara itu semacam federal dalam arti modern, yang tidak sama dengan konsep seribu lima ratus tahun yang lalu.

Kebesaran Sriwijaya sebagai pusat Asia Tenggara sampai pada benua Asia. Pengaruh dan kekuasaannya menjadi saksi bahwa Nusantara pernah besar sebelum era industrialisasi yang membawa bangsa-bangsa Eropa ke Nusantara untuk berdagang lalu menjajah.

Sriwijaya ini posisinya unik sebagai simbol dalam sejarah pergerakan nasionalisme dan patriotisme Indonesia. Satu sisi para tokoh Sumatera dari Padang seperti Datuk Ibrahim Tan Malaka, M Hatta, Sjahrir dan Agus Salim, dan Moh Yamin terutama mengajak kembali ke Majapahit yang notabenenya adalah Jawa.

Pada waktu revolusi dan kemerdekaan, penelitian tentang Sriwijaya masih belum seperti saat ini. Kebesaran dan wilayah Sriwijaya belum begitu disadari. Tampaknya Moh Yamin mempunyai referensi yang cukup untuk Majapahit dan Gajah Mada. Majapahit ibu kotanya di situs Trowulan mengatur wilayah dalam dan luar pulau Jawa.

Jika ibu kota negara direncanakan pindah ke Kalimantan, tepatnya di dekat kerajaan paling tua di Nusantara, Kutai, ini adalah wacana tidak asing lagi. Kalimantan pernah menjadi pusat. Hutan-hutan yang menjadi jalan menuju lokasi, daerah perbukitan akan memberi warna lain.

Semoga perpisahan politik, ekonomi, agama, pendidikan, dan sektor-sektor lain terjadi di ibu kota baru. Ibu kota baru semoga mampu memilah kepentingan politik, ekonomi, agama, sosial, dan lainnya.
(poe)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
NU, Antara Tradisi Pesantren,...
NU, Antara Tradisi Pesantren, Profesionalisme Organisasi, dan Kemandirian Ekonomi
Status Quo Jabatan Fungsional...
Status Quo Jabatan Fungsional ASN
Makna Pemakaman Ayatollah...
Makna Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei
Transformasi Strategis...
Transformasi Strategis Memasuki Era Quantum Globalisasi 2.0
Analisa Hukum Putusan...
Analisa Hukum Putusan Perkara Nadiem Makarim
HUT Bhayangkara: Mampukah...
HUT Bhayangkara: Mampukah Polri Melindungi Kritik Tanpa Mengkriminalisasi Warga?
Plaza Seremoni IKN Karya...
Plaza Seremoni IKN Karya Brantas Abipraya Raih Penghargaan Lanskap Internasional MLAA 2026
Kunjungi IKN, Ketum...
Kunjungi IKN, Ketum Garuda Jajaki Peluang Usaha untuk UMKM
Rano Karno Sebut Jakarta...
Rano Karno Sebut Jakarta Masuk 53 Kota Terbaik Dunia Kalahkan Washington DC
Rekomendasi
Timur Tengah Kembali...
Timur Tengah Kembali Membara! Serangan Drone Iran Menarget Militer AS
Nikita Mirzani Dituding...
Nikita Mirzani Dituding Suap Hakim Agung Rp4 Miliar, Kuasa Hukum: Itu Fitnah
Perkuat Basis Elektoral...
Perkuat Basis Elektoral melalui Ketokohan dan Pelayanan Masyarakat di Sulsel, Perindo Siapkan Kader Pemimpin Masa Depan
Berita Terkini
Usut Korupsi Batu Bara...
Usut Korupsi Batu Bara hingga Asabri, Polisi Geledah Kafe dan Money Changer di Jaksel
Penampakan Land Cruiser...
Penampakan Land Cruiser terkait Kasus Bupati Kuansing Tiba di Rupbasan KPK
Dukung Penambahan Jumlah...
Dukung Penambahan Jumlah Polhut, Sahroni: Bukti Komitmen Pemerintah atas Perlindungan Hutan
Nadiem Makarim Bakal...
Nadiem Makarim Bakal Laporkan Hakim Perkara Chromebook ke Badan Pengawas MA
Benny Harman Demokrat...
Benny Harman Demokrat Endus Potensi Rekayasa Konstitusi RUU Pemilu: Ada Bahaya yang Mengintai
Ponpes Tambakberas Jadi...
Ponpes Tambakberas Jadi Tuan Rumah Muktamar ke-35 NU, Gus Mashum Faqih: Panggilan Para Muassis NU
Infografis
10 Negara dengan Cadangan...
10 Negara dengan Cadangan Emas Terbesar Dunia, AS Masih Teratas
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved